Minggu, 26 Desember 2010

Nasib baik nasib buruk siapa yg tahu?



Pada jaman dulu, disebuah desa yg ada keluarga petani dg anak laki2 satu2nya.
Pada saat pemuda sianak petani itu menggiring masuk kerbau2nya kedalam kandang, ia melihat masih ada salah satu kerbaunya yg belum kembali, maka pergilah ia mencari ke dalam hutan. Sampai beberapa hari pemuda itu tidak kembali kerumah. Maka datanglah tetangga desa untuk menyapaikan perhatian mereka, petani itu hanya bilang, “Nasib baik nasib buruk siapa yg tau?”
Setelah seminggu kemudian, pemuda itu pulang dari hutan dg membawa lembunya yg hilang dan puluhan ekor lembu bersamanya. Mendengar berita itu, para tetangga kembali datang tuk mengucapkan kegembiraan mereka atas pulangnya sianak yg membawa puluha ekor lembu. Si petani itu hanya berbicara, “Nasib baik nasib buruk siapa yg tau?”
Suatu saat ketika pemuda itu menggembalakan kerbaunya, ada seekor kerbau yg mengamuk dan membuat kakinya patah dan harus diamputasi, kembali berita itu menyebar keseluruh desa dan tetangganya kembali berdatangan untuk menyatakan kesedihannya, dan petani itu hanya berkata,”Nasib baik nasib buruk siapa yg tahu?”
Beberapa bulan kemudian tentara pemerintah dating kedesa itu untuk mencari pemuda2 desa untuk dipaksa menjadi tentara . Semua pemuda berbaris disebuah lapangan di desa itu, satu persatu para pemuda itu diperiksa supaya layak atau tidak menjadi tentara. Ketika tiba giliran pemuda buntung itu diperiksa, tentara itu melihat bahwa pemuda itu cacat dan bunting satu kakinya, maka dikembalikanlah pemuda itu pada keluarganya.

YOUR SON



Your son will not your son
They are the sons and daughters of life who missed her own.
They were born through you, but not from you.
And though they are with, but they were not yours.
You can give your love but not your thoughts.
Because they have a mind of its own.
You may be laying off his body, but not with his soul,
Because of their souls live at home future
Which will not be able to visit you even though in a dream.
You may be like them,
But do not make them like you.
Because life is not receding backs
Or remain silent on the Day yesterday.
You are the bow where your children are like arrows of life glide.
.................................................. .............................
.................................................. ............................
.................................................. ............................
Anakmu bukanlah anakmu
Mereka adalah putra-putri kehidupan yg rindu dirinya sendiri.
Mereka lahir melalui engkau, tapi bukan dari engkau.
Dan meskipun mereka bersamamu, namun mereka bukan milikmu.
Engkau boleh memberikan cinta kasihmu, tapi bukan pikiranmu.
Sebab mereka memiliki pikirannya sendiri.
Engkau boleh merumahkan tubuhnya, tapi tidak dengan jiwanya,
Karena jiwa mereka bermukim dirumah masa depan,
Yang tak akan dapat engkau kunjungi meski dalam mimpi sekalipun.
Engkau boleh menjadi seperti mereka,
Tetapi jangan menjadikan mereka sepertimu.
Karena Kehidupan Tidaklah Surut Kebelakang
Atau berdiam diri dihari kemarin.
Engkau adalah Busur tempat anak-anakmu yang seperti anak panah kehidupan meluncur.
...............................................................................
..............................................................................
..............................................................................

Anak-anak adalah cermin.



Seorang anak kecil berlari dijalan tiba2 berbelok disuatu sudut dan bertabrakan dg seseorang. "Astaga!" kata orang itu. "Mau pergi kemana engkau, begitu tergesa2?"
"Ke rumah," kata anak itu. "Saya tergesa2 karena ibu saya akan menampar saya."
"Apakahengkau begitu senang ditampar, sampai engkau lari ke rumah dengan tergesa2?" tanya orang asing itu keheranan.
"Tidak, tetapi kalau ayah sampai dirumah lebih dulu daripada saya, ia yang akan menampar saya."




Anak-anak adalah cermin.
Kalau mereka berada dalam suasana kasih,
kasih itulah yang mereka pantulkan.
Kalau kasih tidak ada,
mereka tidak mempunyai apapun untuk dibagikan.

Kebesaran jiwa



Seorang calon perwira diserahi tugas untuk menjaga jalan masuk ke tangsi dan diberi perintah untuk tidak membiarkan mobil masuk, kalau mobil itu tidak membawa tanda khusus.
Ia menghentikan mobil yg ditumpangi oleh seorang jendral yg mengatakan pada sopirnya untuk tidak mempedulikan penjaga dan terus melarikan mobilnya.
Karena itu, tentara itu maju dg senjata siap ditembakkan dan dengan tenang ia berkata, "Maaf bapak, ini baru bagi saya. Siapa yang saya tembak?, Bapak atau sopir??"


*****************************************************************
Engkau Mencapai Kebesaran,
kalau enGkau tiDak dIrisaukan olEh kedUdukan orang2 yg adA diataSmu
dan kalaU engkau membUat orang2 yg berada dibawahmu tidak merIsaukan kedudukanmU.

Kalau engkaU tidak sombong tehadap orang2 yg rendah
dan tidak rendah dengan orang2 yg sombong.

Ryonen

Ryonen
Ryonen, seorang pertapa Buddha dilahirkan pada tahun 1779. Ia adalah cucu Shingen, seorang prajurit terkenal. Ia dianggap sebagai salah seorang yang tercantik di seluruh Jepang, sekaligus seorang penyair berbakat besar. Maka sejak usia tujuh belas tahun ia telah dipilih menjadi pelayan istana. Di situ tumbuh dengan hangat rasa cintanyayang mendalam pada Ratu Putri. Ternyata Ratu Putri wafat secara mendadak. Ryonen memperoleh pengalaman batin yang sangat mendalam; ia benar-benar sadar bahwa segala sesuatu akan berlalu. Pada saat itulah ia memutuskan untuk mempelajari Zen.

Akan tetapi keluarganya tidak mau tahu. Mereka memaksanya untuk menikah. Namun Ryonen menuntut agar mereka dan calon suaminya berjanji, sesudah ia melahirkan tiga anak bagi suaminya, ia bebas untuk menjadi pertapa. Syarat ini dipenuhi ketika ia berusia dua puluh lima tahun. Pada waktu itu, baik bujukan suaminya maupun semua hal lain di dunia tidak dapat menghalanginya untuk melaksanakan ketetapan hatinya. Ia mencukur rambutnya, mengambil nama Ryonen (yang berarti memahami dengan jelas) dan mulai pencariannya.

Ia sampai kekota Edo dan memohon kepada guru Tetsugyu untuk menjadi muridnya. Guru itu memandang nya sekilas dan menolaknya karena ia terlalu cantik. Maka ia pergi keguru yang lain yang bernama Hakuo. Ia ditolak dengan alas an yang sama; kecantikannya, kata guru itu, hanya akan menjadi sumber masalah. Maka Ryonen membakar wajahnya dengan besi panas dan dengan demikian merusakkan kecantikannya seumur hidupnya. Ketika ia kembali menghadap guru Hakuo, ia diterima sebagai murid.

Untuk mengenang pengalaman itu, Ryonen menulis sebuah puisi:
Sebagai hamba Ratu Putri aku membakar dupa untuk mengharumkan pakaianku yang indah
Sekarang sebagai pengemis tak berumah aku membakar wajahku untuk memasuki dunia Zen.

Ketika ia menyadari bahwa saatnya telah tiba untuk meninggalkan dunia ini, ia menulis puisi lagi:

Enam puluh kali mata ini memandang keindahan musim gugur……….. 
Tak usahlah menginginkan lebih baik daripada itu 
Hanya dengarlah suara gemerisik pohon-pohon cemara saat angin tak berhembus.

Selalu ada alasan untuk marah.



Seorang penumpang kereta api menyampaikan pesanan makannya kepada pelayan gerbong restorasi. "Sesudah makan saya pesan roti tart dan es krim," katanya.

Pelayan itu mengatakan bahwa tidak ada roti tart. Orang itu marah, "Apa?, tidak ada roti tart....?, terlalu...!!. Saya adalah salah satu pemakai jasa kereta api ini yang paling besar. Setiap tahun saya menyelenggarakan perjalanan bagi beribu-ribu wisatawan dan mengirimkan ber ton-ton muatan lewat kereta ini. Lalu ketika saya sendiri naik kereta ini saya tidak dapat memperoleh hal yang begitu sederhana seperti roti tart...!!. Saya akan laporkan kepada pimpinan!"

Juru masak memanggil pelayan itu dan berkata, "Kita dapat mencarikan roti tart baginya ditempat pemberhentian berikutnya."

Segera sesudah perhentian berikutnya, pelayan itu kembali lagi dan berkata, "Saya senang boleh memberitahukan bahwa juru masak kami secara khusus membuat roti tart ini untuk bapak. Ia berharap bapak akan menyukainya. Dan bersama itu kami ingin menyajikan pula brendi tua yang sudah berusia tujuh puluh lima tahun, sebagai tanda hormat kami kepada bapak."

Penumpang itu melemparkan serbetnya ke meja, mengepalkan tinju dan berteriak, "Persetan dengan roti tart itu...!!, saya lebih suka marah!"


Betapa akan kosong hidup kita, kalau tidak ada sesuatu yang dapat kita jadikan alasan untuk marah....................

Jangan memberi tanggapan atas dasar pengandaian dan asumsi kita mengenai yg dikatakan oleh orang lain.

Seorang pemabuk dari desa itu dg berjalan sempoyongan menemui pastor paroki. Dengan membawa surat kabar,ia memberi salam hormat. Pastor merasa terganggu dan mengabaikan salam itu karena orang itu sedang mabuk.
Namun ternyata dengan maksud tertentu.

” Maaf, pastor,” katanya. “Tahukah pastor apa yg menyebabkan arthritis?” Pastor juga mengabaikan pertanyaan itu.

Tetapi ketika orang itu mengulang lagi pertanyaannya, pastor dg agak marah berpaling kepadanya dan berteriak, “Minuman keras menyebabkan arthritis!, berjudi menyebabkan arthritis!, pergi kepelacuran menyebabkan arthritis……!!” Dan baru kemudian, sudah terlambat, ia bertanya, “Mengapa engkau tanyakan itu?”

“Karena dalam surat kabar ini dinyatakan bahwa Paus menderita sakit arthritis!”



*Diambil dari buku Doa sang katak seri 2.
halaman 161

Ketenangan hati

Sang Buddha tidak pernah terganggu oleh cemoohan yang dilontarkan kepadanya oleh seorang pengunjung. Ketika murid-muridnya bertanya mengenai rahasia sikapnya yang tenang itu, ia menjawab;
“Coba bayangkan apa yang akan terjadi bila seseorang membawa persembahan kehadapanmu dan engkau tidak mengambilnya. Atau kalau seseorang mengirimkan surat kepadamu dan engkau tidak mau membukanya, engkau tak akan terpengaruh oleh isinya bukan?. Lakukanlah ini setiap kali engkau diperlakukan kasar, maka engkau tidak akan kehilangan ketenangan hatimu.”


# Satu-satunya martabat yang sejati, adalah martabat yang tidak terendahkan oleh sikap tidak hormat orang lain. Engkau tidak akan mengurangi keagungan air terjun Niagara dengan meludahinya.

