Minggu, 28 Agustus 2011

10 Tanda kebangkitan Spiritual - 10 Signs of a Spiritual Awakening. !

Apakah anda merasa sedang diambang kebangkitan spiritual ?

secara umum, ada 10 tanda walaupun tetap masih ada ratusan tanda2 lain karena setiap individu berbeda dan unik.

10 Tanda2 tsb adalah sbb:

1. Pola waktu tidur berubah, tidak perlu khawatir karena tubuh akan menyesuaikan diri dengan perubahan waktu tsb.

2. Terasa ada gejala aktifitas disekitar bagian kepala bagian atas, seperti rasa kesemutan dan merasa seperti ada tekanan-tekanan, ini merupakan tanda terbukanya chakra mahkota yang sudah siap menerima energi ilahi atau inspirasi-inspirasi baru.

3. Ada gejolak/gelombang emosi, seperti menangis, sedih, marah dlsb tanpa ada alasan yg jelas, ini merupakan pelepasan energi emosional yang terblokir yang berasal dari chakra jantung.

4. Munculnya ingatan akan masa-masa lalu (past life) dan merasa terasing dengan keadaan/kondisi saat ini, untuk itu, jangan menganalisa kondisi seperti ini secara berlebihan, terima dan hadapi lalu kemudian lepaskan! ini adalah proses pembersihan dan kita akan mampu menatap masa depan dan melihat jauh kedepan mengenai masalah2 yg dihadapi, untuk itu, kita tidak akan pernah tersesat.

5. Terjadinya perubahan fisik tubuh, jangan panik! atau merasa sedih jika tubuh kehilangan berat badan atau terjadi perubahan, ini tandanya sudah terjadi perubahan fisik dan spirit dan menandakan vibrasi tubuh sedang meningkat.

6. Kemampuan sensitifitas ke 5 indera meningkat, suatu saat kita mungkin akan merasa seolah2 nama kita dipanggil atau kita merasa jika ada seseorang sedang mengingat kita, mungkin juga kita mampu melihat cahaya, bayangan atau suara2 disekitar object2 tertentu. itu tandanya semua ke 5 indera kita sudah disesuaikan dan saatnya indera ke 6 akan dibuka, cahaya, bayangan atau suara2 tsb akan menuntun kita, dan sebaiknya ucapkan terima kasih kepada mereka, kita tidak boleh lupa diri dan pergunakanlah dengan rasa tanggung jawab.

7. Mampu melihat "Dunia" secara keseluruhan dengan cara pandang dan pemahaman yang berbeda,

8. Muncul rasa kasih sayang dan cinta terhadap semua mahluk dengan perasaan damai dan nyaman dan percaya terhadap kebaikan semua mahluk.

9. Ada keinginan untuk melepaskan diri dari kebiasaan-kebiasaan lama yang terasa sangat mengikat dan membebani.. Lakukanlah!! . hapus dan buang kebiasaan2 tsb dan ganti dengan yang baru, ubahlah dan bebaskan diri.

10. Sinkronisasi meningkat dan kita menyadari bahwa kita sudah -on the right track- mengenai visi dan misi, tidak ada yang kebetulan yang terjadi dengan apa yang kita alami, kita rasakan dan kita lihat

      ** ..untuk diketahui.. kita tidak sendiri dalam kebangkitan kesadaran spiritual ini **

* Translated and taken from " Escape the Illusion" *

Beruang.

Suatu ketika, seekor beruang menunggu seharian dengan sabar di tepi sungai...
Akhirnya, ia menangkap seekor ikan kecil.

Ikan itu berkata :
"Aku terlalu kecil bahkan untuk sekedar memenuhi sela sela gigimu. Mohon kembalikan aku ke sungai. Setelah beberapa tahun, aku akan tumbuh menjadi ikan besar, lalu kamu bisa memakanku ketika aku sedang paling memuaskan seleramu."

Beruang menjawab :
"Tahukah kamu, mengapa aku bisa tumbuh sebesar dan sekuat ini?
Karena aku tak pernah menyerah, sekecil apapun rezeki yang sudah ada ditanganku untuk ditukar dengan tangkapan yang belum jelas"

note : kebanyakan orang melekati masa lalu, menanti masa depan dan tidak merangkul masa kini.
Hanya mereka yang mampu menghargai apa yang mereka miliki saat kinilah yang hidup sepenuhnya

Rubah dan anggur.

Suatu ketika, ada seekor rubah melihat kebun aunggur yang penuh dengan anggur yang ranum sekali.

Namun ia terlalu gemuk untuk menerobos pagar. Jadi ia berpuasa selama tiga hari tiga malam untuk merampingkan diri.

Dan akhirnya dia bisa menerobos pagar juga. Di dalam dia memakan buah anggur dengan lahap sampai kenyang.

Namun, saat waktunya pulang, badannya sudah jadi gemuk kembali dan ia tak bisa melalui sela sela pagar lagi.

Jadi ia mengulangi siasat lamanya lagi. Ia tidak makan selama tiga hari tiga malam. Akhirnya ia keluar juga, tapi perutnya lapar seperti sebelumnya.

*Bukankah hidup ini begitu juga...? kita lahir telanjang dan tak membawa apa apa ketika mati. Hanya perbuatan baik yang memberi manfaat bagi kemanusiaanlah yang layak dipuji setelah seseorang mati. Kita tak dapat membawa serta ketenaran atau kekayaan yang merupakan hasil pengejaran seumur hidup kita...

Inipun akan berlalu



Seorang petani kaya mati meninggalkan kedua putranya. Sepeninggal ayahnya, kedua putra ini hidup bersama dalam satu rumah. Sampai suatu hari mereka bertengkar dan memutuskan untuk berpisah dan membagi dua harta warisan ayahnya. Setelah harta terbagi, masih tertingal satu kotak yang selama ini disembunyikan oleh ayah mereka.

Mereka membuka kotak itu dan menemukan dua buah cincin di dalamnya, yang satu terbuat dari emas bertahtakan berlian dan yang satu terbuat dari perunggu murah. Melihat cincin berlian itu, timbullah keserakahan sang kakak, dia menjelaskan, “Kurasa cincin ini bukan milik ayah, namun warisan turun-temurun dari nenek moyang kita. Oleh karena itu, kita harus menjaganya untuk anak-cucu kita. Sebagai saudara tua, aku akan menyimpan yang emas dan kamu simpan yang perunggu.”

Sang adik tersenyum dan berkata, “Baiklah, ambil saja yang emas, aku ambil yang perunggu.” Keduanya mengenakan cincin tersebut di jari masing-masing dan berpisah. Sang adik merenung, “Tidak aneh kalau ayah menyimpan cincin berlian yang mahal itu, tetapi kenapa ayah menyimpan cincin perunggu murahan ini?” Dia mencermati cincinnya dan menemukan sebuah kalimat terukir di cincin itu: INI PUN AKAN BERLALU. “Oh, rupanya ini mantra ayah…,” gumamnya sembari kembali mengenakan cincin tersebut.
Kakak-beradik tersebut mengalami jatuh-bangunnya kehidupan. Ketika panen berhasil, sang kakak berpesta-pora, bermabuk-mabukan, lupa daratan. Ketika panen gagal, dia menderita tekanan batin, tekanan darah tinggi, hutang sana-sini. Demikian terjadi dari waktu ke waktu, sampai akhirnya dia kehilangan keseimbangan batinnya, sulit tidur, dan mulai memakai obat-obatan penenang. Akhirnya dia terpaksa menjual cincin berliannya untuk membeli obat-obatan yang membuatnya ketagihan.

Sementara itu, ketika panen berhasil sang adik mensyukurinya, tetapi dia teringatkan oleh cincinnya: INI PUN AKAN BERLALU. Jadi dia pun tidak menjadi sombong dan lupa daratan. Ketika panen gagal, dia juga ingat bahwa: INI PUN AKAN BERLALU, jadi ia pun tidak larut dalam kesedihan. Hidupnya tetap saja naik-turun, kadang berhasil, kadang gagal dalam segala hal, namun dia tahu bahwa tiada yang kekal adanya. Semua yang datang, hanya akan berlalu. Dia tidak pernah kehilangan keseimbangan batinnya, dia hidup tenteram, hidup seimbang, hidup bahagia.

inilah hidup sebagai manusia seperti rumput di padang yang mati dan berganti setiap waktu. Relasi bisa datang dan pergi tanpa pernah bisa berhenti. Kemanusiaan yang terbatasi oleh banyak hal. semuanya pasti akan berlalu. ada waktu untuk mencintai. ada waktunya.
Flash84 is offline  

Setiap orang itu unik



Bila aku adalah bunga randa tapak...

Aku akan menikmati kehidupan yang tenang..

Ketika saatnya mekar, aku akan mekar...

Kala tiba waktunya untuk menebar benih, aku akan menebar benih...

Aku tak akan memperdulikan pohon raksasa nan gagah berumur ribuan tahun disampingku...

Karena aku adalah bunga dan ia adalah pohon,

Ia adalah ia, aku adalah aku,

Aku bukanlah ia

Bekerjalah saat kau bekerja, bermainlah saat kau bermain



Suatu ketika, ada seekor keledai yang bekerja di penggilingan beras. Hari demi hari, ia berjalan melingkar.

Suatu hari, ia sudah terlalu tua untuk menarik batu penggiling

"Kamu sudah bekerja sepanjang hidupmu. Sekarang kamu sudah tua dan sebaiknya pensiun"

"Mulai sekarang kamu akan makan rumput segar, tidur panjang, dan menghirup udara segar"

Akan tetapi, si keledai tidak dapat menjalani hidup seperti ini. Ia tetap berjalan memutari pohon, hari demi hari.

note : Tidakkah anda menertawakan kebodohan si keledai? mungkin suatu hari, anda bisa saja menjadi salah satu seperti keledai yang bodoh ini.

Menangis.

Terdapatlah seorang wanita tua yang disebut dengan "Tukang ramal yang menangis". Ia menangis jika hujan turun, ia menangis jika hujan tak turun

Satu hari seseorang bertanya padanya : "Nek apa yang nenek sedihkan?"

"saya punya dua orang anak perempuan. Yang sulung menjual sepatu, yang muda menjual payung"

"Jika cuaca baik, saya sedih memikirkan anak perempuan yang menjual payung. Payungnya pasti tidak laku"

"Jika hujan turun, yang sulung pasti gagal menjual sepatu. Orang tak akan ke toko sepatu jika hujan turun. Sedih aku"

Kemudian orang tersebut berkata "Jika cuaca baik, putri sulung nenek akan berhasil menjual sepatunya, dan jika turun hujan, payung putri nenek yang satunya pasti laku"

"eh, benar begitu?"

Sejak saat itu, "Tukang ramal yang menangis" tidak lagi menangis, ia tersenyum terus hari hujan atau panas

note : mendekati hati adalah mendekati kebuddhaan, apakah sesuatu itu menyenangkan atau tidak, tergantung dari sisi mana kita memandangnya

Hiu kecil


 Untuk masakan Jepang, kita tahu bahwa ikan salmon akan lebih enak utk dinikmati jika ikan tsb masih dalam keadaan hidup saat hendak diolah utk disajikan.
 Jauh lebih nikmat dibandingkan dgn ikan salmon yg sdh diawetkan dgn es.

 Itu sebabnya para nelayan selalu mmasukkan salmon tangkapannya ke suatu kolam buatan agar dlm perjalanan menuju daratan salmon2 tsb tetap hidup.

 Meski demikian pada kenyataannya byk salmon yg mati di kolam buatan tsb.

 Bagaimana cara mereka menyiasatinya?
 Para nelayan itu memasukkan seekor hiu kecil dikolam tsb.
 Ajaib !! Hiu kecil tsb ?memaksa? salmon2 itu terus bergerak agar jgn sampai dimangsa.
 Akibatnya jumlah salmon yg mati justru menjadi sangat sedikit !!

 Diam membuat kita mati ! Bergerak membuat kita hidup !
 Barangkali kurang lebih itulah pesan moral yg dpt kita tangkap dari gambaran diatas.

 Apa yg membuat kita diam?
 Saat tdk ada masalah dlm hidup dan saat kita berada dlm zona nyaman.

 Situasi seperti ini kerap membuat kita terlena. Begitu terlenanya sehingga kita tdk sadar bahwa kita telah mati.
 Ironis, bukan?

 Apa yg membuat kita bergerak?
 Masalah, Pergumulan dan Tekanan Hidup.
 Saat masalah datang secara otomatis naluri kita membuat kita bergerak aktif dan berusaha mengatasi semua pergumulan hidup itu

 Disaat saat seperti itu biasanya kita akan ingat Tuhan dan berharap kpd Tuhan. Tdk hanya itu, kita menjadi kreatif, dan potensi diri kitapun menjadi berkembang luar biasa !!

 Ingatlah bahwa kita akan bisa belajar byk dlm hidup ini bukan pada saat keadaan nyaman, tapi justru pada saat kita menghadapi badai hidup.

 Itu sebabnya syukurilah ?hiu kecil? yg terus memaksa kita utk bergerak dan tetap survive !

 Masalah hidup adalah baik, karena itulah yg membuat kita terus bergerak?

Cerita Zen - DIALOG PERDAGANGAN UNTUK MENGINAP


Asalkan memajukan dan memenangkan sebuah argumentasi tentang agama Buddha dengan orang-orang yang tinggal di sana, seorang bhikshu kelana boleh menginap di sebuah vihara Zen. Jika kalah, ia harus pergi dan melanjutkan perjalanan.