Keterikatan akan hal yang sepele

Inilah kisah yang diceritakan oleh sang Guru kepada murid-muridnya untuk menunjukkan kerugian yg dapat diakibatkan oleh keterikatan akan suatu hal yg sepele, dalam diri orang-orang yang telah kaya dalam rahmat hidup batin:

Pada suatu ketika seorang desa berjalan melewati sebuah gua di pegunungan, persis pada waktu gua itu menampakkan keajaiban-keajaibannya yang jarang tampak, kepada semua orang yang ingin memperkaya diri mereka dengan harta yang ada di dalamnya. Ia masuk kedalamnya dan melihat gunung emas dan batu-batu berharga. Dengan tergesa-gesa ia memasukkannya kedalam kantung yang ada di punggung keledainya, karena ia tahu dari legenda gua, bahwa gua itu hanya akan terbuka dalam jangka waktu yang sangat terbatas. Maka harta itu harus diambil dengan tergesa-gesa.
Keledai itu penuh dengan muatan dan ia kembali dengan kegembiraan besar karena nasibnya yang begitu baik. Disaat ia akan berangkat kembali kerumah, ia ingat bahwa tongkatnya ketinggalan di gua. Maka iapun kembalimasuk kedalam gua guna mengambil tongkatnya. Tibalah waktu bagi gua untuk menghilang, dan dengan demikian juga orang itu ikut menghilang bersama gua itu tanpa pernah muncul kembali lagi.

# Kalau burung pipit membuat sarangnya di hutan, sarang itu hanya akan menempati sebuah ranting. Kalau rusa memuaskan dahaganya di sungai, ia minum tak lebih daripada yang dapat ditampung oleh perutnya
……………Kita mengumpulkan barang, karena hati kita kosong……………

Samuel



Samuel sedang tenggelam dalam kesedihan, dan tak ada yang dapat menyalahkan. Tuannya telah menyuruhnya keluar dari rumahnya dan ia tidak tahu harus pergi kemana. Tiba-tiba ia melihat titik terang, mungkin ia dapat hidup dengan teman baiknya… Moshe. Pikiran ini sangat menenangkan hati Samuel,sampai suatu pikiran lain dating dibenaknya; “Apa yang membuatmu begitu yakin bahwa Moshe akan memperbolehkanmu tinggal ditempatnya?” “Mengapa tidak?” kata Samuel menanggapi pikiran itu dengan sedikit bernafsu. “Sayalah yang mendapatkan tempat dimana ia tinggal sekarang, sayalah yang meminjaminya uang untuk membayar uang sewa selama enam bulan pertama. Pastilah sekurang-kurangnya ia akan memperbolehkan saya tinggal seminggu di rumahnya kalau saya dalam kesulitan seperti ini.”
Ia menenangkan hatinya , sampai sesudah makan malam pikirannya dating lagi; “Seandainya dia menolak?“ “Menolak?” kata Samuel. “Demi Allah, mengapa ia sampai menolak?. Segala sesuatu yang dimilikinya adalah berkat jasa saya. Sayalah yang mencarikan pekerjaan baginya, sayalah yang memperkenalkannya kepada istrinya yang cantik yang sudah melahirkan tiga anak yang begitu ia banggakan. Akankah ia menolak membiarkan saya tinggal barang satu minggu di rumahnya?. Tidak mungkin!“
Ini menenangkan hatinya, sampai ia pergi tidur dan ternyata ia tidak bisa memejamkan mata karena pikiran lain dating lagi, “Tetapi andaikan saja, andaikan saja ia menolak. Lalu mau apa?” Ini sangat mengganggu Samuel. “Persetan, bagaimana mungkin ia bisa menolak?” katanya dengan nada marah. “Orang itu hari ini masih hidup karena jasa saya. Waktu ia masih kecil saya menyelamatkannya ketika ia mau tenggelam. Akankah ia menjadi orang yang begitu tidak tahu terimakasih dan membiarkan saya di jalanan dalam musim dingin in?”
Namun pikiran itu terus datang saja. “Andaikan…… “ Samuel yang malang it uterus bergulat dengan pertanyaan itu. Akhirnya ia bangkit dari tempat tidurnya sekitar jam 2 (dua) pagi, pergi kerumah Moshe dan membunyikan bel dirumahnya, panjang sekali. Moshe masih setengah tidur itu membuka pintu dan berkata setengah terkejut, “Samuel!, ada apa?. Mengapa dating kemari tengah malam seperti ini?” saat itu Samuel sangat marah tidak dapat menahan dirinya dan berteriak, “Akan saya katakana mengapa saya pergi kesini pada tengah malam seperti ini..! Kalau kau piker saya mau minta agar engkau memperbolehkan barang satu hari di rumahmu, engkau keliru. Saya tidak mau berurusan denganmu, rumahmu, istrimu atau keluargamu. Persetan dengan semua itu!” setelah mengucapkan kata-kata itu ia berbalik dan pergi.

Semua yang kau berikan kepada orang lain adalah pemberian untuk dirimu sendiri.

Seorang petani jagung yang selalu mendapat hadiah utama dalam Perlombaan Tani Nasional, mempunyai kebiasaan membagi-bagikan biji jagung yang paling baik kepada petani-petani di sekitarnya.

Ketika ditanya mengapa ia berbuat demikian, ia menjawab, "Sebenarnya saya melakukan hal itu untuk kepentingan diri saya sendiri. Angin menerbangkan serbuk-serbuk dan membawanya dari ladang ke ladang. Maka kalau petani disekitar saya menanam jagung yang mutunya lebih rendah, penyerbukan silang akan menurunkan mutu jagung saya. Itulah sebabnya saya memikirkan supaya mereka hanya menanam jagung yang paling baik."

KETIKA KEADAAN TIDAK SEPERTI YANG KITA INGINKAN, KETAHUILAH BAHWA TUHAN MEMILIKI RENCANA YANG INDAH UNTUK KITA.

Alkisah, ada tiga pohon di dalam hutan.
Suatu hari, ketiganya saling menceritakan mengenai
harapan dan impian mereka.

Pohon pertama berkata: "Kelak aku ingin menjadi peti
harta karun. Aku akan diisi emas, perak dan berbagai
batu permata dan semua orang akan mengagumi
keindahannya".

Kemudian pohon kedua berkata: "Suatu hari kelak aku
akan menjadi sebuah kapal yang besar. Aku akan
mengangkut raja-raja dan berlayar ke ujung dunia. Aku
akan menjadi kapal yang kuat dan setiap orang merasa
aman berada dekat denganku".

Lalu giliran pohon ketiga yang
menyampaikan impiannya: "Aku ingin tumbuh menjadi
pohon yang tertinggi di hutan di puncak bukit.
Orang-orang akan memandangku dan berpikir betapa aku
begitu dekat untuk menggapai surga dan TUHAN. Aku akan
menjadi pohon terbesar sepanjang masa dan orang-orang
akan mengingatku.

Setelah beberapa tahun berdoa agar impian terkabul,
sekelompok penebang pohon datang dan menebang ketiga
pohon itu...

Pohon pertama dibawa ke tukang kayu. Ia sangat senang
sebab ia tahu bahwa ia akan dibuat menjadi peti harta
karun. Tetapi... doanya tidak menjadi kenyataan karena
tukang kayu membuatnya menjadi kotak tempat menaruh
makanan ternak. Ia hanya diletakkan di kandang dan
setiap hari diisi dengan jerami.

Pohon kedua dibawa ke galangan kapal. Ia berfikir
bahwa doanya menjadi kenyataan. Tetapi... ia
dipotong-potong dan dibuat menjadi sebuah perahu
nelayan yang sangat kecil. Impiannya menjadi kapal
besar untuk mengangkut raja-raja telah berakhir.

Pohon ketiga
dipotong menjadi potongan-potongan kayu besar dan
dibiarkan teronggok dalam gelap.

Tahun demi tahun berganti..., dan ketiga pohon itu
telah melupakan impiannya masing-masing.

Kemudian suatu hari...

Sepasang suami istri tiba di kandang. Sang istri
melahirkan dan meletakkan bayinya di kotak tempat
makanan ternak yang dibuat dari pohon pertama.
Orang-orang datang dan menyembah bayi itu. Akhirnya
pohon pertama sadar bahwa didalamnya telah diletakkan
harta terbesar sepanjang masa

Bertahun-tahun kemudian... sekelompok laki-laki naik
ke atas perahu nelayan yang dibuat dari pohon kedua.
Ditengah danau, badai besar datang dan pohon kedua
berfikir bahwa ia tidak cukup kuat untuk melindungi
orang-orang di dalamnya. Tetapi salah seorang
laki-laki itu berdiri dan berkata kepada badai:
"Diam!!!" Tenanglah". Dan badai itupun berhenti.
Ketika itu tahulah bahwa ia telah mengangkut Raja
diatas segala raja

Akhirnya... seseorang datang dan mengambil pohon
ketiga. Ia dipikul sepanjang jalan sementara
orang-orang mengejek lelaki yang memikulnya. Laki-laki
itu kemudian dipakukan di kayu ini dan mati di puncak
bukit. Akhirnya pohon ketiga sadar bahwa ia demikian
dekat dengan TUHAN, karena YESUSlah yang disalibkan
padanya...

SAHABATKU





Malik bin Dinar, sangat marah karena seorang pemuda yang hidup di sebelah rumahnya bertindak kurang ajar. Lama ia tidak berbuat apa-apa. Ia berharap, orang lain akan turun tangan. Tetapi setelah perilaku pemuda itu menjadi sungguh keterlaluan, maka Malik menegurnya, agar ia mengubah kelakuannya.

Pemuda itu dengan tenang memberitahu Malik, bahwa ia dilindungi oleh Sultan dan tidak seorang pun dapat menghalangi apa pun yang dikehendakinya.

Malik berkata: 'Aku sendiri akan mengadu kepada Sri Sultan.' Pemuda itu menanggapi: 'Samasekali tidak ada gunanya. Sebab, Sri Sultan tidak pernah berubah pandangan mengenai diriku.'

'Kalau begitu, engkau akan kulaporkan kepada Pencipta di surga!, kata Malik. 'Pencipta di surga?' tukas pemuda itu. 'Ia Maharahim sehingga tidak akan mempersalahkan aku!'

Malik tidak dapat berbuat apa-apa. Maka ditinggalkannya pemuda itu. Tetapi beberapa waktu kemudian nama si pemuda menjadi begitu jelek, hingga orang banyak pun menentangnya. Malik merasa wajib untuk mencoba memperingatkannya lagi. Ketika ia berjalan menuju rumah pemuda tersebut ia mendengar Suara dalam batinnya: 'Awas! Jangan menyentuh sahabatku. Ia ada di bawah perlindunganKu.' Malik menjadi bingung. Waktu bertemu muka dengan pemuda itu, ia tidak tahu apa yang harus ia katakan.

Pemuda itu bertanya: 'Mengapa engkau datang?' Jawab Malik: 'Aku datang untuk menegurmu, tetapi di tengah jalan kudengar Suara yang melarangku untuk menyinggungmu, karena engkau berada di bawah perlindunganNya.'

Wajah pemuda bergajulan itu berubah: 'Benarkah Ia menyebut aku sahabatNya?' tanyanya. Tetapi pada saat itu Malik sudah meninggalkan rumahnya. Bertahun-tahun kemudian Malik berjumpa dengannya di Mekah. Ia begitu tersentuh oleh perkataan Suara itu, sehingga ia membagi-bagikan seluruh harta bendanya dan menjadi pengemis pengembara. 'Aku datang kemari untuk mencari Sahabatku,' katanya kepada Malik. Lalu ia meninggal.

Tuhan, sahabat orang berdosa? Pernyataan ini amat berbahaya, tetapi sekaligus berkekuatan luar biasa. Aku pernah mencobanya pada diriku sendiri, ketika aku berkata: 'Tuhan Maharahim sehingga tidak akan mempersalahkan aku.' Dan tiba-tiba aku mendengar Kabar Gembira, --pertama kali dalam hidupku.

(Burung Berkicau, Anthony de Mello SJ, Yayasan Cipta Loka Caraka, Cetakan 7, 199

Engkau Itu Siapa ?






Wanita dalam sakratul maut menghadapi ajalnya. Ia tiba-tiba merasa, bahwa ia dibawa ke surga dan berdiri di muka Takhta Pengadilan.