 Di sebuah vihara di belahan utara Jepang, tinggallah dua orang bhikshu. Yang lebih tua adalah seorang terpelajar, sedangkan yang lebih muda adalah orang bodoh dan hanya mempunyai sebuah mata.

 Seorang bhikshu datang dan memohon untuk menginap. Sebagaimana biasanya, ia menantang mereka untuk berdebat tentang ajaran yang tertinggi. Saudara yang lebih tua, karena keletihan belajar sepanjang hari itu, meminta saudara mudanya untuk menggantikannya. "Pergilah dan hadapi dialognya dengan tenang," ia memperingatkan.

 Demikianlah, bhikshu muda dan orang asing itu pergi ke altar dan duduk. Tidak lama kemudian, pendatang itu bangkit dan menghampiri saudara tua dan berkata, "Saudara muda anda adalah seorang yang mengagumkan. Ia mengalahkan aku." "Ceritakan dialog itu kepadaku," kata saudara yang tua.

 "Baiklah", jelas si pendatang, "Pertama-tama, saya mengacungkan sebuah jari, melambangkan Buddha, Ia yang mencapai Pencerahan. Ia pun mengacungkan dua jari, melambangkan Buddha beserta ajaran Beliau. Saya mengacungkan tiga jari, melambangkan Buddha, ajaran, dan pengikut Beliau, yang hidup dalam keharmonisan. Kemudian, ia melayangkan kepalan tinjunya ke wajah saya, menunjukkan bahwa ketiga-tiganya berasal dari kebijaksanaan. Demikianlah dia menang dan saya tidak berhak untuk menetap." Setelah itu, si pendatang pun pergi.

 "Kemanakah rekan itu?" tanya saudara muda, berlari menjumpai saudara tuanya.
 "Saya tahu anda memenangkan perdebatan tadi."
 "Menang apa! Saya ingin memukulnya."
 "Ceritakanlah tentang perdebatan tadi," pinta saudara tua itu.

 "Mengapa, begitu melihat saya, ia mengacungkan satu jari, menghina saya dengan menyindir bahwa saya hanya mempunyai sebuah mata. Oleh karena ia adalah pendatang, saya kira saya harus bertindak sopan terhadapnya, sehingga saya mengacungkan dua jari, bersyukur baginya karena mempunyai dua mata. Kemudian, bedebah yang tidak sopan itu mengacungkan tiga jari, menyiratkan bahwa di antara kita berdua hanya ada tiga bola mata. Oleh karenanya, saya marah dan mulai meninjunya, tetapi ia berlari keluar dan perdebatan itu pun berakhir."

Buddha dan Putri Magandiya


 Suatu saat ayah Magandiya, karena sangat tertarik dengan kepribadian dan penampilan Sang Buddha, telah mempersembahkan anak perempuannya yang sangat cantik untuk dijadikan istri Sang Buddha Gotama. Tetapi Sang Buddha menolak persembahan itu dan berkata bahwa Beliau tidak akan mau menyentuh hal itu yang penuh dengan kotoran, sekalipun dengan kakinya. Ketika mendengar kata-kata ini kedua ayah dan ibu Magandiya melihat kebenaran dalam kata-kata tersebut dan mencapai tingkat kesucian anagami. Tetapi Magandiya menganggap Sang Buddha sebagai musuh dan bertekad untuk membalas dendam kepada Beliau.

 Kemudian ia menjadi salah satu dari tiga istri Raja Udena. Ketika Magandiya mendengar kabar bahwa Sang Buddha telah datang ke Kosambi, ia menyewa beberapa penduduk dan pelayan-pelayannya untuk mencaci maki Sang Buddha saat Beliau memasuki kota untuk berpindapatta. Orang-orang sewaan tersebut mengikuti Sang Buddha dan mencaci maki dengan menggunakan kata-kata yang sedemikian kasar seperti `pencuri, bodoh, unta, keledai, suatu ikatan ke neraka`, dan sebagainya. Mendengar kata-kata yang kasar tersebut, Y.A.Ananda memohon kepada Sang Buddha untuk meninggalkan kota dan pergi ke tempat lain.


 Tetapi Sang Buddha menolak dan berkata, "Di kota lain, kita juga mungkin dicaci maki dan tidak mungkin untuk selalu berpindah tempat setiap kali seseorang dicaci maki. Lebih baik menyelesaikan masalah di tempat terjadinya masalah. Saya seperti seekor gajah yang menahan panah-panah yang datang dari semua penjuru. Saya juga akan menahan dengan sabar caci maki yang datang dari orang-orang yang tidak memiliki moral."

 Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 320,321,dan 322 berikut ini :

 "Aham nagova sangame
 capato patitam saram
 ativakyam titikkhissam
 dussilo hi bahujjano.

 Dantam nayanti samitim
 dantam raja` bhiruhati
 danto settho manussesu
 yo` tivakyam titikkhati.

 Varamassatara danta
 ajaniya ca sindhava
 kunjara ca mahanaga
 attadanto tato varam."

 Seperti seekor gajah di medan perang
 dapat menahan serangan panah
 yang dilepaskan dari busur,
 begitu pula Aku (Tathagata)
 tetap bersabar terhadap cacian;
 sesungguhnya, sebagian besar orang
 mempunyai kelakuan rendah.

 Mereka menuntun gajah yang telah terlatih
 ke hadapan orang banyak.
 Raja mengendarai gajah yang terlatih ke medan perang.
 Di antara umat manusia, maka yang terbaik adalah
 orang yang dapat menaklukkan dirinya sendiri
 dan dapat bersabar terhadap cacian.

 Sungguh baik keledai-keledai yang terlatih,
 begitu juga kuda-kuda Sindhu
 dan gajah-gajah perang milik para bangsawan;
 tetapi yang jauh lebih baik dari semua itu
 adalah orang yang telah dapat menaklukkan dirinya sendiri.

 Pada akhir khotbah Dhamma tersebut, mereka yang telah mencaci maki Sang Buddha menyadari kesalahannya yang datang untuk menghormat Beliau, beberapa di antara mereka mencapai tingkat kesucian sotapatti.


 yang bisa di petik ialah:
 "Aham nagova sangame
 capato patitam saram
 ativakyam titikkhissam
 dussilo hi bahujjano.

 Dantam nayanti samitim
 dantam raja` bhiruhati
 danto settho manussesu
 yo` tivakyam titikkhati.

 Varamassatara danta
 ajaniya ca sindhava
 kunjara ca mahanaga
 attadanto tato varam."

 Seperti seekor gajah di medan perang
 dapat menahan serangan panah
 yang dilepaskan dari busur,
 begitu pula Aku (Tathagata)
 tetap bersabar terhadap cacian;
 sesungguhnya, sebagian besar orang
 mempunyai kelakuan rendah.

 Mereka menuntun gajah yang telah terlatih
 ke hadapan orang banyak.
 Raja mengendarai gajah yang terlatih ke medan perang.
 Di antara umat manusia, maka yang terbaik adalah
 orang yang dapat menaklukkan dirinya sendiri
 dan dapat bersabar terhadap cacian.

 Sungguh baik keledai-keledai yang terlatih,
 begitu juga kuda-kuda Sindhu
 dan gajah-gajah perang milik para bangsawan;
 tetapi yang jauh lebih baik dari semua itu
 adalah orang yang telah dapat menaklukkan dirinya sendiri.

Beda lidah dengan gigi.

Salah satu orang yang paling berhikmat di negeri China adalah Lao Zi. Namun Lao Zi juga belajar banyak dari gurunya yang memiliki hikmat sangat tinggi. Nama gurunya adalah Shang Rong. Shang Rong mempunyai pemikiran yang sangat brilian dan dalam. Ia juga mempunyai cara mengajar yang dikagumi oleh Lao Zi, karena itu ia merasa gurunya yang membuatnya sangat berhikmat.

 Pada suatu hari, dalam usia yang sangat lanjut, Shang Rong sakit parah. Demi mendengar guru yang sangat dikasihani dan dikaguminya sakit. Lao Zi meninggalkan pekerjaannya dan pergi membesuk Shang Rong. Saat itu Lao Zi sangat kuatir dengan gurunya tidak akan bisa bangun lagi. Karena itu, dia bertanya kepada Shang Rong, “Apakah ada yang bisa saya bantu dan apakah ada pesan-pesan yang sangat penting?”

 Dengan suara yang masih bisa didengar dengan jelas, Shang Rong berkata, “Jika kamu pergi dan melewati sebuah desa tua, kamu haru turun di sana.”

 Lao Zi agak heran dan bertanya, “Apakah itu berarti saya tidak boleh menjadi orang yang lupa akan desa tua atau kampong halaman?”

 Shang Rong menggelengkan kepalanya lalu berkata, “Jika kamu melewati pohon tua yang tinggi besar, harus berlari dengan langkah kecil!”

 Lao Zi menjawab, “Apakah maksudmu yang penting adalah orang muda harus menghormati orang yang tua?”

 Sambil tersenyum Shang Rong menggelengkan kepalanya lagi. Setelah itu mereka berdua diam sejenak. Shang Rong memikirkan sesuatu untuk dikatakan, sementara Lao Zi memikirkan apa maksud gurunya.

 Tidak berapa lama kemudian Shang Rong membuka mulutnya lalu bertanya, “Apakah lidah saya masih ada?”

 Lao Zi menganggukkan kepalanya dan menjawab, “Masih ada!”

 Lalu Shang Rong melanjutkan pertanyaannya, “Apakah gigi saya masih ada?”

 Setelah melihat, Lao Zi menjawab, “Sudah tidak ada satu pun guru yang tertinggal!”

 Shang Rong kembali bertanya, “Apakah kamu tahu apa arti yang hendak saya sampaikan?”
 Setelah berpikir sejenak, Lao Zi menjawab, “Apakah guru ingin menyampaikan bahwa gigi itu keras dan karena itu rontok duluan. Dan, lidah itu lebih lembut dan fleksibel, karena itu umumnya lebih tahan lama daripada gigi?”

 Dengan senyum bangga, Shang Rong memuju muridnya, “Kamu sekarang sudah mengerti rumus penting kehidupan.”

Meramal masa depan

 Dikutip dari buku Membuka Pintu Hati


 Banyak orang yang ingin mengetahui masa depan. Sebagian orang begitu tak sabarnya menanti apa yang akan terjadi, karena itu mereka mulai mencari jasa dukun dan peramal. Saya punya peringatan bagi Anda mengenai para peramal: jangan percaya pada peramal yang miskin!

 Para bhikkhu yang berlatih meditasi dianggap sebagai peramal yang hebat, tetapi biasanya mereka tidak gampang diajak bekerja sama.

 Suatu hari, seorang umat yang telah lama menjadi murid Ajahn Chah meminta sang guru besar untuk meramal masa depannya. Ajahn Chah menolak: bhikkhu yang baik tidak ramal- meramal. Tetapi si murid bersikukuh. Dia mengingatkan Ajahn Chah berapa kali dia sudah berdana makanan, berapa banyak dana yang telah dia sumbangkan untuk viharanya, dan bagaimana dia menyopiri Ajahn Chah dengan mobil dan biaya darinya, mengabaikan keluarga dan pekerjaannya sendiri. Ajahn Chah melihat bahwa orang itu terus bersikeras meminta untuk diramal, jadi dia berkata untuk sekali ini saja dia akan membuat perkecualian terhadap peraturan bahwa bhikkhu tidak boleh meramal. "Mana tanganmu. Sini kulihat telapak tanganmu."

 Si murid sangat senang. Ajahn Chah belum pernah membaca telapak tangan murid lainnya. Ini spesial. Lagi pula, Ajahn Chah dianggap sebagai orang suci yang punya kemampuan batin yang hebat. Apa pun yang dikatakan oleh Ajahn Chah akan terjadi, pasti akan terjadi.

 Ajahn Chah menelusuri garis-garis telapak tangan si murid dengan jarinya. Setiap beberapa saat, dia bicara sendiri, "Ooh, ini menarik" atau "Ya, ya, ya" atau "Luar biasa". Si murid yang malang itu risau dalam penantian.

 Ketika Ajahn Chah selesai, dia melepaskan tangan si murid dan berkata kepadanya, "Murid, berikut ini adalah keadaan masa depanmu."

 "Ya, ya," kata si murid dengan cepat.

 "Dan saya tak pernah salah," tambah Ajahn Chah.

 "Saya tahu, saya tahu. Jadi, bagaimana nasib masa depan saya?" tanya si murid dengan penasaran memuncak.

 "Masa depanmu akan tak pasti," kata Ajahn Chah. Dan dia tidak salah!

Jumat, 26 Agustus 2011

Perselisihan.

Dikutip dari Talmud Babilonia, Bava Mezia 84a

Suatu hari, Resh Lakhis, seorang laki-laki muda yang dulunya adalah seorang gladiator dan bandit, melihat Rabi Yochanan, seorang ahli agama terkemuka saat itu, sedang mandi disungai Yordan.
Gladiator muda itupun melompat ke kolam dan mereka mulai berbincang-bincang. Terkesan dengan penampilan fisik Resh Lakhis dan kecerdasannya, Rabi Yochanan berkata kepadanya: KEKUATAN SEPERTI YANG ANDA MILIKI SEHARUSNYA DIABDIKAN UNTUK TAURAT. Resh Lakhis balas berkata: TUBUH SEPERTI ANDA SEHARUSNYA DIPERSEMBAHKAN KEPADA PEREMPUAN. Ia mengucapkan kata-kata tersebut karena Rabi Yochanan adlah seorang laki-laki yang tampan.
JIKA ANDA MAU BERTOBAT, SAYA AKAN MENGATUR AGAR ANDA MENIKAHI SAUDARA PEREMPUAN SAYA. PENAMPILANNYA LEBIH MENARIK DARIPADA KU. Jawab Rabi Yochanan.
Ketika Resh Lakhis setuju, Rabi Yochanan pun mengatur pernikahan itu. ia juga menjadi pengajar Resh Lakhis. Dalam beberapa tahun, mantan gladiator dan bandit itu menjadi salah seorang ahli agama terkemuka.
Beberapa waktu kemudian, terjadi perdebatan dalam sekolah Rabi Yochanan. Pokok perdebatan tersebut menyangkut hal yang pada dasarnya bersifat teknis. Fokus pembicaraan mereka berkisar seputar proses produksi ketika bermacam-macam benda menjadi rentan terhadap kenajisan.
Rabi Yochanan berpendapat bahwa benda-benda yang terbuat dari besi, seperti pedang, pisau, maupun belati, dianggap telah sepenuhnya utuh sebagai suatu benda hanya ketika pandai besi menempa benda-benda itu di pembakaran. Oleh karena itu rentan terhadap kenajisan. Resh Lakhis tidak setuju terhadap pendapat sang Rabi, ia berpendapat bahwa barang-barang tersebut baru dapat dinilai secara lengkap pada saat pandai besi memasukkannya ke air dingin.

Tidak senang karena dibantah di muka umum, Rabi Yochanan berkata dengan kasar: SEORANG PERAMPOK MENGERTI DENGAN BAIK YANG MENJADI URUSANNYA.
Terkejut dengan tanggapan Yochanan yang mengungkit masa lalunya, Resh Lakhis berkata: HAL BAIK APA YANG TELAH ANDA LAKUKAN TERHADAP SAYA DENGAN MEMBUJUK SAYA UNTUK MENINGGALKAN HIDUP SEBAGAI SEORANG BANDIT? DIANTARA PARA GLADIATOR SAYA DIPANGGIL “g u r u”, DISINI-PUN SAYA DIPANGGIL “g u r u”.
HAL BAIK APA YANG AKU LAKUKAN KEPADAMU! Kata Yochanan tetap dengan amarah. ANDA TELAH DIBAWA KE BAWAH LINDUNGAN SAYAP TUHAN!

Setelah peristiwa tersebut, Resh Lakhis sakit parah. Para rabi yakin bahwa ini terjadi karena ia telah menyinggung perasaan Rabi Yochanan.
Istri Resh Lakhis yang adalah saudara perempuan Rabi Yochanan, meminta kakaknya untuk mendoakan kesembuhan suaminya, tetapi Yochanan menolak.
JIKA TIDAK BERDOA UNTUK SUAMI SAYA, BERDOALAH UNTUK ANAK-ANAK SAYA AGAR MEREKA TIDAK MENJADI PIATU!

SAYA AKAN MERAWAT ANAK-ANAKMU, JIKA SUAMIMU MENINGGAL, ujar Yochanan.
BERDOALAH AGAR SAYA TIDAK MENJADI JANDA, pinta saudara perempuannya itu.

SAYA AKAN MEMBIAYAI HIDUPMU, JIKA SUAMIMU MENINGGAL, ujar Rabi Yochanan.

Tidak lama kemudian, Resh Lakhis meninggal. Rabi Yochanan pun mengalami depresi. Para rabi meminta Elazar ben Pedat, seorang sarjana agama yang cerdas yang pernah mereka temui, untuk belajar pada Rabi Yochanan. Mereka berharap agar pemuda yang cerdas itu bisa menghibur Rabi Yochanan dari kesedihannya.



Rabi Elazar ben Pedat duduk di sebelah Rabi Yochanan. Setiap kali Rabi Yochanan meyatakan pendapatnya, si rabi muda akan berkata: SAYA TAHU SUMBER LAIN YANG MENDUKUNG PENDAPAT ANDA.

Rabi Yochanan akhirnya berkata kepada si rabi muda, APAKAH KAMU BERMAKSUD MENYAMAKAN DIRI DENGAN RESH LAKHIS? SETIAP KALI SAYA MENYATAKAN PENDAPAT SAYA, RESH LAKHIS AKAN MENGEMUKAKAN 24 KEBERATANNYA MENGENAI APA YANG SAYA KATAKAN. IA MEMAKSA SAYA UNTUK MEMBERI ALASAN ATAS SETIAP PERATURAN YANG SAYA SAMPAIKAN SEHINGGA PADA AKHIRNYA PERSOALAN MENJADI SUNGGUH-SUNGGUH JELAS. NAMUN YANG KAMU LAKUKAN ADALAH MENGATAKAN KEPADA SAYA BAHWA KAMU TAHU SUMBER LAIN YANG MENDUKUNG PANDAPAT SAYA. BUKANKAH SAYA SENDIRI TAHU APA YANG SAYA KATAKAN BENAR?


Rabi Yochanan menjauhi pemuda itu ,mengoyak pakaiannya dan mengejutkan banyak orang dengan berteriak: DIMANA KAMU, LAKHIS, PUTERAKU! Ia berteriak berulang-ulang dengan suara keras.
Akhirnya Rabi Yochanan kehilangan kesadarannya. Para rabi berdoa kepada Tuhan untuk mengampuninya, segera setelah itu iapun meninggal.


Pesan:
Perselisihan antara Rabi Yochanan dan Resh Lakhis sungguh merupakan salah satu cerita yang menyedihkan. Dua sahabat akrab bertengkar dan slah satunya meninggal sebelum mereka berdamai.
Sahabat yang masih hidup sangat sedih sehingga hanya kematianlah yang dapat menghilangkan kesedihan itu.
Faktor yang mungkin memperparah rasa sedih tersebut adalah bahwa perselisihan yang berakhir dengan kematian itu terjadi hanya karena masalah sepele.Pelajaran penting dari kisah ini, berguna bagi siapapun. Bahwa betapapun marahnya Anda selama perdebatan atau pertengkaran, tetaplah fokus pada pokok permasalahan.Jangan pernah menggunakan informasi pribadi yang melukai untuk mematahkan pernyataan lawan debat Anda. Ketidak snggupan untuk melaksanakan aturan sederhana inilah yang mengubah begitu banyak pertengkaran yang relatif biasa saja menjadi perselisihan penuh amarah, yang sering menyebabkan putusnya hubungan antar teman atau anggota keluarga dekat.
Kebencian membuat sebuah garis lurus menjadi bengkok, ketika seseorang marah, pikiran mereka “BENGKOK”
Tiba-tiba, seseorang yang biasanya baik dan bertanggung jawab, seperti Rabi Yochanan, dapat mengucapkan hal-hal yang mengerikan. Karena ia tidak mendapatkan argumen lagi untuk mengalahkan Resh Lakhis, Rabi Yochanan memanfaatkan sesuatu yang sangat personal.Bagaimana mungkin orang memilih penjelasan Resh Lakhis daripada penjelasannya, atas dasar fakta bahwa Resh Lakhis adalah seorang mantan Gladiator dan pencuri? Pikir Rabi Yochanan.

Perhatikan ini:
Satu jam sebelum pertengkaran, coabalah Anda meminta Rabi Yochanan untuk menyebutkan nama murid terbaik dan teman terdekatnya, ia pun tanpa ragu-ragu akan menyebut RESH LAKHIS.Namun sekarang, setelah pertengkaran tersebut, sekalipun Resh Lakhis sudah sekarat, Yochanan tetap tidak memperlunak sikapnya.
“SAYA AKAN MERAWAT ANAK-ANAKMU YANG YATIM”, ia meyakinkan saudara perempuannya. “SAYA AKAN MENANGGUNG BIAYA HIDUPMU JIKA ENGKAU MENJADI JANDA”
Jaminan ini sungguh tidak relevan! Saudara perempuan Rabi Yochanan tidak datang kepadanya karena khawatir mengenai kondisi perekonomian keluarganya. Sesungguhnya ia berharap agar kedua laki-laki terpenting dalam hidupnya, yaitu saudara laki-laki dan suaminya mau BERDAMAI.Ia semestinya telah berpikir; jika Yochanan mengunjungi suaminya sekarang, mungkin ia akan segera sembuh. Namun, karena Rabi Yochanan tidak memperlembut hatinya, kedua laki-laki itu berada dalam kutukan.
Setiap tahun, puluhan ribu keluarga tercerai-berai, persahabatan hancur, karena pihak-pihak yang bertikai tidak bertengkar secara proporsional.


Ketika bertengkar dengan seseorang, Anda memiliki hak untuk mengungkapkan masalah, mengemukakan pendapat, menjelaskan mengapa Anda berpikir bahwa orang lain salah, bahkan menjelaskan apa yang Anda rasakan mengenai permasalahannya.
Namun hanya inilah hak yang Anda miliki. Anda tidak memiliki hak moral untuk memojokkan posisi lawan dengan menyangkut-pautkannya dengan msalah pribadi.


Mengangkat informasi tentang masa lalu seseorang, yang Anda ketahu dengan sangat baik karena hubungan akrab sebelumnya, sangatlah tidak etis. Terlebih jika Anda menggunakan informasi itu untuk menyerangnya.Namun banyak orang sering melakukan hal tersebut, lalu marah ketika orang lain memutuskan hubungan atau menyerang balik dengan komentar yang sama.Kata-kata membawa konsekwensi tertentu. Jika Anda menggunakannya untuk melukai seseorang, korban Anda akan mencari cara untuk membalas menyakiti Anda.


Hal inilah yang terjadi antara Rabi Yochanan dan Resh Lakhis.


“Belajar beradu kata secara etis dan santun adalah sebuah cara untuk menghidari kepahitan hidup semacam itu.”

Uang dan Batu

Seorang pekerja pada proyek bangunan memanjat ke atas tembok yang sangat tinggi. Pada suatu saat ia harus menyampaikan pesan penting kepada teman kerjanya yang ada di bawahnya.



Pekerja itu berteriak-teriak tetapi temannya tidak bisa mendengarnya karena suara bising dari mesin-mesin dan orang-orang yang bekerja, sehingga usahanya sia-sia saja.



Oleh karena itu untuk menarik perhatian orang yang ada dibawahnya, ia mencoba melemparkan uang logam di depan temannya. Temannya berhenti bekerja, mengambil uang itu lalu bekerja kembali. Pekerja itu mencoba lagi, tetapi usahanya yang kedua pun memperoleh hasil yang sama.



Tiba-tiba ia mendapat ide. Ia mengambil batu kecil lalu melemparkannya ke arah orang itu. Batu itu tepat mengenai kepala temannya, dan karena merasa sakit temannya menengadah ke atas. Sekarang pekerja itu dapat menjatuhkan catatan yang berisi pesannya.



Tuhan kadang-kadang menggunakan pengalaman-pengalaman yang menyakitkan untuk membuat kita menengadah kepada-Nya. Seringkali Tuhan memberi berkat, tetapi itu tidak cukup untuk membuat kita menengadah kepada-Nya. Karena itu memang lebih tepat jika Tuhan menjatuhkan "batu" kepada kita.

Kamis, 25 Agustus 2011

7 lapisan langit dan kaitannya dengan dimensi


7 lapisan langit dan kaitannya dengan dimensi

Sekarang kita bicarakan dari segi ilmu manusia, dan mudah2an ini bisa dipahami… karena gw sendiri berkunang2 waktu mempelajari dan membacanya..he..

Bila membaca sejarah Isra’ Mi’raj nabi, kemungkinan yang dimaksud 7 lapisan langit di sini bukan berarti langit tersebut menumpuk secara berlapis-lapis seperti kue lapis, tapi ketujuh lapisan tersebut semakin meningkat kedudukannya sesuai dengan bertambah tingkat dimensinya.

Pertambahan tingkat dimensi ketujuh lapisan langit tersebut hanya bisa digambarkan dengan memproyeksikannya ke langit pertama (dimensi ruang yang dihuni oleh kita) yang berdimensi tiga. Karena hanya ruang berdimensi tiga inilah yang bisa difahami oleh kita. Secara analog, kita bisa membuat perumpamaan sebagai berikut :




Pada gambar 1 tampak bahwa sebuah garis berdimensi 1 tersusun dari titik-titik dalam jumlah tak terbatas. Sama kayak istilah pixel dalam desain grafis, dimana gambar yang tercipta adalah himpunan titik2 yang sangat banyak dan dengan warna yang beragam sehingga membentuk pola tertentu menjadi gambar.  Titik2 ini akan membentuk garis yang kemudian garis-garis tersebut disusun dalam jumlah tak terbatas hingga menjadi sebuah luasan berdimensi 2 (Gambar 2). Dan jika luasan-luasan serupa ini ditumpuk ke atas dalam jumlah yang tak terbatas, maka akan terbentuk sebuah balok (ruang berdimensi 3).