"Siapa engkau itu?" kata suara kepadanya. "Aku ini istri lurah," jawabnya. "Aku tidak bertanya kepadamu, engkau istri siapa, tetapi engkau itu siapa?" "Aku ini ibu empat orang anak." "Aku tidak bertanya, engkau ibunya siapa, tetapi siapa engkau itu?" "Aku ini guru di sekolah." "Aku tidak menanyakan pekerjaanmu, tetapi siapa engkau itu."

Dan demikianlah seterusnya. Tidak peduli apa yang menjadi jawabannya, rupanya itu bukan jawaban yang memuaskan terhadap pertanyaan: "Engkau itu siapa?"

"Aku ini seorang Kristen." "Aku tidak menanyakan agamamu, tetapi engkau itu siapa." "Aku ini seseorang, yang tiap hari pergi ke gereja dan selalu membantu orang miskin dan orang dalam kesulitan." "Aku tidak menanyakan perbuatanmu, tetapi siapa engkau itu."

Ia jelas gagal dalam ujian, oleh karena itu ia dikirim kembali ke dunia. Ketika sembuh dari sakitnya ia berniat menemukan siapa dia. Dan itulah yang membuat segalanya berbeda sama sekali.

Tugasmu itu berada. Tidak menjadi seseorang atau bukan apa-apa - sebab disitu ada keserakahan dan ambisi - tidak menjadi ini dan itu; - dengan demikian menjadi bersyarat - tetapi hanya ada saja.


Anthony De Mello SJ

MANGKUK EMAS MILIK NAGARJUNA

Nagarjuna, seorang buddha suci yang agung, ke mana-mana
pergi hampir telanjang hanya terbungkus kain
compang-camping. Anehnya ia juga membawa mangkuk dari emas
yang diberikan kepadanya oleh raja yang pernah menjadi
muridnya untuk tempat minta-minta.

Pada suatu malam ketika ia hendak membaringkan diri dan
tidur di antara reruntuhan sebuah biara tua, ia melihat ada
seorang pencuri yang bersembunyi di balik sebuah tiang. "Ke-
sini, ambillah ini," kata Nagarjuna sambil mengacungkan
mangkuk yang biasa dipakai untuk minta-minta. "Dengan
demikian engkau tidak akan mengganggu saya pada waktu saya
sudah tertidur."

Dengan senang hati pencuri itu merebut mangkuk itu dan
pergi. Esok paginya ia kembali dengan mangkuk itu dengan
suatu permohonan. Ia berkata, "Ketika engkau melepaskan
mangkuk ini dengan hati yang begitu bebas tadi malam, engkau
membuat saya merasa begitu miskin. Ajarilah saya untuk
memperoleh kekayaan yang menumbuhkan ketidakterikatan hati
yang begitu bebas."

Tidak seorang pun dapat merebut dari padamu hal yang tak
pernah engkau rebut bagi dirimu sendiri.


(DOA SANG KATAK 2, Anthony de Mello SJ,
Penerbit Kanisius, Cetakan 12, 1990)

TUHAN MENOLONG MELALUI TIGA PERAHU PENYELAMAT

Seorang yg beriman duduk di muka meja dekat jendela, ketika ia mendengar
sesuatu seperti ledakan. Segera ia melihat orang lalu-lalang
berlari-lari dalam kepanikan dan menemukan, bahwa bendungan
telah meledak, sungai meluap dan rakyat sedang diungsikan.

Orang yg beriman itu melihat air semakin tinggi di jalanan bawah. Ia merasa
sedikit sulit menekan rasa panik yang mencengkam, tetapi ia
berkata: "Aku akan tetap tinggal di sini dan percaya Tuhan akan datang
untuk menolong aku."

Ketika air sudah sampai di jendela, perahu penuh orang
lewat. "Naiklah," teriak mereka. "Ah tidak anak,"
kata Orang yg beriman itu penuh percaya. "Aku percaya
Tuhan akan menolong aku."

Ia memang betul naik ke atap, tetapi ketika air sampai
di sana, seperangkat orang dalam perahu lewat, mendesak
pastor agar naik, sekali lagi ia menolak.

Kali ini ia naik ke genteng. Ketika air sampai
di lututnya, seorang petugas dalam perahu motor dikirim
untuk menolongnya. "Terimakasih, saudara," kata orang itu
dengan senyum tenang. "Aku percaya kepada Tuhan. Ia tidak
akan meninggalkan aku."

Ketika ia tenggelam dan naik ke surga, pertama-tama yang
ia lakukan ialah mengeluh kepada Tuhan. "Aku percaya
kepada-Mu. Mengapa Engkau tidak berbuat apa-apa untuk
menolong aku."

"Ah," kata Tuhan. "Aku sudah mengirim perahu tiga kali."


#Tuhan sudah menolong kita melalui orang lain tanpa kita sendiri menyadarinya,
dan pertolongan yg kita berikan kepada sesama kita hanyalah jalan yg dipakai oleh Tuhan.
Berbahagialah kita yg tangan2nya dan tutur bicaranya menjadi jalan Tuhan....

PIKIRAN AKAN TUHAN DAN WANITA CANTIK


Imam setempat kerap dilihat bicara dengan wanita cantik yang
terkenal sebagai perempuan jalang - dan di muka umum lagi,
menjadi batu sandungan bagi umatnya.

Ia dipanggil oleh uskupnya dan mendapat marah besar. Ketika
uskup sudah selesai, imam berkata: "Bapa uskup, Aku selalu
berpikir, bahwa lebih baik berbicara kepada wanita cantik
dengan gagasan tertuju kepada Tuhan daripada berdoa kepada
Tuhan, dengan pikiran tertuju kepada wanita cantik."

Kalau rahib masuk kedai minuman kedai itu menjadi
pertapaannya. Kalau pemabuk masuk pertapaan, pertapaan
menjadi kedai minumannya.

(DOA SANG KATAK 1, Anthony de Mello SJ,
Penerbit Kanisius, Cetakan 12, 1996)

Kisah Pria dan Wanita




Ada sebuah kisah tentang penciptaan pria & wanita. Pada saat Sang Pencipta
telah selesai menciptakan pria. Ia baru menyadari bahwa Ia juga harus
menciptakan wanita.

Padahal semua bahan untuk menciptakan manusia sudah habis dipakai untuk
menciptakan pria. Kemudian Sang Pencipta merenung sejenak, dan kemudian Ia
mengambil lingkaran bulan purnama, kelenturan ranting pohon anggur, goyang
rumput yang tertiup angin, mekarnya bunga, kelangsingan dari buluh galah,
sinar dari matahari, tetes embun dan tiupan angin.

Ia juga mengambil rasa takut dari kelinci dan rasa sombong dari merak,
kelembutan dari dada burung dan kekerasan dari intan, rasa manis dari madu
dan kekejaman dari harimau, panas dari api dan dingin dari salju, keaktifan
bicara dari burung kutilang dan nyanyian dari burung bul-bul, kepalsuan dari
burung bangau dan kesetiaan dari induk singa.

Dengan mencampurkannya bahan semua itu, maka Sang Pencipta membentuk wanita
dan memberikannya kepada pria. Pria itu merasa senang sekali karena hidupnya
tidak merana dan kesepian seorang diri.

Setelah satu minggu, pria itu datang kepada Tuhan, katanya: ‘Tuhan,
ciptaan-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku membuat hidupku tidak bahagia.
Ia bicara tiada henti sehingga aku tidak dapat beristirahat. Ia minta selalu
untuk diperhatikan. Ia mudah menangis karena hal-hal sepele. Aku datang
untuk mengembalikan wanita itu kepada-Mu, karena aku tidak bisa hidup
dengannya’.

‘Baiklah’, kata Sang Pencipta. Dan Ia mengambilnya kembali. Beberapa minggu
kemudian, pria itu datang lagi kepada Tuhan, dan berkata, ‘Tuhan, sejak aku
memberikan kembali wanita ciptaan-Mu, kini aku merana kesepian.

Tiada lagi yang memperhatikanku, tiada lagi yang menyayangiku. Aku selalu
memikirkan dia, ke mana pun aku pergi, aku selalu ingat dia. Makan tidak
enak, tidur tidak nyenyak. Aku rindu kepadanya. Di kala aku sendirian,
kubayangkan wajahnya yang cantik, kubayangkan bagaimana ia menari dan
menyanyi. Bagaimana ia melirik aku. Bagaimana ia bercakap-cakap dan manja
kepadaku. Ia sangat cantik untuk dipandang, dan sedemikian lembut untuk
disentuh. Aku suka akan senyumannya.

Tuhan, kembalikan lagi wanita itu kepadaku!’.

Sang Pencipta berkata, ‘Baiklah’. Ia memberikan wanita itu kembali
kepadanya. Tetapi, tiga hari kemudian pria itu datang lagi kepada Tuhan dan
berkata, ‘Tuhan, aku tidak mengerti. Mengapa dia memberikan lebih banyak
lagi kesusahan dari pada kegembiraan. Dia semakin menyebalkan. Aku tidak
tahan lagi dengan sikap dan tingkah lakunya. Aku berdoa kepada-Mu.

Ambillah kembali wanita itu. Aku tidak dapat lagi hidup dengannya’.

Sang Pencipta balik bertanya, ‘Kamu tidak dapat hidup lagi dengannya?’.

Pria itu tertunduk malu, ia merasa putus asa. Dalam hatinya ia berkata, ‘Apa
yang harus aku perbuat? Aku tidak dapat hidup dengannya, tetapi aku juga
tidak dapat hidup tanpa dia. Tuhan, ajarilah aku untuk mengerti apa arti
hidup ini?’.

‘Belajarlah untuk memahami perbedaan dan belajarlah untuk berani menerima
perbedaan dalam hidupmu! Pahamilah dan usahakanlah apa yang menjadi
kebutuhan mendasar dari pasangan hidupmu!’, jawab Tuhan.

Dan inilah enam kebutuhan mendasar pria dan wanita:
1. Wanita membutuhkan perhatian, dan pria membutuhkan kepercayaan.
2. Wanita membutuhkan pengertian, dan pria membutuhkan penerimaan.
3. Wanita membutuhkan rasa hormat, dan pria membutuhkan penghargaan.
4. Wanita membutuhkan kesetiaan, dan pria membutuhkan kekaguman.
5. Wanita membutuhkan penegasan, dan pria membutuhkan persetujuan.
6. Wanita membutuhkan jaminan, dan pria membutuhkan dorongan

GEMBALA SUKA SEGALA CUACA






Orang bepergian: "Akan seperti apa cuaca hari ini?"

Gembala: "Cuaca yang saya sukai."

"Bagaimana engkau tahu cuaca akan seperti yang kausukai? "

"Tuan, karena saya sudah mengalami bahwa saya tidak selalu
memperoleh yang saya inginkan, saya sudah belajar untuk
selalu menyukai yang saya dapatkan. Maka saya yakin bahwa
cuaca hari ini akan seperti yang saya sukai."



#Kegembiraan dan tidak adanya kegembiraan terletak pada cara
kita menghadapi kejadian-kejadian, tidak pada hakikat
kejadian-kejadian itu sendiri.

(DOA SANG KATAK 2, Anthony de Mello SJ,
Penerbit Kanisius, Cetakan 12, 1990)

Ideologi




Sungguh pedih membaca tentang kebengisan manusia terhadap sesamanya. Inilah sebuah laporan suratkabar tentang penyiksaan yang dilakukan di penjara-penjara modern.

Korban diikat pada kursi besi.
Arus listrik dialirkan dalam tubuhnya,
semakin lama semakain kuat
sampai akhirnya ia mengaku.
Algojo mengepalkan tinjunya dan
menghantam telinga si korban bertubi-tubi,
sampai gendang telinganya pecah.

Seorang tahanan didudukkan di kursi dokter gigi.
Kemudian dokter mengebor giginya sampai
menyentuh syaraf. Pengeboran berjalan terus,
sampai akhirnya si korban menyerah.

Manusia pada hakekatnya bukan makhluk yang bengis. Ia menjadi bengis, kalau ia merasa tidak bahagia atau --kalau ia menganut suatu ideologi. Satu ideologi melawan ideologi yang lain; satu sistem melawan sistem yang lain; satu agama melawan agama yang lain. Dan manusia terhimpit di antaranya.

Orang-orang yang menyalib Yesus itu barangkali bukan orang yang kejam. Mungkin sekali mereka itu suami yang penuh pengertian dan ayah yang mencintai anak-anaknya. Mereka bisa menjadi kejam begitu demi mempertahankan suatu sistem, ideologi atau agama.

Seandainya orang-orang beragama itu selalu lebih mengikuti suara hati mereka daripada logika agamanya, kita tidak perlu menyaksikan pengikut-pengikut bidaah dibakar, janda-janda terjun dalam api pembakaran jenasah suaminya dan jutaan manusia yang tidak berdosa dibantai dalam peperangan-peperangan yang dilancarkan atas nama agama dan Allah.

Kesimpulannya: Jika engkau harus memilih antara suara yang penuh belaskasih dan tuntutan ideologi, tolaklah ideologi tanpa ragu-ragu. Belaskasih tidak bersifat ideologis.


(Burung Berkicau, Anthony de Mello SJ, Yayasan Cipta Loka Caraka, Cetakan 7, 1994)

AKU MEMOTONG KAYU






Ketika seorang guru Zen mencapai penerangan budi, ia menulis baris-baris berikut ini untuk memperingatinya:
'Wahai, keajaiban yang mengagumkan:
Aku memotong kayu!
Aku menimba air dari sumur!'

Bagi kebanyakan orang, tidak ada sesuatu yang mengagumkan dalam perbuatan sehari-hari seperti menimba air dari sumur atau memotong kayu. Sesudah penerangan budi, sebetulnya tidak ada sesuatu yang berubah. Segala sesuatu tetap sama. Hanya saja saat itu hatimu penuh rasa kagum. Pohon masih tetap pohon. Orang-orang masih tetap sama seperti dahulu, demikian juga engkau. Kehidupan berjalan terus, tiada bedanya. Mungkin kamu masih pemurung atau pemarah, penuh pertimbangan atau gegabah, sama seperti sebelumnya. Tetapi ada satu perbedaan besar: Sekarang semuanya itu kau lihat dengan mata yang berbeda. Engkau semakin terlepas dari semuanya. Dan hatimu penuh dengan rasa kagum.

Inilah inti dari kontemplasi: ada rasa kagum.


Kontemplasi berbeda dengan ekstase, karena ekstase membuat orang mengasingkan diri. Seorang kontemplatif yang telah mendapat penerangan budi tetap akan memotong kayu dan menimba air dari sumur. Kontemplasi berbeda dengan menikmati keindahan, karena menikmati keindahan (sebuah lukisan atau matahari) menimbulkan kepuasan estetis, sedangkan kontemplasi menimbulkan rasa kagum --entah apa yang dilihat, matahari terbenam atau sebongkah batu saja.

Inilah keistimewaan yang terdapat pada anak kecil: Sering ia merasa kagum. Maka selayaknya ia masuk ke dalam Surga.





(Burung Berkicau, Anthony de Mello SJ, Yayasan Cipta Loka Caraka, Cetakan 7, 1994)

PEMUDA ARAB YANG SEDERHANA




Guru Arab Jalalud-Din Rumi senang sekali menceritakan kisah berikut ini:

Pada suatu hari Nabi Muhammad sedang bersembahyang subuh di mesjid. Di antara orang-orang yang ikut berdoa dengan Nabi adalah seorang pemuda Arab.

Nabi mulai membaca Qur'an dan mendaras ayat yang menyatakan perkataan Firaun: 'Aku ini dewa yang benar.' Mendengar perkataan itu pemuda yang baik itu tiba-tiba menjadi marah. Ia memecah keheningan dengan berteriak: 'Pembual busuk, bangsat dia!'

Nabi berdiam diri. Tetapi seusai sembahyang, orang-orang lain mencela orang Arab itu dengan gusar: 'Apakah engkau tidak tahu malu? Niscaya doamu tidak berkenan kepada Tuhan. Sebab, engkau tidak hanya merusak kekhusukan suasana doa, tetapi juga mengucapkan kata-kata kotor di hadapan Rasul Allah.'

Wajah pemuda yang malang itu menjadi merah padam dan ia gemetar ketakutan, sampai-sampai Malaikat Jibrail menampakkan diri pada Nabi dan bersabda: 'Assalamuallaikum! Allah berfirman agar engkau menyuruh orang banyak berhenti mencaci-maki pemuda yang sederhana ini. Sungguh, sumpah serapahnya yang jujur berkenan di hatiKu, melebihi doa orang-orang saleh.'

Bila kita berdoa, Tuhan melihat ke dalam hati kita dan bukan pada rumusan kata-kata.
(Burung Berkicau, Anthony de Mello SJ, Yayasan Cipta Loka Caraka, Cetakan 7, 1994)

MENARI TANPA KAKI

Pada suatu ketika, di sebuah kamp tconsentrasi hiduplah
seorang tahanan, yang meskipun sudah dijatuhi hukuman mati
tetap tidak merasa takut dan merdeka. Pada suatu hari ia
tampak berada di tengah-tengah lapangan penjara sedang
bermain gitar. Sejumlah besar orang berkumpul di
sekelilingnya mendengarkan alunan musiknya dan di bawah
pengaruh musik itu mereka pun menjadi tidak merasa takut.
Ketika para pembesar penjara melihat ini, mereka melarang
orang itu bermain gitar.

Akan tetapi hari berikutnya, orang itu kembali lagi di
tempat yang sama, bernyanyi dan memainkan gitar dengan
orang-orang yang jumiahnya lebih besar lagi. Dengan marah
para penjaga menyeretnya dan memotong jari-jari tangannya.

Hari berikutnya ia kembali lagi, bernyanyi dan bermain musik
sedapat-dapatnya dengan jari-jarinya yang berdarah. Kali ini
orang-orang yang datang di sekelilingnya bersorak-sorai.
Para penjaga menyeretnya lagi dan membanting gitarnya sampai
hancur.

Pada hari berikutnya ia bernyanyi dengan segenap hatinya.
Nyanyian yang sangat indah! Begitu merdu dan menyentuh hati!
Orang banyak menggabungkan diri dan selama mereka bernyanyi
hati mereka menjadi begitu jernih seperti hatinya dan jiwa
mereka menjadi tak dapat ditaklukkan seperti jiwanya. Kali
ini penjaga begitu marah sehingga mereka memotong lidah
orang itu.

Keheningan menyelimuti seluruh penjara, sesuatu yang tak
terkalahkan oleh maut.

Semua orang heran, ketika pada hari berikutnya ia kembali ke
tempat yang sama sambil berlenggang dan menari diiringi
musik yang tidak dapat didengar oleh orang lain kecuali dia
sendiri. Segera saja semua orang saling bergandengan tangan,
menari di sekitar tubuhnya yang berdarah dan hancur,
sementara para penjaga berdiri terpaku penuh kekaguman.

Karir Sudha Chandran, seorang penari klasik India, terhenti
ketika berada di puncak ketenarannya, karena kaki kanannya
harus dipotong. Sesudah ia terbiasa lagi dengan kaki tiruan,
ia kembali menari. Sangat mengherankan, ia kembali sampai ke
puncak ketenarannya. Ketika ditanya bagaimana ia dapat
melakukan hal itu, dengan sederhana ia menjawab, "Anda tidak
membutuhkan dua kaki untuk menari."

(DOA SANG KATAK 2, Anthony de Mello SJ,
Penerbit Kanisius, Cetakan 12, 1990)

Kebahagiaan



Ada seorang pemuda terkena penyakit yang mengharuskan usus kecilnya dipotong sepanjang satu meter. Setelah operasi dilakukan, ternyata penyakit yang dideritanya tidak juga hilang. Operasi itu dilakukan sekedar membuang bagian ususnya yang sudah rusak.

Selama proses penyembuhan dari operasi, pemuda itu harus berpuasa selama 10 hari. Tidak makan dan tidak minum. Dia mendapatkan cairan tubuhnya hanya dari infus. Sesudah itu barulah dia bisa menerima minuman dan setelah beberapa hari kemudian mulai bisa makan makanan cair.

Selama berpuasa setelah operasi, saat masih terbaring di rumah sakit, istrinya menghubungi saya dan menceritakan keadaan suaminya. Lewat istrinya saya menganjurkan agar pemuda itu mengembangkan pikiran yang penuh cinta kasih.

Setelah keluar dari rumah sakit, pemuda itu datang menemui saya. Dia mengatakan bahwa saat terbaring di rumah sakit - saat merasakan kesakitan yang besar dan merasa sedih karena ternyata penyakitnya tidak bisa disembuhkan - sulit bagi dirinya untuk mengembangkan pikiran penuh cinta kasih.

Dia berkata "Saya sendiri sangat membutuhkan pertolongan. Keadaan saya sangat buruk. Bagaimana mungkin saya bisa mengembangkan pikiran cinta kasih? Bukankah saya sendiri yang sebenarnya harus dikasihani?"

Saya berkata, "Sejak Anda mulai memikirkan diri sendiri, sejak Anda mulai menuntut, maka pada saat itulah Anda mulai merasa menderita. Sebaliknya, sejak Anda mulai memikirkan orang lain, mengharapkan orang lain bahagia, justru pada saat itulah Anda mulai merasa bahagia. Dengan mengembagnkan pikiran penuh cinta kasih, saya berharap semoga penderitaan yang Anda rasakan bisa berkurang."

Pemuda-pemudi ketika masih berpacaran, mereka sangat memperhatikan pasangannya. Mereka berusaha saling membahagiakan pasangannya. Oleh karena ingin membahagiakan pasangannya, perasaan mereka dipenuhi kebahagiaan. Tetapi setelah menikah, biasanya mereka mulai banyak berharap kepada pasangannya.

Mereka menuntut pasangannya untuk ini dan itu, menuntut pasangannya untuk bersikap begini dan begitu. Ketika mereka mulai memikirkan diri sendiri dan mulai banyak menuntut, pada saat itulah penderitaan mulai datang.

Penderitaan datang saat kita menuntut orang lain untuk membahagiakan kita. Sebaliknya, kebahagiaan datang justru saat kita ingin membahagiakan orang lain.

Falsafah 5 Jari :

1.. Ada si gendut jempol yang selalu berkata baik dan menyanjung.
2.. Ada telunjuk yang suka menunjuk dan memerintah.

3.. Ada si jangkung jari tengah yang sombong dan suka menghasut jari telunjuk.
4.. Ada jari manis yang selalu menjadi teladan, baik, dan sabar sehingga diberi hadiah cincin.
5.. Dan ada kelingking yang lemah dan penurut serta pemaaf (ingatkah kamu waktu kecil kalau kita berbaikan dengan musuh kita pasti saling sentuh jari kelingking?).
Dengan perbedaan positif dan negatif yang dimiliki masing-masing jari, mereka bersatu untuk mencapai tujuan (menulis, memegang, menolong anggota tubuh yg lain, melakukan pekerjaan, dll).
Sahabat, Pernahkah kita bayangkan bila tangan kita hanya terdiri dari jempol semua?
Falsafah ini sederhana namun sangat berarti. Kita diciptakan dengan segala perbedaan yang kita miliki dengan tujuan untuk bersatu, saling menyayangi,saling menolong, saling membantu, saling mengisi, bukan untuk saling menuduh, menunjuk, merusak, dan bahkan membunuh.
Sudahkah kasih sayang kamu hari ini bertambah? hmm.......

My bag, my mind



My bag, setiap hari sebagian besar dari kita membawa tas kerja dalam perjalanan pergi dan pulang kantor. Terutama untuk kaum wanita, tas merupakan salah satu atribut penampilan yang penting.