Kesimpulannya adalah sebuah ruang berdimensi tertentu tersusun oleh ruang berdimensi lebih rendah dalam jumlah yang tidak terbatas. Atau dengan kata lain ruang yang berdimensi lebih rendah dalam jumlah yang tidak terbatas akan menyusun menjadi ruang berdimensi yang lebih tinggi. Misalnya, ruang 3 dimensi – dimensi ruang yang sekarang dihuni oleh kita ini – dengan jumlah tak terbatas menyusun menjadi satu ruang berdimensi empat.  Demikian seterusnya sehingga setiap dimensi yang satu dengan yang lain saling berkaitan.

Berdasarkan kesimpulan di atas dapat dijelaskan sebagai berikut:

Langit pertama

Ruang berdimensi 3 yang dihuni oleh makhluk berdimensi 3, yakni manusia, binatang, tumbuhan dan lain-lain yang tinggal di bumi beserta benda-benda angkasa lainnya dalam jumlah yang tak terbatas. Namun hanya satu lapisan ruang berdimensi 3 yang diketahui berpenghuni, dan bersama-sama dengan ruang berdimensi 3 lainnya.  Jadi dimensi 3 adalah dimensi yang sangat kasar dan padat, sehingga dapat diraba dan dilihat dengan kasat mata. Alam semesta kita ini menjadi penyusun langit kedua yang berdimensi 4.  Benarkah demikian? Mari difikirkan bersama kebenarannya..

Langit kedua

Ruang berdimensi 4 yang dihuni oleh bangsa jin beserta makhluk berdimensi 4 lainnya. Sehingga mahluk di dimensi 3 tidak akan bisa melihat mahluk di dimensi 4, tetapi mahluk dimensi 4 kemungkinan bisa melihat mahluk dimensi 3.  Ruang berdimensi 4 ini bersama-sama dengan ruang berdimensi 4 lainnya membentuk langit yang lebih tinggi, yaitu langit ketiga.

Langit ketiga

Ruang berdimensi 5 yang di dalamnya “hidup” arwah dari orang-orang yang sudah meninggal atau mungkin alam kubur.  Mereka juga menempati langit keempat sampai dengan langit keenam tergantung tingkatannya. Dalam perjalanan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad, diceritakan bahwa Rasulullah bertemu dengan nabi2 terdahulu yang berbeda2 disetiap lapisannya.  Langit ketiga ini bersama-sama dengan langit ketiga lainnya menyusun langit keempat dan seterusnya hingga langit ketujuh yang berdimensi 9.

Bisa dibayangkan betapa besarnya langit ketujuh itu. Karena ia adalah jumlah kelipatan tak terbatas dari langit dunia (langit pertama) yang dihuni oleh manusia. Berarti langit dunia kita ini berada dalam struktur langit yang enam lainnya, termasuk langit yang ketujuh ini. Jika alam akhirat, surga dan neraka terdapat di langit ke tujuh, maka bisa dikatakan surga dan neraka itu begitu dekat dengan dunia kita tapi berbeda dimensi.

Seperti disebutkan sebelumnya bahwa langit dunia kita ini merupakan bagian dari struktur langit ketujuh. Berarti alam dunia ini merupakan bagian terkecil dari alam akhirat. Penjelasan ini sesuai dengan hadist Nabi:

“Perbandingan antara alam dunia dan akhirat adalah seperti air samudera, celupkanlah jarimu ke samudera, maka setetes air yang ada di jarimu itu adalah dunia, sedangkan air samudera yang sangat luas adalah akhirat”.

Perumpamaan setetes air samudera di ujung jari tersebut menggambarkan dua hal:

1.Ukuran alam dunia dibandingkan alam akhirat adalah seumpama setetes air di ujung jari dengan keseluruhan air dalam sebuah samudera. Hal ini adalah penggambaran yang luar biasa betapa luasnya alam akhirat itu.

2.Keberadaan alam dunia terhadap alam akhirat yang diibaratkan setetes air berada dalam samudera. Perumpamaan tersebut menunjukkan bahwa alam dunia merupakan bagian dari alam akhirat, hanya ukurannya yang tak terbatas kecilnya. Begitu juga dengan kualitas dan ukuran segala hal, baik itu kebahagiaan, kesengsaraan, rasa sakit, jarak, panas api, dan lain sebagainya, di mana ukuran yang dirasakan di alam dunia hanyalah sedikit sekali.

Berbagai ruang dimensi dan interaksi antar makhluk penghuninya

1. Langit pertama atau langit dunia

Seperti disebutkan pada ayat 11-12 Surat Fushshilat di atas, maka yang disebut langit yang dekat tersebut adalah langit dunia kita ini atau disebut juga alam semesta kita ini. Digambarkan bahwa langit yang dekat itu dihiasi dengan bintang-bintang yang cemerlang, dan memang itulah isi yang utama dari alam semesta. Bintang-bintang membentuk galaksi dan kluster hingga superkluster. Planet-planet sesungguhnya hanyalah pecahan dari bintang-bintang itu. Seperti tata surya kita, matahari adalah sebuah bintang dan sembilan planet yang mengikatinya adalah pecahannya, atau pecahan bintang terdekat lainnya. Sedangkan tokoh utama di langit pertama ini adalah kita manusia yang mendiami bumi, planet anggota tata surya.

Langit pertama ini tidak terbatas namun berhingga. Artinya batasan luasnya tidak diketahui tapi sudah bisa dipastikan ada ujungnya. Diperkirakan diameter alam semesta mencapai 30 miliar tahun cahaya. Artinya jika cahaya dengan kecepatannya 300 ribu km/detik melintas dari ujung yang satu ke ujung lainnya, maka dibutuhkan waktu 30 miliar tahun untuk menempuhnya.



Penjelasan gambar:

Apabila digambarkan bentuknya kira-kira seperti sebuah bola dengan bintik-bintik di permukaannya. Di mana bintik-bintik tersebut adalah bumi dan benda-benda angkasa lainnya. Apabila kita berjalan mengelilingi permukaan bola berkeliling, akhirnya kita akan kembali ke titik yang sama. Permukaan bola tersebut adalah dua dimensi. Sedangkan alam semesta yang sesungguhnya adalah ruang tiga dimensi yang melengkung seperti permukaan balon itu. Jadi penggambarannya sangat sulit sekali sehingga diperumpamakan dengan sisi bola yang dua dimensi agar memudahkan penjelasannya.

2. Langit kedua

Seperti diterangkan sebelumnya bahwa setiap lapisan langit tersusun secara dimensional. Diasumsikan bahwa pertambahan dimensi setiap lapisan adalah 1 dimensi. Jadi apabila langit pertama atau langit dunia kita ini berdimensi 3, maka langit kedua berdimensi 4. Langit kedua ini kemungkinan dihuni oleh makhluk berdimensi 4, yakni bangsa jin.



Penjelasan gambar:

Apabila digambarkan posisi langit kedua terhadap langit pertama adalah seperti gambaran balon pertama tadi. Di mana bagian permukaan bola berdimensi 2 adalah alam dunia kita yang berdimensi 3, sedangkan ruangan di dalam balon yang berdimensi 3 adalah langit kedua berdimensi 4. Jadi apabila kita melintasi alam dunia harus mengikuti lengkungan bola, akibatnya perjalanan dari satu titik ke titik lainnya harus menempuh jarak yang jauh. Sedangkan bagi bangsa jin yang berdimensi 4 mereka bisa dengan mudah mengambil jalan pintas memotong di tengah bola, sehingga jarak tempuh menjadi lebih dekat.

Deskripsi lain adalah seperti gambar berikut:
Bayangkanlah permukaan tembok dan sebuah ruangan yang dikelilingi oleh dinding-dindingnya. Umpamakan ada dua jenis makhluk yang tinggal di sana. Makhluk pertama adalah makhluk bayang-bayang yang hidup di permukaan tembok berdimensi 2. Sedangkan makhluk kedua adalah makhluk balok berdimensi 3. Ingatlah analogi alam berdimensi 3 dengan makhluk manusianya adalah permukaan tembok dan makhluk bayang-bayangnya, sedangkan alam berdimensi 4 dan makhluk jinnya adalah ruangan berdimensi 3 dengan baloknya.

Tampak dengan mudah dilihat bahwa kedua alam berdampingan dan kedua makhluk hidup di alam yang berbeda. Kedua makhluk juga mempunyai dimensi yang berbeda, bayang-bayang berdimensi 2 sedangkan balok berdimensi 3. Makhluk berdimensi 2, yaitu bayang-bayang tidak bisa memasuki ruangan berdimensi 3, dia tetap berada di tembok, sedangkan makhluk berdimensi 3 yakni balok dapat memasuki alam berdimensi 2, yakni tembok. Bagaimanakah caranya balok bisa memasuki dinding yang berdimensi 2?

Balok yang berdimensi 3 memiliki permukaan berdimensi 2 yakni bagian sisi-sisinya. Apabila si balok ingin memasuki alam berdimensi dua, dia cukup menempelkan bagian sisinya yang berdimensi 2 ke permukaan tembok. Bagian sisi balok sudah memasuki alam berdimensi 2 permukaan tembok. Bagian sisi balok ini dapat dilihat oleh makhluk bayang-bayang di tembok sebagai makhluk berdimensi 2 juga. Analoginya adalah jin yang dilihat oleh kita penampakannya di alam dunia sebenarnya berdimensi 4 tetapi oleh indera kita dilihat sebagai makhluk berdimensi 3 seperti tampaknya sosok kita manusia.

3. Langit ketiga sampai dengan langit ketujuh

Langit ketiga sampai dengan keenam dihuni oleh arwah-arwah, sedangkan langit ke tujuh adalah alam akhirat dengan surga dan nerakanya. Analoginya sama dengan langit kedua di atas, karena pengetahuan kita hanya sampai kepada alam berdimensi 3.

Dapat diartikan bahwa sebenarnya alam semesta ini ada dalam satu ruang lingkup namun berbeda tingkatannya.  Tingkatan yang dimaksud disini adalah tingkatan kepadatan partikel dan dimensi penyusun bentuk atau zatnya.  Dengan demikian, dunia tempat kita berpijak ini titik koordinatnya sama dengan dunia pada dimensi lain hanya saja terpisah alam atau dimensi.  Nah, cerita ini agak sedikit berbeda ni dengan yang pernah saya tulis di Misteri Luas Alam Semesta dan Ramalan Perbintangan (2).

Tingkatan Mahluk dan Unsur Kehidupan

Ini dari pendapat saya sendiri setelah mengamati dan membaca banyak buku kemungkinan mahluk hidup yang ada dialam semesta ini tercipta dari beberapa tingkatan partikel atau penyusun jasadnya.  Dari adanya perbedaan dimensi tersebut maka dapat difikirkan bahwa mahluk hidup dan unsurnya juga memiliki beberapa tingkatan.  Mulai dari unsur yang keras dan padat, cair, gas, dan cahaya.  Partikel yang paling padat adalah benda keras dan tampak dengan kasat mata seperti kita manusia yang terbentuk dari banyak partikel padat, tanah, batu, pasir, debu, termasuk air, sedangkan partikel padat yang paling kecil adalah gas.  Mahluk yang tercipta dari partikel padat ini adalah seperti manusia, hewan, tumbuhan, beserta semua benda yang ada di alam semesta Dimensi 3 kita ini.

Partikel kedua adalah partikel halus yang tidak kasat mata seperti listrik, bau, suara, angin atau udara, partikel ini memiliki unsur penyusun tetapi sangatlah halus atau ghaib.  Misalnya listrik yang tersusun dari ion2 positif dan negatif, dan udara yang merupakan partikel ringan yang melayang atau Oksigen.  Partikel ini tidak dapat ditangkap dan dilihat tetapi dapat dirasakan serta dapat juga memberikan sentuhan, dorongan, panas, dingin, serta getaran.  Misalnya angin yang bergesek dengan benda padat akan menghasilkan suara, demikian pula suara yang kita keluarkan dari mulut adalah hasil gesekan antara angin yang keluar dari paru2 kita dengan pita suara.

Partikel yang paling halus lagi adalah api, dimana api ini sifatnya hidup, membutuhkan oksigen dan mengeluarkan unsur panas.  Api tidak dapat disentuh tetapi dapat dilihat karena adanya cahaya yang merupakan hasil dari pembakarannya dan dapat dirasakan yakni adanya panas.  Api juga memiliki warna sehingga cahaya yang dihasilkannya juga bisa menghasilkan warna tergantung unsur pembakarnya.  Mahluk yang tercipta dari api ini adalah sebangsa jin yang berada di Dimensi 4.

Partikel yang sangat halus adalah cahaya, cahaya ini sebenarnya berasal dari adanya api atau pembakaran.  Cahaya tidak terpengaruh dengan hukum2 fisika dan momentum.  Cahaya dapat mengisi ruang gelap, dan dapat pula berwarna sesuai dengan warna dari unsur padat yang dipantulkannya.  Cahaya tidak dapat dipegang, kalaupun bisa dilihat sifatnya adalah semu… dan tidak bisa kita gambarkan dengan rumus kimia apapun.  Mahluk yang tercipta dari cahaya ini adalah bangsa Malaikat dan berada di Dimensi 9.