Waktu libur, cobalah bongkar semua isi tas kita. Ternyata kadang sepertiga atau separuh dari isi tas itu adalah barang2 yg sdh tidak kita perlukan: struk ATM yg sdh buram, bungkus tissue, agenda/buku yg jarang dibaca, sekumpulan uang logam yg kotor, pen yg sdh macet, kumpulan tagihan kartu kredit bulan2 lalu, kertas2 brosur kadaluarsa dsbnya. Meski mungkin ringan tetapi umumnya barang2 yg tdk diperlukan itu terus menambah berat tas kita sehingga kita sebaiknya menyortir & membuang brg2 yg tdk berguna yg membebani tas kita.

My Mind, kadang mirip dgn My Bag diatas, pikiran kita (tanpa disadari) selama ini sering kita bebani dgn hal2 yg tdk perlu : penyesalan masa lalu, kecewa, jengkel, iri, egois, kurang kooperatif, perasaan tdk puas atas kondisi yg terjadi, rendah diri, konflik keluarga dan sebagainya. Pikiran2 yg tdk perlu itu akan terus membebani perjalanan hidup kita sehingga dampaknya raut wajah akan kelihatan suntuk, jutek, stress, hidup kurang nyaman dan yg parah adalah kita akan membenci hal-hal yg tak sesuai dgn kemauan kita.

Yang harus kita lakukan terhadap My Mind adalah sama dgn apa yang kita lakukan dengan My Bag diatas. Sortir & buanglah segala beban pikiran yg tdk ada manfaatnya itu. Lakukan itu tiap pagi dan ciptakan Positive Thinking di setiap pagi ketika kita bangun tidur.

Maka lihatlah... Kita akan menjalani hari ini dengan "ringan" dan menyenangkan... Have a great days!!

Sabtu, 25 Desember 2010

Hati...



... karena yang paling hakiki tidak ada.

Menurut suatu dongeng India kuno, ada seekor tikus yang
selalu tertekan karena takut kepada seekor kucing. Seorang
tukang sihir merasa kasihan kepadanya lalu menqgubahnya
menjadi seekor kucing. Tetapi kemudian ia menjadi takut
kepada anjing. Maka tukang sihir itu mengubahnya menjadi
anjing. Tetapi ia mulai takut kepada harimau. Maka tukang
sihir itu mengubahnya menjadi harimau, yang merasa takut
kepada pemburu. Pada saat itu tukang sihir menyerah. Ia
mengubahnya menjadi seekor tikus lagi dan berkata, "Apa pun
yang saya lakukan tidak akan membantumu karena engkau
mempunyai hati seekor tikus."

(DOA SANG KATAK 2, Anthony de Mello SJ,
Penerbit Kanisius, Cetakan 12, 1990)

APAKAH ALLAH ADA?

"Katakan kepada saya," kata seorang ateis, "apakah Allah itu
sungguh-sungguh ada?"

Jawab Sang Guru, "Jika kamu menginginkan saya
sungguh-sungguh jujur, saya tidak akan menjawab."

Para murid penasaran mengapa ia tidak menjawab.

"Karena pertanyaannya tidak dapat dijawab," kata Sang Guru.

"Jadi, Guru juga ateis?"

"Tentu saja tidak. Orang ateis membuat kesalahan karena
menyangkal kenyataan yang tidak mungkin dijelaskan."

Setelah diam sejenak, ia menambahkan, "Dan orang teis
membuat kesalahan karena mencoba menjelaskannya."

(Berbasa-basi Sejenak, Anthony de Mello,
Penerbit Kanisius, Cetakan 1, 1997

PERSAHABATAN

Dan jika berkata, berkatalah kepada aku tentang kebenaran persahabatan?..Sahabat adalah kebutuhan jiwa, yang mesti terpenuhi.
Dialah ladang hati, yang kau taburi dengan kasih dan kau panen dengan penuh rasa terima kasih.
Dan dia pulalah naungan dan pendianganmu.
Karena kau menghampirinya saat hati lapa dan mencarinya saat jiwa butuh kedamaian.Bila dia bicara, mengungkapkan pikirannya, kau tiada takut membisikkan kata “tidak” di kalbumu sendiri, pun tiada kau menyembunyikan kata “ya”.

Dan bilamana ia diam, hatimu tiada ‘kan henti mencoba merangkum bahasa hatinya; karena tanpa ungkapan kata, dalam rangkuman persahabatan, segala pikiran, hasrat, dan keinginan terlahirkan bersama dengan sukacita yang utuh, pun tiada terkirakan.

Di kala berpisah dengan sahabat, janganlah berduka cita; Karena yang paling kaukasihi dalam dirinya, mungkin lebih cemerlang dalam ketiadaannya, bagai sebuah gunung bagi seorang pendaki, nampak lebih agung daripada tanah ngarai dataran.

Dan tiada maksud lain dari persahabatan kecuali saling memperkaya ruh kejiwaan. Karena kasih yang
masih menyisakan pamrih, di luar jangkauan misterinya, bukanlah kasih, tetapi sebuah jala yang ditebarkan: hanya menangkap yang tiada diharapkan.

Dan persembahkanlah yang terindah bagi sahabatmu.
Jika dia harus tahu musim surutmu, biarlah dia mengenal pula musim pasangmu.
Gerangan apa sahabat itu hingga kau senantiasa mencarinya, untuk sekadar bersama dalam membunuh waktu?
Carilah ia untuk bersama menghidupkan sang waktu!
Karena dialah yang bisa mengisi kekuranganmu, bukan mengisi kekosonganmu.
Dan dalam manisnya persahabatan, biarkanlah ada tawa ria berbagi kebahagiaan.
Karena dalam titik-titik kecil embun pagi, hati manusia menemukan fajar jati dan gairah segar kehidupan.


Kahlil Gibran

LONCENG-LONCENG KUIL

Sebuah kuil dibangun di suatu pulau, tiga kilometer jauhnya dari pantai. Dalam kuil itu terdapat seribu lonceng. Lonceng-lonceng yang besar, lonceng-lonceng yang kecil, semuanya dibuat oleh pengrajin-pengrajin terbaik di dunia. Setiap kali angin bertiup atau taufan menderu, semua lonceng kuil serentak berbunyi dan secara terpadu membangun sebuah simponi. Hati setiap orang yang mendengarkannya terpesona.

Tetapi selama berabad-abad pulau itu tenggelam di dalam laut; demikian juga kuil bersama dengan lonceng-loncengNya.

Menurut cerita turun-temurun lonceng-lonceng itu masih terus berbunyi, tanpa henti, dan dapat didengar oleh setiap orang yang mendengarkannya dengan penuh perhatian. Tergerak oleh cerita ini, seorang pemuda menempuh perjalanan sejauh beribu-ribu kilometer. Tekadnya telah bulat untuk mendengarkan bunyi lonceng-lonceng itu. Berhari-hari ia duduk di pantai, berhadapan dengan tempat di mana kuil itu pernah berdiri, dan mendengarkan, mendengarkan dengan penuh perhatian. Tetapi yang didengarnya hanyalah suara gelombang laut yang memecah di tepi pantai. Ia berusaha mati-matian untuk menyisihkan suara gelombang itu supaya dapat mendengar bunyi lonceng. Namun sia-sia. Suara laut rupanya memenuhi alam raya.

Ia bertahan sampai berminggu-minggu. Ketika semangatnya mengendor, ia mendengarkan orang tua-tua di kampung. Dengan terharu mereka menceritakan kisah seribu lonceng dan kisah tentang mereka yang telah mendengarnya. Dengan demikian ia semakin yakin bahwa kisah itu memang benar. Dan semangatnya berkobar lagi, apabila mendengar kata-kata mereka ... tetapi kemudian ia kecewa lagi, kalau usahanya selama berminggu-minggu ternyata tidak menghasilkan apa-apa.

Akhirnya ia memutuskan untuk mengakhiri usahanya. Barangkali ia tidak ditakdirkan menjadi salah seorang yang beruntung dapat mendengar bunyi lonceng-lonceng kuil itu. Mungkin juga legenda itu hanya omong kosong saja. Lebih baik pulang saja dan mengakui kegagalan, demikian pikirnya. Pada hari terakhir ia duduk di pantai pada tempat yang paling disayanginya. Ia berpamitan kepada laut, langit, angin serta pohon-pohon kelapa. Ia berbaring di atas pasir, memandang langit, mendengarkan suara laut. Pada hari itu ia tidak berusaha menutup telinganya terhadap suara laut, melainkan menyerahkan dirinya sendiri kepadanya. Dan ia pun menemukan suara yang lembut dan menyegarkan di dalam gelora gelombang laut. Segera ia begitu tenggelam dalam suara itu, sehingga ia hampir tidak menyadari dirinya lagi. Begitu dalam keheningan yang ditimbulkan suara gelombang dalam hatinya.

Di dasar keheningan itu, ia mendengarnya! Dentang bunyi satu lonceng disambut oleh yang lain, oleh yang lain lagi dan oleh yang lain lagi ... dan akhirnya seribu lonceng dari kuil itu berdentangan dengan satu melodi yang agung berpadu. Dalam hatinya meluap rasa kagum dan gembira.

Jika engkau ingin mendengar lonceng-lonceng kuil, dengarkanlah suara laut.

Jika engkau ingin melihat Tuhan, pandanglah ciptaan dengan penuh perhatian. Jangan menolaknya, jangan memikirkannya.Pandanglah saja.



(Burung Berkicau, Anthony de Mello SJ, Yayasan Cipta Loka Caraka, Cetakan 7, 1994)

JIMAT




Manusia merasa kesepian dan putus asa hidup di alam semesta yang luas ini. Maka ia selalu dicekam ketakutan.

Agama yang baik menghilangkan ketakutan. Agama yang jelek justru menambahnya.

Seorang ibu kurang berhasil membujuk puteranya yang masih kecil supaya pulang dari bermain sebelum petang hari. Maka ia menakut-nakutinya. Dikatakan kepadanya, bahwa jalan pulang ke rumah penuh dengan setan, yang berkeliaran segera sesudah matahari terbenam. Sekarang ibu itu tak bersusahpayah lagi. Setiap sore anaknya pulang pada waktunya.

Namun waktu si anak bertambah dewasa, ia jadi takut pada kegelapan dan setan, sehingga ia tidak berani keluar rumah di waktu malam. Maka ibunya memberinya sebuah kalung jimat dan meyakinkannya, bahwa selama ia memakai kalung itu, setan-setan tidak akan berani mengganggunya.

Nah, sekarang ia berani keluar di waktu gelap, sambil memegang erat-erat jimat itu.

Agama yang jelek memperkuat kepercayaannya akan jimat. Agama yang baik membuka matanya untuk melihat, bahwa setan-setan tidak ada.



(Burung Berkicau, Anthony de Mello SJ, Yayasan Cipta Loka Caraka, Cetakan 7, 1994)

JONEYED DAN TUKANG CUKUR



Seorang suci bernama Joneyed pergi ke Mekah dengan berpakaian pengemis. Di sana ia melihat seorang tukang sedang mencukur seorang kaya. Ketika ia minta supaya dicukur juga, tukang cukur itu segera meninggalkan orang kaya dan mencukur Joneyed. Ia tidak memungut biaya dari Joneyed. Malah sebaliknya, Joneyed diberinya uang sedekah.

Joneyed begitu terharu sehingga ia berniat untuk memberikan semua sedekah yang akan diterimanya pada hari itu pada si tukang cukur.

Tidak disangka, seorang peziarah yang kaya memberi Joneyed sekarung emas. Joneyed pergi ke kios tukang cukur pada malam itu juga dan menyerahkan sekarung emas itu kepadanya.

Tukang cukur itu mengejeknya:

'Anda ini orang suci macam apa? Tidak malukah Anda membayar sebuah pengabdian cinta?'

Kadang-kadang terdengar orang berkata: 'Tuhan, kami ini sudah berbuat begitu banyak bagimu. Apa ganjaran kami sekarang?'

Kalau ganjaran ditawarkan atau dicari; cinta menjadi barang dagangan.



(Burung Berkicau, Anthony de Mello SJ, Yayasan Cipta Loka Caraka, Cetakan 7, 1994)

BUNGA TERATAI

Aku sangat mengagumi temanku. Ia bermaksud menunjukkan kepada tetangganya, betapa sucinya ia. Bahkan untuk itu sampai-sampai ia mengenakan pakaian khusus. Aku selalu menyangka, bahwa jika orang sungguh-sungguh suci, kesucian itu akan terlihat oleh orang lain tanpa usaha apa pun darinya. Tetapi temanku ini berusaha agar kesuciannya dapat terlihat tetangganya. Ia bahkan mengumpulkan sejumlah murid dengan maksud agar mereka ini menunjukkan kesucian yang mereka miliki. Mereka menyebut hal ini 'memberi kesaksian.'Ketika melewati sebuah kolam, aku melihat sekuntum bunga teratai yang sedang mekar. Tanpa pikir panjang kukatakan kepadanya:'Alangkah indahnya kau, bungaku! Dan betapa jauh lebih indahnya Tuhan yang telah menciptakanmu!'Ia menjadi tersipu-sipu karena ia samasekali tidak menyadari keindahannya yang menakjubkan itu. Dan ia senang karena Tuhanlah yang dimuliakan.Ia menjadi jauh lebih indah justru karena tidak menyadari keindahannya. Dan ia menarik perhatianku, justru karena tidak berusaha untuk memikatku.Tidak jauh dari situ ada kolam lain. Di sana kulihat teratai lain yang menjulurkan daun-daunnya kepadaku dan dengan malu-malu berkata: 'Lihatlah keindahanku dan muliakanlah Penciptaku!'Aku pergi meninggalkannya dengan rasa muak.Kalau aku mulai berusaha memberi teladan yang baik, aku ingin memberi kesan bagi orang lain. Berhati-hatilah terhadap orang Farisi yang bermaksud baik!

(Burung Berkicau, Anthony de Mello SJ, Yayasan Cipta Loka Caraka, Cetakan 7, 1994)

MOHON HATI YANG DAMAI

Dewa Vishnu sudah bosan mendengarkan permohonan salah seorang penyembahnya, hingga suatu ketika ia menampakkan diri di hadapannya dan berkata: 'Sudah kuputuskan, aku akan memberikan tiga hal, apa pun yang kau minta. Sesudah itu, tidak ada sesuatu pun yang akan kuberikan kepadamu lagi.'
Penyembah itu dengan gembira langsung mengajukan permohonan yang pertama. Ia meminta, agar isterinya mati sehingga ia dapat menikah lagi dengan wanita lain yang lebih baik. Permohonannya dikabulkan dengan segera.
Tetapi ketika teman-teman dan sanak saudaranya berkumpul menghadiri pemakaman isterinya, dan mulai mengenangkan kembali semua sifat baiknya, penyembah ini sadar bahwa ia telah bertindak terlampau gegabah. Saat itu ia menyadari bahwa dulu ia buta terhadap segala kebaikan isterinya. Apakah ia masih bisa menemukan wanita lain yang sebaik dia?
Maka ia memohon kepada dewa, agar menghidupkan isterinya kembali. Kini permohonannya tinggal satu lagi. Ia bermaksud tidak akan melakukan kesalahan untuk kedua kalinya, karena ia sudah tidak akan sempat memperbaikinya lagi. Ia bertanya kemana-mana. Beberapa kawannya menasehatinya, agar ia minta diluputkan dari kematian. Tetapi apa gunanya tetap hidup, kata kawannya yang lain, kalau badannya tidak sehat? Dan untuk apa sehat, kalau tidak punya uang? Dan apa gunanya uang kalau tidak punya sahabat?
Tahun demi tahun telah lewat dan ia belum juga dapat memutuskan apa yang harus dimintanya: hidup, kesehatan, kekayaan, kekuasaan atau cinta. Akhirnya ia menyerah dan berkata kepada dewa: 'Berkenanlah kiranya Dewa memberi nasehat, apa yang sepantasnya saya minta?'
Melihat kebingungan orang itu, Vishnu tertawa dan berkata:
'Mintalah hati yang damai, entah apa pun yang terjadi dalam hidupmu.'

(Burung Berkicau, Anthony de Mello SJ, Yayasan Cipta Loka Caraka, Cetakan 7, 1994)

MENGUBAH DUNIA DENGAN MENGUBAH DIRIKU.



Sufi Bayazid bercerita tentang dirinya seperti berikut ini: 'Waktu masih muda, aku ini revolusioner dan aku selalu berdoa: Tuhan, berilah aku kekuatan untuk mengubah dunia!'
'Ketika aku sudah separuh baya dan sadar bahwa setengah hidupku sudah lewat tanpa mengubah satu orang pun, aku mengubah doaku menjadi: 'Tuhan, berilah aku rahmat untuk mengubah semua orang yang berhubungan denganku: keluarga dan kawan-kawanku, dan aku akan merasa puas.'
'Sekarang ketika aku sudah menjadi tua dan saat kematianku sudah dekat, aku mulai melihat betapa bodohnya aku. Doaku satu-satunya sekarang adalah: 'Tuhan, berilah aku rahmat untuk mengubah diriku sendiri.' Seandainya sejak semula aku berdoa begitu, maka aku tidak begitu menyia-nyiakan hidupku!'
Setiap orang berpikir mau mengubah umat manusia. Hampir tak seorang pun berpikir bagaimana mengubah dirinya.


(Burung Berkicau, Anthony de Mello SJ, Yayasan Cipta Loka Caraka, Cetakan 7, 1994

Inilah surat terbuka Damien untuk sang Pastor :



"Dr.Terry Jones, saya merasa sangat kasihan kepada Anda. Anda harus belajardari Mahatma Gandhi, Mother Theresa, dan Gus Dur. Karena itu datanglahke Indonesia atau setidaknya bacalah buku tentang tokoh-tokoh tersebutdi atas agar Anda bisa mengerti arti sesungguhnya dari "Iman" danketuhanan.
Jangan belajar dari Hitler yang membasmi"keyakinan" orang lain karena menganggap dirinya yang paling benar.Atau bagaimana kalau Anda ijinkan untuk 1 hari saja, tepatnya ditanggal 11 September 2010, kami meminjam tubuh Anda, menjadi orangIndonesia dan berprofesi sebahai Ulama. Dr. Terry Jones menjadi SangKiai. Gus Terry untuk satu hari saja.
AnggaplahDamien Dematra tiba-tiba punya ide gila mengumpulkan 1500 orang ditempatnya di Florida dan berkumpul untuk membakar Al-Quran. Kitab SuciAnda. Bagaimanakah rasanya? Senang? Sedih? Sakit? Marah? Bahagia? Ataubagaimana???
Saya sangat mengharapkan Anda menerimatawaran ini, karena hal itu akan menguji siapa Anda sebenarnya. Dalamkelompok Gandhy atau Hitler? Berhati merpati atau bernurani serigala?
Salamhangat dari Indonesia. Negeri Pluralisme, yang percaya pada nilai"Berbeda Tapi Satu" atau dalam bahasa nenek moyang kami BhinnekaTunggal Ika.
Besar harapan kami Dr. Terry Jones yang terhormat mau mengabulkan permintaan kami ini. Jakarta, 11 Agustus 2010.

Hormat kami,
Damien Dematra.Gerakan Peduli Pluralisme".

Surat terbuka itu akan dialihbahasakan Damien dalam bahasa Inggris danakan dikirimkan ke Terry. Tak hanya itu, Damien akan menyebarkannyamelalui jejaring Youtube dan Facebook. "Kita akan serang dengan caraitu dan akan membuatnya tak nyaman," kata Damien, seusai peluncurannovel tersebut di Kantor KWI, Jakarta Pusat, Rabu (11/8/2010) sore.
Rencananya, novel "Kau Bakar, Aku Bakar" juga akan dibuat versi bahasa Inggris dandiunggah ke website agar bisa diakses seluruh dunia.

GURU ZEN DAN SEORANG KRISTEN



Seorang Kristen suatu hari mengunjungi seorang Guru Zen dan berkata:
'Bolehkah aku membacakan beberapa kalimat dari Khotbah di Bukit?'
'Silahkan, dengan senang hati aku akan mendengarkannya,' kata Guru Zen itu.
Orang Kristen itu membaca beberapa kalimat, lalu berhenti sejenak dan melihat Guru. Guru tersenyum dan berkata: 'Siapa pun yang pernah mengucapkan kalimat-kalimat ini, pastilah sudah mendapatkan penerangan budi.'
Orang Kristen senang. Ia meneruskan membaca. Sang Guru menyela dan berkata: 'Orang yang mengucapkan ajaran ini, sungguh dapat disebut Penyelamat dunia!'
Orang Kristen itu gembira ria. Ia terus membaca sampai habis. Lalu sang Guru berkata: 'Khotbah itu disampaikan oleh Seorang yang memancarkan cahaya ilahi.'
Sukacita orang Kristen itu meluap-luap tanpa batas. Ia minta diri dan bermaksud kembali untuk meyakinkan Guru Zen itu, agar ia sendiri sepantasnya menjadi seorang Kristen juga.
Dalam perjalanan pulang ke rumahnya, ia berjumpa dengan Yesus di pinggir jalan. 'Tuhan,' serunya dengan penuh semangat, 'Saya berhasil membuat orang itu mengaku bahwa Engkau adalah Tuhan.'
Jesus tersenyum dan berkata: 'Apa gunanya hal itu bagimu, selain membesarkan ego, Kristenmu?'

(Burung Berkicau, Anthony de Mello SJ, Yayasan Cipta Loka Caraka, Cetakan 7, 1994)

JAWABAN DEWI LAKSMI YANG TERTUNDA



Tidak ada gunanya doa kita dikabulkan kalau tidak dikabulkan
pada waktu yang tepat:

Di zaman India kuno banyak tenaga dicurahkan untuk upacara
Yeda yang dikatakan begitu ilmiah dalam pelaksanaannya,
hingga kalau para orang suci berdoa mohon hujan, tidak
pernah ada kekeringan. Demikianlah seseorang mencurahkan
usaha mau berdoa, sesuai dengan upacaranya, kepada dewi
kekayaan, Laksmi, dan mohon supaya dijadikan kaya.

Ia berdoa tanpa hasil sepanjang sepuluh tahun lamanya.
Sesudahnya setelah waktu berlalu, ia tiba-tiba melihat sifat
tipuan pada kekayaan itu dan memilih hidup sebagai petapa di
pegunungan Himalaya.

Ia duduk bermeditasi pada suatu hari, dan ketika ia membuka
matanya ia melihat di depannya luar biasa seorang wanita
cantik, gemilang dan gemerlapan seakan-akan ia terbuat dari
emas.

"Siapa engkau itu dan engkau berbuat apa di sini?" tanyanya.

"Aku ini dewi Laksmi, yang kau hormati dengan mendaras
kidung nyanyian selama duabelas tahun," kata sang wanita,
"Aku ini menampakkan diri untuk mengabulkan keinginanmu."

"Ah, sang dewi tercinta," seru orang itu. "Aku sekarang
sudah mendapat berkat bermeditasi dan kehilangan keinginanku
akan kekayaan. Engkau datang terlambat. Katakan, mengapa
engkau datang begitu lambat?"

"Untuk berkata kepadamu sebenarnya," jawab sang dewi, "Jika
ingat akan sifat upacara yang kaulakukan begitu setia,
engkau sepenuhnya pantas menjadi kaya. Tetapi, karena
cintaku kepadamu dan keinginanku akan kesejahteraanmu, maka
kutahan dulu."


#Jika anda boleh pilih, maka yang anda utamakan pengabulan
permohonan anda atau rahmat tetap berdamai entah doa
dikabulkan atau tidak?