Selanjutnya ada lagi yang misteri, yaitu ruh… apakah ruh ini bisa digambarkan dengan lugas seperti yang dijelaskan dalam dimensi2 diatas?  Kemungkinan, ruh ini lebih halus lagi dari semua unsur yang kita kenal.. ruh inilah yang hidup dan kekal tidak mati.  Artinya meskipun jasad kita telah mati, akan tetapi itu tidak berlaku pada ruh.  Apakah benar ruh juga berada pada dimensi yang berbeda seperti yang dijelaskan pada cerita diatas?  Ruh orang yang telah mati akan tertahan sementara di alam atau dimensi lain sebelum akhirnya nanti dikumpulkan dan dihidupkan kembali, yaitu alam barzah.  Benarkah..? ini opini berdasarkan yang pernah saya baca dan dengar saja.  Ruh ini tidak terpengaruh oleh waktu, sehingga sifatnya kekal.

Dengan demikian berarti kita manusia adalah mahluk yang paling rendah unsur penyusunnya, itulah sebabnya mengapa bangsa jin tidak mau bersujud dihadapan Adam karena mereka merasa bahwa mereka mahluk yang lebih tinggi dari manusia.  Tetapi dari semua mahluk ciptaan Allah SWT, ruh kita adalah sama meskipun unsur penyusunnya berbeda.  Benarkah demikian? Belum tahu kebenarannya ni karena belum ada juga dalil dan teorinya atau mungkin saya belum pernah baca kali ya?

Zat Sang Pencipta

Zat sang maha pencipta adalah zat yang maha mulia dan maha sempurna, kita tidak akan bisa mengetahui seperti apa zatnya dan seperti apa bentuknya.  Allah SWT tidak berada di dimensi manapun, tapi meliputi semua dimensi itu. Wajah Allah tidak serupa dengan wajah manapun. Dalam keberadaannya,Tuhan tidak bukan berada di sini bukan di situ, bukan begini bukan begitu. Tidak ada yang bisa menjelaskan kecuali Allah sendiri yg menjelaskan.

Muhammad SAW sendiri terpesona dan tidak mampu berkata apa-apa ketika berhadapan dengan Allah Swt, lalu beliau tersungkur dan tidak mampu memandang. Nabi Musa As pun tersungkur menatap kehadiran Allah di bukit Sinai, untuk itu Allah “terpaksa” menghadirkan simbol di dimensi ketiga berupa pancaran api yang membakar ilalang agar Musa sanggup menghadapinya.

Keajaiban Isra dan Miraj

Cerita mengenai luasnya alam semesta ini sebenarnya bisa dijelaskan melalui peristiwa perjalanan Rasulullah saat Isra’ Mi’raj… Saya aja baru menyadari akan hal ini, padahal dari kecil acara Isra’ Mi’raj selalu saya ikuti tapi maksudnya yang diambil hikmahnya hanya perintah menunaikan ibadah Sholat lima waktu.  Ternyata ada ilmu pengetahuannya juga bila kita lihat dari sudut pandang yang berbeda, yaitu segi keilmuan.

Allah Swt berfirman di dalam Alquran Surah Al-Israa’ ayat 1:

“Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hambaNya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda–tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

Dari ayat tersebut tampak jelas bahwa perjalanan luar biasa itu bukan kehendak dari Rasulullah Saw sendiri, tapi merupakan kehendak Allah Swt. Untuk keperluan itu Allah mengutus malaikat Jibril as (makhluk berdimensi 9) beserta malaikat lainnya sebagai pemandu perjalanan suci tersebut. Dipilihnya malaikat sebagai pengiring perjalanan Rasulullah Saw dimaksudkan untuk mempermudah perjalanan melintasi ruang waktu.

Selain Jibril as dan kawan-kawan, dihadirkan juga kendaraan khusus bernama Buraq, makhluk berbadan cahaya dari alam malakut. Nama Buraq berasal dari kata barqun yang berarti kilat. Perjalanan dari kota Makkah ke Palestina berkendaraan Buraq tersebut ditempuh dengan kecepatan cahaya, sekitar 300.000 kilo meter per detik.

Pertanyaan mendasar adalah bagaimanakah perjalanan dengan kecepatan cahaya itu dilakukan oleh badan Rasulullah Saw yang terbuat dari materi padat? Untuk malaikat dan Buraq tidak ada masalah karena badan mereka terbuat dari cahaya juga. Seandainya badan bermateri padat seperti tubuh kita dipaksakan bergerak dengan kecepatan cahaya, bisa diduga apa yang akan terjadi. Badan kita mungkin akan terserai berai karena ikatan antar molekul dan atom bisa terlepas.

Jawaban yang paling mungkin untuk pertanyaan itu adalah tubuh Rasulullah Saw diubah susunan materinya menjadi cahaya. Bagaimanakah hal itu mungkin terjadi?

Teori yang memungkinkan adalah teori Annihilasi. Teori ini mengatakan bahwa setiap materi (zat) memiliki anti materinya. Dan jika materi direaksikan dengan anti materinya, maka kedua partikel tersebut bisa lenyap berubah menjadi seberkas cahaya atau sinar gamma.

Hal ini telah dibuktikan di laboratorium nuklir bahwa jika partikel proton direaksikan dengan antiproton, atau elektron dengan positron (anti elektron), maka kedua pasangan tersebut akan lenyap dan memunculkan dua buah sinar gamma, dengan energi masing-masing 0,511 MeV (Multiexperiment Viewer) untuk pasangan partikel elektron, dan 938 MeV untuk pasangan partikel proton.

Sebaliknya apabila ada dua buah berkas sinar gamma dengan energi sebesar tersebut di atas dilewatkan melalui medan inti atom, maka tiba-tiba sinar tersebut lenyap berubah menjadi 2 buah pasangan partikel tersebut di atas. Hal ini menunjukkan bahwa materi bisa dirubah menjadi cahaya dengan cara tertentu yang disebut annihilasi dan sebaliknya.

Nah, kalau dihitung jarak Mekkah – Palestina sekitar 1500 km ditempuh dengan kecepatan cahaya, maka hanya dibutuhkan waktu sekitar 0,005 detik dalam ukuran waktu kita di bumi.

Sesampainya di Palestina tubuh Rasulullah Saw dikembalikan menjadi materi. Peristiwa ini mungkin lebih dikenal seperti teleportasi dalam teori fisika kwantum. Dari Palestina dilanjutkan dengan perjalanan antar dimensi ke Sidratul Muntaha, yakni dari langit dunia (langit pertama) ke langit kedua, ketiga sampai dengan langit ketujuh dan berakhir di Sidratul Muntaha.

Yang perlu dipahami adalah perjalanan antar dimensi bukanlah perjalanan berjarak jauh atau pengembaraan angkasa luar, melainkan perjalanan menembus batas dimensi. Karena walaupun tubuh Rasulullah Saw diubah menjadi cahaya seperti perjalanan dari Mekkah ke Palestina, tidak akan selesai menempuh perjalanan di langit pertama saja. Bukankah untuk menempuh diameter alam semesta diperlukan 30 miliar tahun dengan menggunakan kecepatan cahaya. Jadi bagaimana caranya?

Seperti telah disebutkan di atas dalam penjelasan posisi antar dimensi bahwa posisi langit kedua dengan langit pertama dianalogikan seperti sebuah ruangan berdimensi 3 dengan dinding tembok berdimensi 2. Makhluk bayangan berdimensi 2 di tembok tidak bisa memasuki ruangan berdimensi 3, kecuali ada bantuan dari makhluk berdimensi lebih tinggi, minimal dari makhluk berdimensi 3, yakni balok. Caranya si balok menempelkan salah satu sisinya ke tembok dan makhluk bayangan menempelkan diri ke sisi balok itu. Dengan menempel di sisi balok dan mengikutinya, makhluk bayangan bisa memasuki ruang berdimensi 3 dan meninggalkan wilayah berdimensi 2, yakni dinding tembok.

Begitulah kira-kira analogi bagaimana Rasulullah Saw melakukan perjalanan antar dimensi. Dengan kehendak Allah Swt, Jibril membawa Rasulullah Saw melakukan perjalanan dari langit pertama hingga langit ketujuh lalu ke Sidratul Muntaha. Perjalanan ini bukan perjalanan jauh seperti telah disebutkan tadi. Kejadian itu terjadi di tempat Rasulullah Saw terakhir duduk shalat di Masjidil Aqsa Palestina, karena ruang berdimensi 4, 5 dan seterusnya itu persis berada di sebelah kita, hanya kita tidak melihatnya dan tidak bisa mencapainya.

Wajar saja perjalanan Isra Miraj Rasulullah Saw dari Mekkah ke Palestina dan kemudian dilanjutkan dengan perjalanan ke Sidratul Muntaha hanya terjadi dalam semalam. Bayangkan dalam zaman ketika pemahaman manusia tentang sains dan teknologi belum seperti sekarang, seorang Abu Bakar Ash Shiddiq Ra. Sahabat yang suci bisa beriman dan menerima kebenaran cerita Rasulullan Saw tanpa sanggahan.

Begitu dekatnya jarak alam dunia (langit pertama) dengan alam akhirat (langit ketujuh) yang sangat dekat sudah digambarkan oleh hadist dari Jabir bin Abdullah. Ketika itu Rasulullah Saw didatangi oleh lelaki berwajah bersih dan berbaju putih (yang ternyata adalah malaikan Jibril as yang memasuki dimensi alam manusia) :

Bertanya orang itu lagi (yakni Jibril as), “Berapakah jaraknya dunia dengan akhirat?” Bersabda Rasulullah SAW, “Hanya sekejap mata saja.”

Wallahua’lam

Sebenarnya tulisan diatas saya rangkum dari berbagai sumber, tetapi sudah saya gabung2kan dengan teori yang menurut saya masih perlu dicari kebenarannya… kenapa? Karena seperti yang anda lihat diprofil, saya pencari kebenaran… ;p

Tapi kebenaran yang diungkap ini bukan untuk mencari fakta kesalahan, tetapi untuk menguatkan iman kita betapa maha agungnya Allah SWT sebagai pencipta.  Betapa luasnya alam semesta yang diciptakannya.  Hingga saat ini misteri 7 lapis langit ini masih banyak perdebatannya, karena maklum manusia ini penuh dengan logika dan terlalu rasional… maka Allah SWT menyuruh kita memperkuat iman baru akal fikiran, agar kita tidak sesat karena pemikiran kita sendiri.

Wafatnya sang cangkir


Siapakah dia?

Kitagaki pejabat Kyoto, pergi ke Vihara Tokufu di Kyoto untuk mengunjungi Keichu kepala vihara tersebut

Saat Kitagaki datang, murid Keichu yang datang menyambutnya, Kitagaki memintanya untuk menyampaikan kepada Keichu bahwa Kitagaki seorang pejabat Kyoto minta bertemu dengan Guru Keichu,

Murid : Guru, Kitagaki pejabat dari Kyoto minta bertemu,
Keichu : Suruh dia pulang, saya tak kenal pejabat manapun

Murid tersebut pun kembali dan menyampaikan pesan gurunya kepada Kitagaki
Murid : Guru saya meminta anda pulang saja karena ia tak kenal pejabat manapun

Kitagaki terkejut, lalu berkata "kalau begitu, tolong sampaikan bahwa Kitagaki ingin bertemu"

Murid tersebut pun menyampaikannya sekali lagi kepada Keichu,
tak lama Keichu keluar "Oh kamukah itu Kitagaki?Mari duduk didalam"

note : kemahsyuran, status, dan kekayaan cenderung membesarkan ego orang, akibatnya orang dibawa menyimpang seperti pengembara yang tersesat dan tak bisa kembali
coffin is offline

Rabu, 24 Agustus 2011

Dua Bata Jelek

 Alkisah ada seorang bhiksu muda diberi tugas oleh gurunya utk mendirikan tembok vihara dengan menggunakan 2000 buah batu bata.

 Dengan susah payah akhirnya ia menyelesaikannya dgn baik dan tepat pada waktunya.

 Sayangnya setelah selesai semuanya, Bhiksu itu baru menyadari bahwa ada 2 buah batu bata yg tampak lebih menonjol keluar dibandingkan dengan batu bata lainnya. Akibatnya temboknya ada bagian yang tidak rata.

 Bhiksu itu tampak sedih dan kecewa dengan hasil pekerjaannya. Ia pun akhirnya bermaksud untuk merobohkan tembok itu dan mengulangi untuk membangunnya.

 Saat itu datanglah Sang Guru melihat dan mengatakan, “Sungguh hasil karya yg luar biasa”

 Lalu Sang Bhiksu muda berkata, “Tetapi ada 2 batu bata yg tampak menonjol, Guru. Lihatlah! Sungguh membuat temboknya menjadi tdk sempurna”

 Sang Guru menjwb, “Saya tidak melihat 2 batu bata menonjol yang kamu tunjukkan. Sebaliknya saya jelas-jelas melihat ada 1998 batu bata yang tersusun begitu sempurna.”

 Sesungguhnya 2 batu bata itu menggambarkan masalah dlm hidup kita. Apakah hanya karena beberapa masalah kecil saja akan merintangi kita mengayuh dalam samudera kehidupan?

 Janganlah berfokus pada kekurangan saja. Janganlah hanya melihat sisi keburukan saja. Mari belajar mengikis kekurangan dan mengembangkan kebaikan kita.

Kita lahir ke dunia bukan untuk marah.

Oleh : Tan Chau Ming

Cin Tai adalah seorang master Zen yang menyukai bunga anggrek. Beliau telah menanam dan mengumpulkan banyak jenis anggrek di vihara. Pada suatu hari beliau pergi bertugas dan berpesan kepada para siswanya untuk menjaga serta merawat bunga anggrek tersebut dengan baik.