(DOA SANG KATAK 1, Anthony de Mello SJ,
Penerbit Kanisius, Cetakan 12, 1996)

AGAMA DAN JARI



"Kepercayaan agama," kata Sang Guru,
"bukanlah pernyataanakan Realitas, tetapi sebuah petunjuk,
yang mengarahkan pada sesuatu yang tetap merupakan suatu misteri.
Misteri itumelampaui pemahaman akal budi manusia.
Pendeknya,kepercayaan agama hanyalah sebuah jari yang menunjuk pada bulan.

Beberapa orang beragama tidak pernah beranjak lebih jauh dari mengamati jari belaka.

Yang lain malah asyik mengisapnya.

Yang lain lagi menggunakan jari untuk mengucek mata.
Inilah orang-orang fanatik yang telah dibutakan oleh agama.

Sangat jarang penganut agama yang cukup mengambil jarak dari jari mereka untuk dapat melihat apa yang ditunjuk.
 Mereka inilah yang, karena melampaui kepercayaan umumnya, justru dianggap sebagai penghujat."

Reaksi Dunia Bila Titanic Tenggelam Saat Ini

Presiden Bush – Amerika Serikat:
“Sebuah kapal yang sedang berlayar menuju kepada kebebasan telah diserang oleh teroris.Kita tidak akan duduk diam. Kita akan memberi pelajaran kepada mereka!Bin Laden, anda dapat berlari tapi anda tak akan dapat sembunyi! Kami akan menemukanmu dan menghancurkan jaringan AL Qaedamu!”

PM Tony Blair – Inggris:
“Saya telah berbicara dengan Presiden Bush, dan kami berdua telah sepakat bahwa tenggelamnya kapal Titanic adalah bukti-bukti tak terbantahkan bahwa pengikut pengikut Saddam Hussein ada dibelakang serangan itu. Irak, nyata-nyata telah menjadi ancaman bagi dunia dan kita harus menyelesaikannya."

PM John Howard – Australia:
“Kami mendapatkan bukti bahwa di dalam kapal tersebut terdapat penumpang bernama Ahmad dan Abu Umar. Ini menunjukkan bahwa JI bertanggungjawab atas tenggelamnya kapal itu. Kami meminta Pemerintah Indonesia bertindak lebih tegas kepada aktivis-aktivis JI, atau kami sendiri yang akan menindak mereka!”

PM Ehud Olmert – Israel:
“Ini merupakan pekerjaan Hamas! Telah cukup bukti bahwa tenggelamnya Titanic bukanlah kecelakaan, namun merupa kan serangan bunuh diri Hamas. Kami akan memblokade Palestina!, menahan mereka!, membuang mereka! membunuh mereka!, membuat mereka kelaparan, menghancurkan rumah-rumah mereka dan kamp-kamp pengungsi mereka!”

PM Vajpayee – India:
“Telah ditemukan paspor Pakistan dalam sisa-sisa Titanic. Jelas bahwa Pakistan harus membayar aksi teror tersebut dan kita telah mengirimkan lebih banyak lagi tentara ke perbatasan.”

PM Surayud Chulanont – Thailand:
“Kapal itu sebelumnya milik keluarga Thaksin Shinawatra yang kemudian dijual ke perusahaan Singapore. Kita akan mengambil kembali kapal itu untuk rakyat Thailand.”

Presiden Castro – Cuba:
“Titanic adalah lambang kapitalisme. Tenggelamnya Titanic memperlihatkan kepada dunia bahwa kapitalisme mulai hancur dan tenggelam. Cuba akan terus setia kepada cita-cita sosialisme dan akan berjaya bersamanya!”

Anggota DPR – Indonesia:
“Titanic? Apaan sih itu? Oh Ya, Titanic… kita sedang mengajukan RUU tentang Pemberantasan Titanic. Untuk itu kami akan mengadaka n studi banding ke Hawaii.
Mohon masyarakat dapat memahami pentingnya RUU ini sehingga pembahasannya memerlukan konsentrasi yang tinggi. Untuk itu kami akan membahasnya di Bali.
Agar kami dapat bekerja lebih baik, kami akan membawa serta istri-istri, anak, cucu, mertua, keponakan, mantu dll-dll. Tentu dengan biaya negara. Harap maklum, gaji kami sebagai anggota DPR hanya 30 juta.
Kami meminta pemerintah untuk menaikkan tunjangan rapat 400% atau kami akan mengajukan interpelasi masalah Titanic.”


Yang sebenarnya terjadi:

Juru Radio Titanic:
“SOS… SOS… Mohon bantuan. Kapal kami menabrak gunung es…”

KATA-KATA



  Jarang Sang Guru begitu mengesankan seperti saat ia memperingatkan akan daya sihir kata-kata.

"Hati-hatilah pada kata-kata,"  katanya.
"Saat kamu kurang waspada,kata-kata itu akan menampakkan wujud aslinya,
kata-kata itu akan memesonakan, memikat, menteror,membuat kamu tersesat dari kenyataan yang mereka wakili,
membuatkamu mempercayai bahwa kata-kata itulah yang nyata."

"Dunia yang kamu lihat bukanlah Kerajaan seperti yangdilihat anak-anak,
melainkan dunia yang terpecah-pecah,terpecah ke dalam beribu-ribu kepingan oleh kata ....

Kenyataan itu seolah-olah seperti riak gelombang samudrayang kelihatan berbeda dan terpisah dari seluruh samudra."

 "Ketika kata-kata dan pikiran diheningkan, Alam Semestaberkembang - nyata, menyeluruh, dan satu dan kata-kata tampil sebagaimana mestinya, sebagai not - bukan musik, sebagai menu- bukan makanan, sebagai penunjuk arah - bukantujuan perjalanan."

(Berbasa-basi Sejenak, Anthony de Mello, Penerbit Kanisius, Cetakan 1, 1997)

Kisah Soreyya



Suatu hari Soreyya beserta seorang teman dan beberapa pembantu pergi dengan sebuah kereta yang mewah untuk membersihkan diri (mandi). Pada saat itu, Mahakaccayana Thera sedang mengatur jubahnya di pinggir luar kota, karena ia akan memasuki kota Soreyya untuk berpindapatta. Pemuda Soreyya melihat sinar keemasan dari Mahakaccayana Thera, berpikir: "Bagaimana apabila Mahakaccayana Thera menjadi istriku, atau bagaimana apabila warna kulit istriku seperti itu." Karena muncul keinginan seperti itu, kelaminnya berubah menjadi seorang wanita.

Dengan sangat malu, ia turun dari kereta dan berlari, pada jalan menuju ke arah Taxila. Pembantunya kehilangan dia, mencarinya, tetapi tidak dapat menemukannya.

Soreyya, sekarang seorang wanita, memberikan cincinnya sebagai ongkos kepada beberapa orang yang bepergian ke Taxila, dengan harapan agar ia diizinkan ikut dalam kereta mereka. Setelah tiba di Taxila, teman-teman Soreyya berkata kepada seorang pemuda kaya di Taxila, tentang perempuan yang datang bersama mereka. Pemuda kaya itu melihat Soreyya yang begitu cantik dan seumur dengannya, menikahi Soreyya.

Perkawinan itu membuahkan dua anak laki-laki, dan ada juga dua anak laki-laki dari perkawinan Soreyya pada waktu masih sebagai pria.

Suatu hari, seorang anak orang kaya dari kota Soreyya datang di Taxila dengan limaratus kereta. Perempuan Soreyya mengenalinya sebagai seseorang yang telah diutus oleh teman lamanya. Laki-laki dari kota Soreyya itu merasa senang bahwa ia diundang oleh seorang perempuan yang tidak dikenalnya. Ia berbicara dengan Soreyya bahwa ia tidak mengenalnya, dan bertanya kepada Soreyya apakah Soreyya mengetahui dirinya. Soreyya menjawab bahwa ia tahu tentang dirinya dan menanyakan kesehatan keluarganya dan beberapa orang-orang di kota Soreyya. Laki-laki dari kota Soreyya berbicara tentang anak orang kaya yang hilang secara misterius ketika pergi ke luar kota untuk mandi. Soreyya mengungkapkan identitas dirinya dan menghubungkan semua apa yang telah terjadi, tentang pikiran salahnya kepada Mahakaccaya Thera, tentang perubahan kelamin, dan perkawinannya dengan orang kaya di Taxila.

Laki-laki dari kota Soreyya menasehatinya untuk meminta maaf kepada Mahakaccayana Thera. Mahakaccayana Thera diundang ke rumah perempuan Soreyya dan menerima dana makanan darinya. Sesudah bersantap perempuan Soreyya dibawa menghadap Mahakaccayana Thera, dan laki-laki dari kota Soreyya berbicara kepada Mahakaccayana Thera bahwa perempuan ini pada waktu dulu adalah seorang anak laki-laki orang kaya di kota Soreyya. Ia kemudian menjelaskan kepada Mahakaccayana Thera bagaimana Soreyya menjadi perempuan karena berpikiran jelek pada saat menghormati Mahakaccayana Thera. Perempuan Soreyya dengan hormat meminta maaf kepada Mahakaccayana Thera. Mahakaccayana Thera berkata, "Bangunlah, saya memaafkanmu." Segera setelah kata-kata itu diucapkan, perempuan tersebut berubah kelamin menjadi seorang laki-laki. Soreyya kemudian merenungkan bagaimana dengan satu keberadaan diri dan dengan satu keberadaan tubuh jasmani ia berubah kelamin, bagaimana anak-anak telah dilahirkannya. Merasa sangat cemas dan jijik terhadap segala hal itu, ia memutuskan untuk meninggalkan hidup berumah tangga, dan memasuki Pasamuan Sangha dibawah bimbingan Mahakaccayana Thera.

Sesudah itu ia sering ditanyai, "Siapa yang kamu cintai, dua anak laki-laki pada saat ia sebagai seorang laki-laki, atau dua anak lain pada saat ia menjadi seorang istri?" Terhadap hal itu ia menjawab bahwa cinta kepada mereka yang dilahirkan dari rahimnya adalah lebih besar. Pertanyaan ini seringkali seringkali muncul, ia merasa sangat terganggu dan malu. Kemudian ia menyendiri dan dengan rajin, merenungkan penghancuran dan proses tubuh jasmani.

Tidak terlalu lama kemudian, ia mencapai kesucian arahat, bersamaan dengan pandangan terang analitis. Ketika pertanyaan lama ditanyakan kepadanya, ia menjawab bahwa ia telah tidak mempunyai lagi kesayangan pada sesuatu yang khusus. Bhikkhu-bhikkhu yang lain mendengarnya berpikir bahwa ia pasti berkata tidak benar.

Pada saat dilapori dua jawaban berbeda Soreyya itu, Sang Buddha berkata, "Anakku berkata benar, ia telah berbicara benar. Jawabannya sekarang lain karena ia sekarang telah mencapai tingkat kesucian arahat, sehingga ia tidak lagi menyayangi sesuatu yang khusus. Dengan pikiran terarah benar, anak-Ku telah membuat dirinya berada pada suatu kehidupan baik, yang diberikan oleh ayah maupun ibu."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 43 berikut:

Bukan dengan pertolongan ibu, ayah, ataupun sanak keluarga; namun pikiran yang diarahkan dengan baik, yang akan membantu dan mengangkat derajat seseorang.

Banyak bhikkhu mencapai tingkat kesucian sotapatti setelah khotbah Dhamma itu berakhir.

Kisah Tissa Thera



  Tissa adalah putera kakak perempuan dari ayah Pangeran Siddhattha. Ia menjadi bikkhu pada usia yang telah lanjut, dan suatu saat tinggal bersama-sama Sang Buddha. Walau baru beberapa tahun menjalani kebhikkhuannya, ia bertingkah laku seperti bhikkhu senior dan senang mendapat penghormatan serta pelayanan dari bhikkhu-bhikkhu yang berkunjung kepada Sang Buddha. Sebagai bhikkhu yunior, ia tidak melaksanakan semua kewajibannya, di samping itu ia juga sering bertengkar dengan bhikkhu-bhikkhu muda lainnya

Suatu ketika seorang bhikkhu muda menegur kelakuannya. Hal itu membuat bhikkhu Tissa sangat kecewa dan sedih, dan kemudian ia melaporkan hal itu kepada Sang Buddha. Bhikkhu-bhikkhu lain yang mengetahui permasalahan tersebut, mengikutinya untuk memberikan keterangan yang benar kepada Sang Buddha jika dibutuhkan.