Suatu waktu ketika salah seorang siswa beliau menyiram bunga, tanpa disengaja tersandung rak bunga dan membuat beberapa pot anggrek terjatuh dan pecah. Siswa tersebut sangat takut dan kebingungan.

Ketika Master Cin Tai kembali, dengan berlutut di hadapan sang master siswa itu menyatakan penyesalan dan memohon pengampunan seraya berkata:
"Guru, maafkan saya. Saya telah memecahkan pot bunga anggrek kesayangan Anda. Saya bersedia menerima segala macam hukuman. Saya mohon welas asih sang guru agar tidak marah!"

Setelah mendengar laporan siswa itu Master Cin Tai dengan tenang menjawab:
"Saya menanam bunga anggrek, tujuan yang pertama adalah untuk memberikan
persembahan kepada Sang Buddha. Tujuan yang kedua untuk memperindah
lingkungan. Saya menanam bunga anggrek ini bukan bertujuan untuk melampiaskan amarah"

Kita datang ke dunia ini, bukan untuk melampiaskan angkara murka dan juga
bukan untuk menikmati rasa kesal. Hubungan suami istri, mendidik anak, hubungan antar teman dan relasi, jika dilakukan dengan menghayati kata-kata yang diucapkan Master Cin Tai "SAYA MENANAM ANGGREK BUKAN BERTUJUAN UNTUK MELAMPIASKAN AMARAH " maka kesalahpahaman dan ketegangan akan berkurang banyak.

Orang yang batinnya penuh dengan welas asih, melihat dan merasakan segala sesuatu dengan perasaan tenang dan gembira. Orang yang batinnya dapat merasakan keheningan di dalam jalan kebenaran akan merasakan keindahan hidup ini. Orang yang dapat mengerti dan menghayati Kebuddhaan di dalam batinnya akan selamanya berbahagia.
Kita datang ke dunia ini bukan untuk melampiaskan amarah. Kata-kata tersebut memusnahkan kabut kelam dalam sanubari, dan memberikan inspirasi, kegembiraan, ketenangan serta kedamaian bagi batin kita.

Dokter belajar Zen

Seorang dokter muda di Tokyo yang bernama Kusuda bertemu
dengan teman sekolahnya yang telah mempelajari Zen. Dokter
muda itu menanyakan apakah Zen itu.

"Saya tidak bisa mengatakan kepada anda apakah Zen itu,"
temannya menjawab, "Tetapi satu hal yang pasti. Jika anda
memahami Zen, anda tidak akan takut untuk mati."

"Baiklah, " kata Kusuda. "Saya akan mencobanya. Dimanakah
saya bisa mendapatkan seorang guru?"

"Pergilah ke Guru Nan-in," temannya memberitahukan
kepadanya.

Oleh sebab itu Kusuda pergi menjumpai Nan-in. Ia membawa
sebuah pisau belati yang panjangnya sembilan setengah inci
untuk mengetahui apakah guru itu takut akan kematian atau
tidak.

Ketika Nan-in melihat Kusuda, ia berseru, "Hai, teman. Apa
kabar? Sudah lama kita tidak berjumpa!" Ini membuat Kusuda
bingung, lalu ia menjawab, "Kita belum pernah bertemu
sebelumnya."

"Benar," Nan-in menjawab, "Saya kira anda adalah seorang
dokter yang belajar di sini."

Dengan sikap pembuka yang seperti ini, Kusuda kehilangan
kesempatan untuk menguji si guru, sehingga dengan malu ia
memohon untuk diberikan instruksi Zen.

Nan-in mengatakan, "Zen bukanlah tugas yang berat. Jika anda
adalah seorang dokter, perlakukanlah pasien anda dengan
kebaikan. Itulah Zen."

Kusuda mengundang Nan-in tiga kali. Setiap kali Nan-in
mengatakan hal yang sama, "Seorang dokter tidak boleh
memboroskan waktunya di sini. Pulanglah dan rawatlah pasien
anda."

Masih belum jelas bagi Kusuda bagaimana ajaran seperti itu
bisa menghapuskan ketakutan akan kematian. Oleh sebab itu,
pada kunjungan keempat ia mengeluh, "Teman saya mengatakan
bahwa jika mempelajari Zen, seseorang akan kehilangan
ketakutan akan kematian. Setiap kali saya datang ke sini,
anda menasihati saya untuk merawat pasien saya. Saya sudah
tahu hal itu. Jika inilah yang anda katakan sebagai Zen,
saya tidak akan mengunjungi anda lagi."

Nan-in tersenyum dan menepuk dokter itu, "Saya telah terlalu
ketat terhadap anda. Marilah saya berikan sebuah koan kepada
anda." Ia memberikan kepada Kusuda sebuah Mu dari Joshu
untuk dipikirkan, yang merupakan tugas pencerah-pikiran
pertama di dalam buku yang berjudul "The Gateless Guide"
(Pintu Gerbang yang tidak Berbatas).

Kusuda mengggeluti masalah Mu (Tiada Apa-Apa) selama dua
tahun. Akhirnya, ia merasa bahwa telah mencapai kemajuan
dalam pikiran. Akan tetapi, si guru berkomentar, "Anda masih
belum mencapai kemajuan."

Kusuda melanjutkan dengan penuh konsentrasi selama satu
setengah tahun lagi. Pikirannya menjadi tenang. Problem
terselesaikan. Tiada Apa-Apa menjadi kebenaran. Ia merawat
pasiennya dengan baik dan bahkan tanpa ia sadari, ia telah
bebas dari pemikiran tentang kehidupan dan kematian.

Lalu, ketika ia mengunjungi Nan-in, gurunya yang dulu ini
hanya tersenyum.
vasm is offline  

Cincin emas.

Seorang pemuda mendatangi Zen-sei dan bertanya, "Guru, saya tak mengerti mengapa orang seperti Anda mesti berpakaian apa adanya, amat sangat sederhana. Bukankah di masa seperti ini berpakaian sebaik-baiknya amat perlu, bukan hanya untuk penampilan melainkan juga untuk banyak tujuan lain."

 Sang Guru hanya tersenyum. Ia lalu melepaskan cincin dari salah satu jarinya, lalu berkata, "Sobat muda, akan kujawab pertanyaanmu, tetapi lebih dahulu lakukan satu hal untukku. Ambillah cincin ini dan bawalah ke pasar di seberang sana. Bisakah kamu menjualnya seharga satu keping emas?" Melihat cincin Zen-sei yang kotor, pemuda tadi merasa ragu, "Satu keping emas? Saya tidak yakin cincin ini bisa dijual seharga itu." Zen-sei lalu berkata, "Cobalah dulu, sobat muda. Siapa tahu kamu berhasil."

 Pemuda itu pun bergegas ke pasar. Ia menawarkan cincin itu kepada pedagang kain, pedagang sayur, penjual daging dan ikan, serta kepada yang lainnya. Ternyata, tak seorang pun berani membeli seharga satu keping emas. Mereka menawarnya hanya satu keping perak. Tentu saja, pemuda itu tak berani menjualnya dengan harga satu keping perak. Ia kembali ke padepokan Zen-sei dan melapor, "Guru, tak seorang pun berani menawar lebih dari satu keping perak."

 Zen-sei, sambil tetap tersenyum arif, berkata, "Sekarang pergilah kamu ke toko emas di belakang jalan ini. Coba perlihatkan kepada pemilik toko atau tukang emas di sana. Jangan buka harga, dengarkan saja bagaimana ia memberikan penilaian."

 Pemuda itu pun pergi ke toko emas yang dimaksud. Ia kembali kepada Zen-sei dengan raut wajah yang lain. Ia kemudian melapor, "Guru, ternyata para pedagang di pasar tidak tahu nilai sesungguhnya dari cincin ini. Pedagang emas menawarnya dengan harga seribu keping emas. Rupanya nilai cincin ini seribu kali lebih tinggi daripada yang ditawar oleh para pedagang di pasar."

 Zen-sei tersenyum simpul sambil berujar lirih, "Itulah jawaban atas pertanyaanmu tadi sobat muda. Seseorang tak bisa dinilai dari pakaiannya. Hanya "para pedagang sayur, ikan dan daging di pasar" yang menilai demikian. Namun tidak bagi "pedagang emas".

 "Emas dan permata yang ada dalam diri seseorang, hanya bisa dilihat dan dinilai jika kita mampu melihat ke kedalaman jiwa. Diperlukan kearifan untuk menjenguknya dan itu butuh proses. Kita tak bisa menilainya hanya dengan tutur kata dan sikap yang kita dengar dan lihat sekilas. Seringkali yang disangka emas ternyata loyang dan yang kita lihat sebagai loyang ternyata emas "

Mencari Buddha.

Yang Pu meninggalkan rumah dan pergi ke propinsi Si Chua untuk mengunjungi seorang Boddhisatva, ditengah perjalanan bertemu dengan bhiksu tua, “Hendak kemana anak muda?” tanya bhiksu tersebut, “Saya hendak mencari Boddhisatva” jawab Yang Pu, “Daripada mencari Boddhisatva kan lebih baik mencari Buddha, betul ndak?” kata Bhiksu tsb, “Cari Buddha dimana, bhiksu?” “Waktu kamu tiba di rumah, kamu akan disambut orang yang memakai handuk dengan sandal terbalik. Nah orang itulah Buddha” jawab Bhiksu tua

 Ia mengikuti petunjuk dan ketika tiba dirumahnya hari telah gelap, Ibunya mendengar suaranya di depan pintu sangat bahagia sehingga ia begitu saja memakai handuk tanpa sempat berpakaian lagi dan bahkan memakai sandalnya secara terbalik. Ia melesat ke luar dan ketika Yang Pu melihat ibunya, ia terpesona

 Orang bisa saja berjalan jauh mencari kebenaran tetapi ia harus menyadarinya dalam dirinya sendiri atau ia tidak akan menemukannya

Jujur


Memecahkan patung Buddha

Di sebuah monastery Zen terdapat seorang master Zen dan seorang muridnya.
 Untuk mengajarkan kesunyataan, maka di depan murid, sang Guru mengangkat patung Buddha dari keramik dan kemudian menjatuhkannya hingga pecah.
 Murid terbengong sejenak dan kemudian merasa tercerahkan.
 Setelah peristiwa itu, si murid mohon diri untuk turun gunung. Sang Guru sedih dan hendak menahannya, tapi si murid bersikeras. Tak lama kemudian, sang guru meninggal dan ada peristiwa2 yang menunjukkan bahwa beliau telah menjadi Bodhisattva.

 Si murid mengajarkan hal itu kepada masyarakat desa di kaki gunung. Setiap ia menemukan pemilik rumah memiliki patung Buddha ia selalu membanting dan memecahkannya. Demikianlah seterusnya, penduduk2 desa itu mengajar ke desa-desa lain dimana orang2 semuanya mulai membanting dan memecahkan patung Buddha. Mereka berkata : patung is patung, buang ketahayulan!

 Sampai suatu ketika terjadi gempa bumi dahsyat dan semua dari mereka mati. Ternyata si murid dan mereka semua terlahir di neraka.

 Koan : Perbuatan yang sama, tapi terlahir di tempat yang berbeda. Mengapa???

 Hints:
 - Belajar Zen harus memahami esensinya, bukan sekedar meniru penampilan luarnya belaka.
 - Apa yang nampak diluarnya mungkin sama, tapi proses dalam batin adalah tanggung jawab masing2 pribadi.
 - Belajar memutuskan kemelekatan janganlah menjadi sebuah kemelekatan baru.

Tidak ada pengganti


 Seorang umat bertanya kepada guru zen.

 Umat : Bisakah anda membantu saya memahami arti Zen ?

 Guru : Aku sangat ingin membantu, tapi sekarang aku harus buang air kecil dulu.

 Guru beranjak dari tempat duduknya dan mendekati umat tersebut kemudian berkata dengan suara lirih.

 Guru : Coba pikirkan, bahkan untuk hal sepele seperti ini aku harus melakukannya sendiri. Boleh tanya, bisakah kamu melakukannya untukku

 Catatan
 Untuk memahami masalah hidup dan mati, seseorang harus mengandalkan dirinya sendiri. Orang lain tidak bisa melakukannya untukmu. Hanya Mengandalkan penjelasan dari orang lain adalah seperti burung kakak tua belajar bicara. Ia mengatakan apa yang diajarkan tapi tidak tahu arti dari kata kata tersebut.

Tersenyum walau itu berat dalam hidupmu


Quote: Alkisah Ada seorang Sanggha bernama Chi kung, ia sangat berbeda dengan sangha lainnya yang berlatih diri dan sebagainya, malah ia banyak sekali pelanggarannya seperti makan daging dan minum arak, selain itu ia memakai jubah biksu yang compang camping mirip seorang pengemis dari pada sangha, tidak seperti sangha lain yang diam di kuil dan bermeditasi, malahan ia turun ke jalan menolong umat Buddha dalam kesusahan.

 Suatu saat Chi kung melihat Sebuah toko dan sipemiliknya, Chi kung berlagak meminta sedekah kepada si pemilik toko tersebut, dia melihat si pemilik toko adalah seorang yang pengagum Buddha Maitreya atau Milefo atau Buddha Tertawa, Chi kung mendekati si pemilik toko " Amitabha, Bisakah Saya Meminta sedekah kepada anda ?", Si pemilik Toko dengan muka Termenyut dan terlihat Judes dan berkata Sinis dan berteriak " TIDAK ADA". Lalu Chi kung berpura -pura keluar dari toko tersebut sambil duduk dipingiran tokonya sambil pura- pura tidur. Si pemilik Toko merasa jengkel dan kesal melihat Tingkah laku Chi kung. Diacuhkannya, sampai kemudian Sore Si pemilik toko merasa Toko nya Sepi dan Dia selalu sembayang kepada Buddha Tertawa setiap waktunya agar tokonya ramai dan bisa dikunjungi , tapi ngak ada yang mau datang.

 Melihat Tingkah si Pemilik Toko, Chi kung Tertawa terbahak - bahak,
 Lalu si pemilik Toko merasa jengkel sama Tingkah Chi kung dan berkata " Kenapa Kamu ketawa", lalu Chi kung berkata " Gimana saya tidak bisa tertawa, melihat diri mu, Setiap waktu kamu selalu sembayang kepada Buddha Maitreya meminta rejeki, tapi kamu ngak pernah tau kesalahan kamu sendiri. Lihat lah diri mu itu Buddha maitreya saja Selalu Terseyum dan tertawa, bagaimanapun orang hendak mencaci maki dirinya, memujinya, bahkan orang mau berkata tentang dirinya baik buruknya, ia selalu tertawa, Ketika pengunjung toko datang ketempat mu dia melihat Buddha Tertawa maka ia bisa merasa Senang, Tapi pas melihat diri mu setiap kali memasang muka judes, kasar, tidak memperlihatkan wajah mu, dengan gembira, malahan bermuram Durja, bagaimana orang mau datang ke toko mu, kamu semestinya bisa belajar dari Buddha tertawa, Bagaimana pun diri mu, kamu harus tersenyum dan gembira, maka semua rejeki bisa datang kepada mu". Ketika si pemilik toko mendengarkan darmadesana dari Chi kung, Ia kaget, dan kemudian ia mencoba tersenyum dan berusaha menjadi ramah. Semenjak itu tokonya menjadi ramai pengunjung lagi.

Intinya adalah merasa diri bahagia walau itu berat didalam diri kita, hadapi Dengan Senyuman manis, dan merasa bahagia.

Kesadaran sejati.

Satu sifat melingkupi seluruh sifat dengan sempurna;
Satu Dharma mencakup semua Dharma;
Satu bulan muncul dalam semua permukaan air;
Bulan-bulan yang dipantulkan di atas permukaan air adalah satu.

Kebenaran tidak tegak, kepalsuan itu semula kosong.
Saat keberadaan dan bukan keberadaan disingkirkan, yang bukan kosong adalah kosong.
Dua puluh pintu kekosongon mengajarkan ketidakmelekatan.
Hakikat semua Tathagata adalah satu; keadaan mereka adalah sama.

Setelah mencapai tubuh Dharma, tiada apa-apa lagi;
Hakikat diri yang sejati adalah Buddha asal.
Panca skandha itu - datang dan perginya awan-awan terapung yang kosong;
Tiga racun itu - muncul dan lenyapnya gelembung-gelembung air yang hampa.

Saat yang sejati dialami, tidak ada orang ataupun Dharma.
Dalam sesaat karma avici dihancurkan sempurna.
Tidak ada kejahatan atau kebaikan, tidak ada yang hilang atau yang dicapai.
Jangan mencari sesuatu dalam hakikat Nirvana ini.

Siapa yang tidak memiliki pemikiran?
Siapa yang tidak memiliki kelahiran?
Jika yang tidak dilahirkan itu nyata,
maka tidak ada sesuatu yang tidak dilahirkan.

Letakkan empat unsur, jangan bergantung kepada apapun;
Dalam hakikat Nirvana ini, jangan terikat saat makan dan minum.
Seluruh fenomena adalah sementara; semuanya kosong.
Inilah pencerahan sempurna dari Sang Tathagata.

Inilah kendaraan sejati.
Orang yang menentang dikuasai oleh perasaan.
Langsung ke akar cahaya adalah ciri Buddha;
Tidak perlu mencari ranting atau memetik daun.

Mutiara mani tidak dikenal orang;
Engkau dapat menemukannya dalam Tathagata-garbha.
Fungsi enam indria kosong dan sekaligus tidak kosong,
Seberkas cahaya sempurna dengan bentuk tapi tanpa bentuk.

Sucikan lima mata untuk mencapai lima kekuatan.
Hanya setelah realisasi orang dapat memahami.
Untuk melihat bayangan dalam sebuah cermin tidaklah sulit.
Bagaimana orang dapat menggenggam bulan dalam air?

Harta yang tak ternilai memiliki manfaat yang tiada akhir;
Tiada keragu-raguan saat menolong yang lain.
Tiga tubuh dan empat kebijaksanaan lengkap di dalam intinya,
Delapan kebebasan dan enam kekuatan tubuh adalah ciri landasan batin.

Untuk orang-orang besar, satu penembusan mencapai segalanya;
Untuk yang sedang dan yang rendah, makin banyak yang mereka dengar, makin sedikit yang mereka percayai.
Engkau hanya perlu membuang pakaian kotor di dalam;
Tidak perlu memamerkan kecerdasanmu pada yang lain.

Mengerti sepenuhnya prinsip dasar dan ajaran,
Samadhi dan kebijaksanaan adalah sempurna dan jelas tidak berhenti dalam kekosongan.
Aku tidak hanya mencapai ini sekarang;
Inti para Buddha yang tidak terhitung banyaknya sebenarnya sama.

Tidak mencari yang sejati, tidak menolak yang palsu,
Menyadari bahwa keduanya adalah kosong dan tidak berbentuk.
Tidak ada bentuk, tidak ada kekosongan dan tidak ada bukan kekosongan;
Inilah ciri sejati Sang Tathagata.

Cermin batin memantul tanpa halangan;
Keluasan dan kemurniannya memancar menembus tak terhitung banyaknya dunia,
Fenomena yang bermacam-macam semua mewujud;
Bagi ia yang telah cerah sepenuhnya, tidak ada di dalam maupun di luar.

Ksatria besar memakai pedang kebijaksanaan;
Ujung mata pisau prajna ini bersinar seperti sebuah intan.
Ia tidak hanya menghancurkan pikiran dari jalan-jalan sebelah luar,
tetapi sejak lama membuat iblis-iblis surgawi melarikan diri.

Ia tidak aus dan tidak dapat disanjung
Unsur-unsurnya seperti ruang yang tidak terbatas.
Tanpa meninggalkan tempatnya berada, kebangkitan ini terus jernih.
Kalau mencari, engkau tahu ia tidak dapat ditemukan.
Ia tidak dapat digenggam, tidak juga dapat dibuang;
Ia dicapai hanya di dalam yang tidak dapat dicapai.

Pikiran adalah sebuah indria; Dharma adalah obyeknya;
Keduanya seperti bekas-bekas di cermin.
Saat debu disingkirkan, terang mulai datang.
Ketika pikiran maupun dharma dilupakan, inilah hakikat sejati.

Dengan pikiran jahat dan pengertian salah,
Orang tidak dapat menembus prinsip pencerahan seketika yang sempurna dari Sang Tathagata.
Banyak yang mengikuti ajaran, meskipun rajin, melupakan batin sejati.
Praktisi-praktisi jalan sebelah luar boleh jadi cerdas, namun mereka kurang memiliki kebijaksanaan.

Yang bodoh dan yang dungu berpikir
Bahwa kepala terpisah dari jari yang menunjuk.
Mengira telunjuk adalah bulan, mereka berlatih dengan sia-sia,
Cuma membangun khayalan-khayalan aneh dalam dunia indria dan obyek,
Tidak merasakan satu dharma pun: Inilah Sang Tathagata.
Hanya setelah ini orang dapat disebut Pengamat Tertinggi.

Memburu dua kelinci


Suatu hari di sebuah kuil, beberapa biksu sedang berlatih kungfu (bela diri dari Cina) di halaman kuil. Selesai latihan, seorang biksu mendatangi gurunya, dan bertanya, 'guru, saya ingin meningkatkan keahlian beladiri saya. Sambil belajar beladiri dengan guru, saya ingin belajar beladiri dengan guru lain juga. Bagaimana pendapat guru tentang ini?'

Sang guru hanya menjawab dengan sebuah kalimat, 'pemburu yang mengejar dua ekor kelinci secara bersamaan malah akan kehilangan keduanya'

Moral:
Mengejar dan mencari banyak ilmu dan pengetahuan adalah hal yang bagus dan malah dianjurkan. Namun kita juga harus menyadari batasan kemampuan kita. Apakah kita mampu menyerap secara maksimal dua atau lebih ilmu dan pengetahuan yang kita kejar secara bersamaan? Cobalah untuk fokus kepada satu pengetahuan dulu, ketika sudah menguasai baru fokus ke pengetahuan berikutnya. Hasilnya akan lebih maksimal, walaupun memakan waktu lebih lama.

ssssttt saya ga bicara apapun loh..


Suatu hari 4 orang praktisi zen yang bersahabat sedang berjalan bersama. Lalu salah satu dari mereka mengajukan ide untuk bermeditasi bersama, malam itu. Semuanya setuju. 'Tapi kita harus buat kesepakatan. Supaya meditasinya berjalan dan khidmat (khusyu), tidak boleh ada yang berbicara atau menimbulkan bunyi berisik apapun, setuju?'. Semuanya menyetujuinya.

Malam itu, seperti dijanjikan, mereka berkumpul di rumah salah satu praktisi untuk bermeditasi bersama, dengan ditemani sebatang lilin kecil.

Tiba2 angin kencang bertiup, dan memadamkan lilin kecil tersebut.

Praktisi 1: Oh tidak, lilinnya sudah mati tertiup angin....
Praktisi 2: sssstttt, bukannya kita dilarang berbicara apa2?
Praktisi 3: Mengapa kalian berdua melanggar kesepakatan kita?!?!?!
Praktisi 4: Hehehe, hanya saya yang tidak melanggar kesepakatan

Moral:
Betapa mudahnya kita 'menyoroti' kesalahan dan kelemahan orang lain, dan betapa sulitnya kita 'bercermin' kesalahan dan kelemahan diri kita sendiri. Bercermin tentang kesalahan dan kelemahan diri sendiri, adalah langkah pertama dalam proses pengembangan diri sendiri, menuju hasil yang lebih baik. Kalau langkah pertamanya saja sulit kita laksanakan, bagaimana kita mau gembar-gembor bahwa kita sedang 'berkembang' atau 'mengejar nilai kehidupan yang lebih baik' ???

Jalanlah maju tiga langkah, lalu mundur tiga langkah.


Seorang pria sedang berjalan-jalan di tengah kota. Ia melihat seorang biksu Zen yang sedang berjalan, meminta sumbangan untuk kuilnya. Karena tertarik, pria ini menghampiri biksu tersebut.

'Hai biksu, kau sedang meminta sumbangan bukan? Baiklah, aku tidak akan memberikan sumbangan, tapi akan kubeli kebijaksanaan darimu. Bukankah biksu Zen terkenal dengan kebijaksanaannya?', kata pria tersebut. Si biksu terdiam sejenak, lalu berkata, 'boleh, tapi kebijaksanaanku sangatlah mahal. Sebuah nasihatku bernilai 100 tael perak'. Pria tersebut menjawab, 'tidak masalah, asalkan terbukti kata-katamu dapat membuatku lebih bijaksana'.

Maka si biksu memberi pria itu kata2 ini: 'setiap kali anda menghadapi permasalahan apapun juga, jangan terburu-buru mengambil tindakan. Jalanlah maju tiga langkah, lalu mundur tiga langkah. Lakukan ini sebanyak 3 kali (3 set), baru ambil tindakan terhadap permasalahanmu'. Pria tersebut sulit untuk percaya, 'hanya berjalan 3 langkah maju dan 3 langkah mundur selama 3 kali dapat membuatku lebih bijaksana? Aku tidak percaya'. Si biksu tersenyum, 'kalau begitu anda tidak perlu membayarku sekarang. Tunggu sampai kata-kataku terbukti baru anda membayarku. Kalau tidak terbukti, anda tidak berhutang apa2 padaku'. Pria tersebut senang, 'baiklah kalau begitu. Aku akan membuktikan kata2mu. Kalau ternyata terbukti, aku akan mencarimu untuk membayarmu', kata pria itu, lalu pamit dan pulang kerumahnya.

Sampai di rumah, pria itu mencari istrinya untuk menceritakan kejadian hari ini kepada istrinya. Pria itu masuk ke kamar tidurnya. Ternyata istrinya sedang tidur, dan alangkah kagetnya pria itu karena ternyata disamping istrinya ada tubuh lain yang berbaring tertutup selimut. Emosi pria ini memuncak karena istrinya selingkuh, dengan tidur dengan pria lain. Ia segera pergi ke dapur untuk mengambil golok dapur, dengan tujuan membunuh pria selingkuhan istrinya.