Sang Buddha, yang telah mengetahui kelakuan bhikkhu Tissa menasehatinya agar ia mau mengubah kelakuannya, tidak memiliki pikiran membenci.

Sang Buddha juga mengatakan bahwa bukan pada kehidupan kini saja bhikkhu Tissa mempunyai watak keras kepala, juga pada kehidupan sebelumnya. Bhikkhu Tissa pernah terlahir sebagai seorang pertapa yang keras kepala bernama Devala. Karena suatu kesalahpahaman, ia mencerca seorang pertapa suci.

Meskipun raja ikut campur tangan dengan memintakan ampun kepada pertapa suci itu, Devala tetap berkeras kepala dan menolak untuk melakukannya. Hanya dengan paksaan dan tekanan dari raja, Devala barulah mau meminta ampun kepada pertapa suci itu.

Pada akhir wejangannya Sang Buddha membabarkan syair 3 dan 4 berikut ini:

"Ia menghina saya, ia memukul saya, ia mengalahkan saya, ia merampas milik saya." Selama seseorang masih menyimpan pikiran seperti itu, maka kebencian tak akan pernah berakhir.  

"Ia menghina saya, ia memukul saya, ia mengalahkan saya, ia merampas milik saya." Jika seseorang sudah tidak lagi menyimpan pikiran-pikiran seperti itu, maka kebencian akan berakhir.

Kisah Chattapani, Seorang Umat Awam

  Seorang umat awam bernama Chattapani yang merupakan seorang Anagami tinggal di Savatthi. Pada suatu kesempatan, Chattapani menghadap Sang Buddha di Vihara Jetavana mendengarkan khotbah Dhamma dengan penuh hormat dan penuh perhatian.

Ketika itu Raja Pasenadi juga sedang mengunjungi Sang Buddha. Chattapani tidak berdiri sebab dia berpikir bahwa berdiri berarti dia memberikan hormat kepada raja bukan kepada Sang Buddha. Raja menganggap hal ini adalah suatu penghinaan dan melanggar suatu paraturan. Sang Buddha mengetahui pemikiran Raja Pasenadi; maka Beliau memuji Chattapani, yang sangat baik dalam Dhamma dan juga telah mencapai tingkat kesucian Anagami.

Mendengar hal ini, Raja Pasenadi sangat terpesona dan memberikan penghormatan kepada Chattapani.

Pada pertemuan berikutnya, raja bertemu dengan Chattapani dan berkata, "Anda sangat pandai; dapatkah anda datang ke istana dan memberikan pelajaran Dhamma kepada dua orang istriku?" Chattapani menolak tetapi beliau menyarankan untuk meminta izin kepada Sang Buddha agar menugaskan seorang bhikkhu untuk memberikan pelajaran Dhamma. Raja menghampiri Sang Buddha dan menceritakan maksudnya. Sang Buddha memerintahkan Ananda untuk memberikan pelajaran Dhamma secara teratur kepada Ratu Mallika dan Ratu Vasabhakhattiya di istana.

Setelah beberapa waktu, Sang Buddha bertanya kepada Ananda tentang kemajuan dari kedua orang ratu tersebut. Ananda menjawab bahwa Ratu Mallika mendengarkan Dhamma dengan sungguh-sungguh sedangkan Vasabhakhattiya tidak sungguh-sungguh belajar Dhamma. Mendengar ini Sang Buddha berkata bahwa Dhamma akan memberikan manfaat bagi seseorang yang mempelajarinya dengan sungguh-sungguh, penuh hormat, dan penuh perhatian serta rajin mempraktekkan apa yang telah dipelajari.

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 51 dan 52 berikut :  

Bagaikan sekuntum bunga yang indah tetapi tidak berbau harum; demikian pula akan tidak bermanfaat kata-kata mutiara yang diucapkan oleh orang yang tidak melaksanakannya.  

Bagaikan sekuntum bunga yang indah serta berbau harum; demikian pula sungguh bermanfaat kata-kata mutiara yang diucapkan oleh orang yang melaksanakannya.

Inilah Pidato Bung Karno untuk Malaysia

Kalau kita lapar itu biasa 
Kalau kita malu itu juga biasa 
Namun kalau kita lapar atau malu itu karena Malaysia, kurang ajar! 

Kerahkan pasukan ke Kalimantan hajar cecunguk Malayan itu! 
Pukul dan sikat jangan sampai tanah dan udara kita diinjak-injak oleh Malaysian keparat itu. 

Doakan aku, aku kan berangkat ke medan juang sebagai patriot Bangsa, sebagai martir Bangsa dan sebagai peluru Bangsa yang tak mau diinjak-injak harga dirinya. 

Serukan serukan ke seluruh pelosok negeri bahwa kita akan bersatu untuk melawan kehinaan ini kita akan membalas perlakuan ini dan kita tunjukkan bahwa kita masih memiliki gigi yang kuat dan kita juga masih memiliki martabat.

Yoo... ayoo... kita... Ganjang...
Ganjang... Malaysia...
Ganjang... Malaysia
Bulatkan tekad
Semangat kita badja
Peluru kita banjak
Njawa kita banjak
Bila perlu satoe-satoe!

Telur emas


Pada jaman dahulukala adalah seekor angsa yang setiap hari bertelur sebutir telur emas.

Isteri petani yang memllik angsa itu sangat gembira karena telur-telur itu membuatnya kaya-raya.
Namun ia seorang wanita yang loba.
Ia tidak dapat menunggu dengan sabar sebutir telur sehari.

Ia bermaksud menyembelih angsa itu dan sekaligus mendapatkan semua telurnya.
Maka akhirnya ia menyembelih angsa itu.


Namun yang didapatkannya tidak lain daripada telur setengah jadi dan angsa mati yang tidak dapat bertelur lagi.


Sahabatku semua..... kalian adalah angsa yg bertelur emas, aku berjanji kan senantiasa menjaga tali persahabatan kita agar bisa menghasilkan telur2 emas bagi kita semua....
Makasih....
                                                                                  ttd: Symons Says 


KIOS KEBENARAN



 Ketika aku melihat papan nama pada kios itu, hampir-hampir aku tidak percaya pada apa yang kubaca: KIOS KEBENARAN.
Mereka menjual kebenaran di sana!

Gadis penjaga kios bertanya dengan amat sopan: kebenaran macam apa yang ingin kubeli, sebagian kebenaran atau seluruh kebenaran?
Tentu saja seluruh kebenaran! Aku tidak perlu menipu diri, mengadakan pembelaan diri atau rasionalisasi lagi.

Aku menginginkan kebenaranku: terang, terbuka, penuh dan utuh.
Ia memberi isyarat, agar aku menuju bagian lain dalam kios itu, yang menjual kebenaran yang utuh.

Pemuda penjaga kios yang ada di sana memandangku dengan rasa kasihan dan menunjuk kepada daftar harga.
'Harganya amat tinggi Tuan,' katanya.
'Berapa?' tanyaku mantap, karena ingin mendapat seluruh kebenaran, berapapun harganya.

'Kalau Tuan membelinya,' katanya. 'Tuan akan membayarnya dengan kehilangan semua ketenangan dalam seluruh sisa hidup Tuan.'

Aku keluar dari kios itu dengan rasa sedih.
Aku mengira bahwa aku dapat memperoleh seluruh kebenaran dengan harga murah. Aku masih belum siap menerima kebenaran.

Kadang-kadang aku mendambakan damai dan ketenangan. Aku masih perlu sedikit menipu diri dengan membela dan membenarkan diri.
Aku masih ingin berlindung di balik kepercayaan-kepercayaanku yang tak boleh dipertanyakan.


(Burung Berkicau, Anthony de Mello SJ, Yayasan Cipta Loka Caraka, Cetakan 7

Sedikit kalimat Motivasi and Inspirasi



1. Bunda Theresa:
—►Jika Anda hanya berusaha menilai seseorang, maka Anda tidak akan pernah dapat menyayangi mereka
—► Jika kita tidak bisa mencintai orang-orang yang dapat kita lihat, Bagaimana kita bisa mencintai Tuhan yang tak terlihat?

2. Iwami Vivekananda
—► Jika Anda tidak menemui masalah apapun, maka Anda tidak akan pernah yakin bahwa Anda berada di jalan yang salah

3. Adolf Hitler
—► Jika Anda menang, tak usah berkomentar…
—► Pun, jika Anda kalah, tak usah beralasan…

4. Bennie Blair
—► Menang, bukan berarti menjadi “paling“.Tetapi…Menang, adalah karena Anda berusaha lebih baik dari sebelumnya…

5. William Shakesphere
—► Tiga kunci sukses :
a. Tahu lebih banyak dari orang lain
b. Berusaha lebih keras dari orang lain.
c. Berharap lebih sedikit dari orang lain.

6. Charles
—► Jangan pernah mengkhianati empat hal dalam hidupmu :
a. amanat
b. Janji
c. Hubungand. Hati / perasaan

7. Leo Tolstoy
—► Semua orang berpikir untuk mengubah dunia.. Tapi tak satupun berpikir untuk merubah dirinya sendiri...

8. Einstein
—► Jika seseorang merasa bahwa mereka tidak pernah melakukan kesalahan selama hidupnya, maka sebenarnya mereka tidak pernah mencoba hal-hal baru dalam hidupnya.

9. Bill Gates
—► Jika anda terlahir dalam kemiskinan itu bukanlah kesalahan anda, tapi jika anda mati dalam kemiskinan itu adalah kesalahan anda.

Hidup bukan mengenai menunggu badai berlalu, tapi ttg bagaimana belajar menari dlm hujan..



 Suatu hari saya naik taxi menuju bandara

Kami melaju pd jalur yg benar ketika tiba-tiba sebuah mobil hitam melompat keluar dr tempat parkir tepat di depan kami.
Supir taxi menginjak pedal rem dalam-dalam hingga ban mobil berdecit dan berhenti hanya beberapa cm dari mobil tersebut.
Pengemudi mobil hitam tsb mengeluarkan kepalanya & memaki ke arah kami.
Supir taxi hanya tersenyum & melambai pada orang tersebut.

Saya sangat heran dgn sikapnya yg bersahabat.
Saya bertanya, "Mengapa anda melakukannya? Orang itu hampir merusak mobil andadan dapat saja mengirim kita ke rumah sakit!"

 Saat itulah saya belajar dr supir taxi tsb mengenai apa yg saya kemudian sebut "Hukum Truk Sampah".
 Ia menjelaskan bahwa byk orang seperti truk sampah. Mrk berjalan keliling membawa sampah, seperti frustrasi, kemarahan,kekecewaan.
Seiring dgn semakin penuh kapasitasnya, semakin mereka membutuhkan tempat utk membuangnya, & seringkali mereka membuangnya kpd anda.

Jgn ambil hati, tersenyum saja, lambaikan tangan, berkati mereka, lalulanjutkan hidup.
Jgn ambil sampah mereka utk kembali membuangnya kpd orang lain yang andatemui, di tempat kerja, di rumah atau dlm perjalanan. Intinya, orang yg sukses adalah orang yang tidak membiarkan "truk sampah"mengambil alih hari-hari mereka dgn merusak suasana hati.

Hidup ini terlalu singkat utk bangun di pagi hari dgn penyesalan, maka kasihilah orang yg memperlakukan anda dgn benar, berdoalah bagi yg tidak. Hidup itu 10% mengenai apa yg kau buat dengannya dan 90% ttg bagaimana kamu menghadapinya.

Hidup bukan mengenai menunggu badai berlalu, tapi ttg bagaimana belajar menari dlm hujan....


(Kiriman dari seorang sahabat di pagi yang indah...)