Ketika kembali ke kamar tidur, tiba2 ia teringat dengan kata2 si biksu zen tadi. Maka ia pun berjalan 3 langkah maju, 3 langkah mundur, sebanyak 3 kali. Tentu saja dengan perasaan yang sangat tidak sabar. Karena gerakannya yang tergesa2 menimbulkan bunyi berisik, istrinya terbangun. Istrinya pun kaget karena ada tubuh lain berbaring di ranjangnya, sedangkan suaminya sedang berdiri di samping ranjang. Spontan istrinya membuka selimutnya. Ternyata tubuh itu adalah adik kandung istrinya sendiri yang bermimpi buruk sehingga ketakutan dan menyelinap ke ranjang kakak perempuannya untuk tidur bersama.

Seketika pria tersebut jatuh terduduk dengan lemas. Goloknya pun terlepas dari tangannya. Dengan menangis, ia menceritakan segalanya termasuk rencananya membunuh tubuh yang dikira selingkuhan istrinya tersebut. Katanya, 'kalau aku tidak bertemu dengan biksu bijaksana tersebut di kota, entah bagaimana nasibku dan kamu'. Istrinya menenangkan suaminya dan berkata, 'tenanglah, yang belum terjadi tidak perlu dipermasalahkan. Besok kita harus mencari biksu itu kembali untuk memenuhi janjimu, membayar kebijaksanaan yang kau dapat ini'.

Esok harinya mereka berdua pergi mencari biksu tersebut di tengah kota. Begitu menemukannya, mereka berniat membayar biksu tersebut, tapi si biksu menolaknya sambil tertawa, 'kalau kalian menghindari perbuatan jahat, perbanyak perbuatan baik, dan senantiasa mawas diri, artinya kalian sudah membayarku....'

Beban hidup


Suatu hari, seorang pemuda yang gagah namun penampilannya dekil dan bajunya compang-camping mendatangi guru Zen Wu Ji. Katanya, 'guru, saya datang dari jauh dan telah menempuh perjalanan yang sangat jauh dan berat. Saya kesepian, menderita dan sangat letih. Sepatu saya sudah sobek dan badan saya penuh luka. Ini semua saya lakukan demi mencari jawaban atas penderitaan saya. Kenapa saya belum menemukan cahaya petunjuk sedikit pun?'.

Sang guru Zen melihat pemuda ini membawa sebuah buntelan besar. 'apa isi buntelanmu itu?', tanya si guru. Jawab si pemuda, 'isinya sangat penting bagi saya. Di dalamnya ada barang2 yang mengingatkan saya pada setiap tangisan, ratapan, dan air mata saya. Benda2 ini menjadi penyemangat saya dalam menempuh perjalanan berat mencari jawaban ini'. 'Baik, sekarang ikutlah denganku', kata si guru Zen.

Mereka berjalan sebentar dan tiba di tepi sebuah sungai kecil. Di tepi sungai itu ada sebuah perahu sampan kecil. Si guru naik ke atas sampan tsb. 'naiklah', ajak si guru pada pemuda itu. Si pemudah itu pun naik ke atas sampan, dan mereka menyeberangi sungai tsb. Ketika sampai di seberang, mereka berdua turun dari sampan ke tepian. Kata si guru Zen, 'kita sudah sampai. Sekarang pikullah sampan ini, dan kita akan melanjutkan perjalanan kita'. Pemuda itu kaget dan protes, 'tapi sampan ini begitu berat, mana kuat saya memikulnya?'. 'benar sekali katamu itu. Ketika kita menyeberangi sungai, sampan ini sangat berguna dan besar artinya bagi kita. Namun ketika sudah siap meneruskan perjalanan kita berikutnya, sampan ini hanya akan menjadi beban saja. Kita harus meninggalkannya di tepi sungai, kalau tidak sampan ini hanya akan memberatkan langkah kita'.

'Begitu juga dengan kehidupan kita. Penderitaan, kesepian, kegagalan, tangisan, air mata, dan bencana, semuanya sangat berguna dalam kehidupan kita. Semua itu membuat kita tabah dan kuat menghadapi tantangan hidup di masa depan. Namun pada saat kita ingin melangkah maju, kalau kita tidak melepaskan hal2 tersebut, maka hal2 tersebut hanya akan menjadi beban langkah kita. Letakkanlah beban itu! Kehidupan akan menjadi lebih ringan.

'Sekarang letakkan tas mu di sini, dan mari kita melanjutkan perjalanan'. Si pemuda mengikuti perintah si guru, dan melanjutkan perjalanan. Beberapa jauh kemudian si guru menanyakan perasaan si pemuda ini. Jawab si pemuda, 'kini rasanya langkahku begitu ringan dan cepat. Aku baru sadar bahwa kehidupan sebenarnya bisa dijalani dengan begitu sederhana.....'

Moral:

Masa lalu tidak sama dengan masa kini dan masa depan. Masa lalu tidak terlalu penting. Yang penting adalah masa kini dan masa yang akan datang. Orang berhasil pasti pernah jatuh dan gagal dalam hidupnya, tetapi mereka tidak terus-terusan membawa beban itu di pundaknya. Jadikan masa lalu yang baik sebagai teladan, dan masa lalu yang buruk sebagai pelajaran. Namun jangan membawa-bawa masa lalu itu sendiri.

Jari telunjuk dan bulan

Suatu hari seorang biksu menemui Master Hui Neng (salah satu patriarch Zen di Cina) sambil membawa kitab Buddha. Katanya, 'guru saya tidak mengerti dengan sutra (ajaran Buddha) di halaman sekian'. Kata si guru, 'bacakanlah untukku'. Si biksu bertanya, 'bukankah guru seharusnya sudah hafal isi kitab ini di luar kepala? Jangan2 guru...'. Jawab Hui Neng, 'benar sekali muridku, aku buta huruf sejak kecil. Jadi tidak mungkin bagiku untuk hafal isi sebuah kitab'. Si biksu kaget dan marah, 'jadi selama ini aku diajarkan oleh orang yang tidak bisa membaca dan menulis? Percuma aku belajar Zen darimu, tidak ada gunanya!'.

Jawab Hui Neng dengan tenang, 'muridku, tenanglah. Kau tahu apa ini?', katanya sambil mengangkat telunjuknya. Jawab si murid, 'itu adalah jari telunjuk'. Hui Neng menunjuk bulan sambil bertanya, 'kalau itu apa?'. Jawab si murid, 'itu adalah bulan'.

'Kalau tidak kutunjuk dengan telunjukku, apakah kau bisa melihat bulan?'. Si murid bertambah bingung. Lanjut Hui Neng, 'telunjuk adalah kitab dan semua ajaran di dunia. Rembulan adalah kebenaran. Muridku, aku sudah bisa melihat rembulan tanpa bantuan telunjuk, bagaimana denganmu?'. Si murid pun tersadar dan memohon maaf.

Moral: Kebenaran ibarat rembulan yang bersinar terang, agama ibarat telunjuk yang menunjuk ke rembulan. Artinya semua agama itu sama, yaitu mengarah kepada kebenaran. Buddha Gautama pernah berkata, 'segenggam daun yang kupegang ini adalah dharma (ajaran kebenaran) yang kuajarkan, tetapi sesungguhnya dharma-dharma yang lain ibarat pasir di sungai Gangga yang tidak terhitung jumlahnya'. Artinya walaupun kita menerima suatu hal (termasuk agama) sebagai sesuatu yang benar, namun kebenaran yang sesungguhnya tidak terbatas pada hal tersebut. Masih banyak hal lain yang juga merupakan kebenaran pula. Dengan menyangkal atau tidak menerima hal ini berarti kita membatasi diri kita sendiri dalam memahami kebenaran yang universal dan sesungguhnya.

Selasa, 23 Agustus 2011

Apa yang anda pikirkan?


Zaman dahulu kala hiduplah seorang yang pintar dan berbakat bernama Su Dong Po. Ia adalah seorang intelektual dan penyair di zaman dinasti Sung. Su Dong Po menyukai ajaran Buddha dan sering melakukan meditasi bersama temannya, seorang guru Zen bernama Fou Yin.

Suatu hari, ketika mereka selesai bermeditasi bersama, masih dalam posisi bersila, Su Dong Po bertanya kepada temannya, si guru Zen. 'Guru, dalam penglihatanmu, bagaimana rupaku sekarang?', tanya Su. Jawab si guru Zen, 'rupa anda ketika duduk bersila dengan serius mirip penampilan seorang Buddha'. Su tertawa senang sekaligus tersanjung dengan jawaban ini.

Guru Zen itu bertanya balik, 'kalau menurut anda, bagaimana rupaku sekarang?'. Su yang sudah besar kepala menjawab, 'rupa anda seperti sekumpulan kotoran yang tertumpuk jadi satu'. Walaupun jawabannya kasar, namun si guru Zen tidak protes dan tidak marah. Dia hanya diam saja.

Su yang sudah besar kepala, setiap kali bertemu orang selalu menceritakan persitiwa di atas dan mengatakan 'aku telah mengalahkan guru Zen Fou Yin yang sangat hebat'. Semua orang memuji dia.

Cerita ini akhirnya sampai ke telinga adik perempuan Su Dong Po, yaitu Su Siau Mei, yang juga seorang intelektual dan penyair terkenal. Siau Mei malah menertawakan kakaknya. 'Kak, kamu sudah kalah oleh biksu itu', kata si adik. Su Dong Po tentu saja tidak terima begitu saja kata2 adiknya. 'apa maksudmu dengan aku kalah? Mana bisa?', hardik Su Dong Po.

Siau Mei menjawab sambil tersenyum, 'dalam hati biksu itu ada Buddha, oleh sebab itu ia melihatmu seperti seorang Buddha. Sedangkan dalam hatimu penuh kotoran, maka kamu melihatnya seperti kotoran....'

Moral:

Kita adalah apa yang kita pikirkan. Kalau pikiran kita selalu negatif, maka segala sesuatu yang ada di sekitar kita akan menjadi hal yang buruk dan negatif. Dunia akan menjadi tempat yang negatif dan suram bagi kita. Sebaliknya kalau pikiran kita selalu positif, maka segala sesuatu di sekitar kita akan menjadi hal yang indah dan positif. Dunia akan menjadi tempat yang indah dan nyaman bagi kita. Karena itu untuk 'mengubah dunia', mulailah lebih dulu dengan 'mengubah pikiran' anda.

Zen

Seorang umat bertanya kepada guru Zen.

Umat : Orang seperti apa yang mempraktekkan Zen ?

Guru : Orang seperti saya.

Umat : Guru, bagaimana kamu melatih Zen ?

Guru : Berlatih Zen adalah mengganti pakaian, mandi, tidur dan makan.

Umat : Tapi Itu kan pekerjaan duniawi. Pelajaran pikiran yang bagaimana yang bisa disebut dengan berlatih Zen ?

Guru : Menurutmu, apa yang aku lakukan setiap hari ?

Catatan
Latihan Zen berasal dari percakapan setiap hari, mencuci muka, makan dan hal-hal seperti itu. Orang harus melakukannya dengan penuh KESADARAN. Persepsi atas hakikat benda berasal dari melakukan hal-hal itu dengan sepenuh hati.

SURGA DAN NERAKA



Seorang biksu junior mendatangi gurunya. Katanya, 'guru, aku masih tidak mengerti. Dalam kitab banyak disebutkan mengenai 'surga' dan 'neraka'. Sebenarnya surga dan neraka itu ada atau tidak? Bagaimana bentuknya surga dan neraka itu?'

Sang guru menyuruhnya mengambil ember dan mengisinya dengan air sungai sampai penuh. Si biksu junior melakukan permintaan gurunya dengan penuh tanda tanya. Lalu si biksu junior kembali ke hadapan gurunya sambil menjinjing ember penuh air. 'Letakkan disitu', kata sang guru. 'Untuk apa ember air ini guru?', tanya si biksu lagi.

Kata sang guru, 'bukankah kau ingin tahu seperti apa surga dan neraka itu?'. 'Benar guru', jawab si biksu. 'Nah, kau akan menemukan surga dan neraka dalam ember air itu', jawab sang guru. Si murid yang penasaran berjongkok di depan ember, dan melihat dari dekat permukaan airnya. Tiba-tiba sang guru menenggelamkan kepala si biksu kecil ke dalam ember tersebut. Si biksu kecil meronta2 karena tidak bisa bernapas. Beberapa saat kemudian baru sang guru melepaskan kepala si biksu junior.

'Apa yang guru lakukan? Rasanya menderita sekali tenggelam dalam air itu dan tidak bisa bernapas', teriak si biksu. 'Lalu bagaimana keadaanmu sekarang?', tanya sang guru. Si biksu junior tertawa, dan berkata, 'sekarang rasanya lega sekali bisa bernapas kembali'. Kata sang guru, 'nah dalam waktu sekejap kau sudah mengelilingi surga dan neraka. Apa kau masih meragukan keberadaannya?'

Moral:

Perbedaan 'surga' dan 'neraka' sangatlah tipis. Apabila kita melihat dunia ini dari sisi positifnya, dan menikmati segala proses kehidupan kita dengan hati lapang dan senantiasa bersyukur, kehidupan ini terasa indah, nyaman dan damai, seolah di surga. Sebaliknya, kalau kita melihat dunia ini dari segala segi negatifnya, selalu menyalahkan orang lain atau keadaan, dan selalu mencari alasan dari segala permasalahan dan kegagalan kita, kehidupan kita akan penuh dengan keluhan, kesedihan, dan kesengsaraan. Masa depan kita terlihat begitu suram. Bukankah rasanya seperti hidup di neraka?