Dahulu kala di suatu desa kecil di India, seorang petani yang sangat miskin mempunyai hutang yang sangat besar kepada rentenir di desa tersebut.
Rentenir itu, udah tua, bangkotan, eee…. malah tertarik pada putrinya pak tani yang cakep itu.
Kemudian si rentenir tersebut mengajukan penawaran, dia akan melupakan hutang2 petani tersebut jika dia dapat menikahi putrinya.
Sang petani dan putrinya pun bingung dengan tawaran tersebut, kayaknya mereka nggak setuju.
Melihat gelagat seperti itu Si rentenir mengajukan tawaran lagi untuk membuat keputusan.
Dia mengatakan bahwa dia akan meletakkan keping hitam dan keping putih di dalam kantong kosong kemudian sang putri petani diharuskan untuk mengambil satu keping dari kantong tersebut.
1. Jika sang putri mendapatkan keping hitam, maka dia akan menjadi istri rentenir tersebut dan hutang2 petani tersebut lunas.
2. Jika sang putri mendapatkan keping putih, maka rentenir tersebut tidak akan menikahi sang putri dan hutang2 petani tersebut lunas.
3. Jika sang putri menolak mengambil keping, sang petani akan dipenjara.
Berada di halaman petani yang banyak terdapat kepingang – kepingan, si rentenir mengambil 2 keping.
Ketika mengambil, mata sang putri yang tajam melihat bahwa keping yang dimasukkan kedalam kantong keduanya berwarna hitam.
Kemudian rentenir itu menyuruh sang putri mengambil keping tersebut di dalam kantong.
Sekarang bayangkan anda ada di sana, apa yang kamu lakukan jika anda sebagai putri tersebut?
Jika anda harus menolong sang putri, apa yang harus kau lakukan kepada sang putri?
Melihat hal seperti itu ada 3 kemungkinan :
1. Sang putri menolak untuk mengambil kepingan
2. Sang putri menunjukkan bahwa yang di dalam kantong tersebut keduanya adalah berwarna hitam serta mengungkap bahwa rentenir tersebut curang
3. Sang putri mengambil keping hitam dan mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan ayahnya dari hutang-hutang dan penjara.
Sekarang pertimbangkan cerita di atas.
Pengalaman ini digunakan untuk membedakan pemikiran logika dan lateral thinking.
Dilema sang putri tidak dapat diselesaikan dengan logika awam.
Pikirkan cara lain jika sang putri tidak memilih pilihan yang diberikan kepadanya.
Apa yang akan anda tawarkan kepadanya ?
Jangan melihat jawaban di bawah sebelum anda memikirkan cara lain sebagai saran kepada sang putri, pikirkan 5 menit saja….
Baik, begini caranya. sang putri memasukkan tangannya kedalam kantong dan mengambil satu keping tersebut.
Tanpa melihat keping tersebut, secara sengaja menjatuhkan (setengah melempar) keping tersebut ke halaman dan bercampur dengan keping – keping yang lain di halaman.
“Oh, betapa bodohnya aku” kata sang putri
“tapi, anda gak usah khawatir, jika tuan melihat sisa kepingan di dalam kantong, maka tuan akan mengetahui keping mana yang saya ambil”.
Dengan begitu, sisa yang ada di dalam kantong adalah keping berwarna hitam sehingga diasumsikan bahwa sang putri telah mengambil keping yang berwarna putih.
Sejak rentenir berani menyatakan untuk tidak jujur, sang putri mengubah dari keadaan yang kelihatannya mustahil menjadi keadaan yang sangat menguntungkan.
Inti dari cerita ini adalah :
Semua permasalahan yang kompleks mempunyai jalan keluar, yang anda butuhkan hanya melebarkan pemikiran anda.
Jika logika anda tidak bisa bekerja, berusahalah dengan lateral thinking.
Lateral thinking sangat kreatif. mudah dikerjakan tiap hari.
“Rahasia untuk sukses adalah mengetahui sesuatu yang tidak diketahui orang lain”
Selasa, 28 Desember 2010
Sebuah Pelajaran Cinta dari Negeri Sakura
Toshinobu Kubota , yang biasa dipanggil Shinji mengucapkan selamat tinggal kepada keluarganya di negerinya yang lama untuk mencari hidup yang lebih baik di Amerika. Ayahnya memberinya uang simpanan keluarga yang disembunyikan di dalam kantong kulit.
“Di sini keadaan sulit ,” katanya sambil memeluk putranya dan mengucapkan selamat tinggal. “Kau adalah harapan kami.”
Shinji naik ke kapal lintas Atlantik yang menawarkan transport gratis bagi pemuda-pemuda yang mau bekerja sebagai penyekop batubara sebagai imbalan ongkos pelayaran selama sebulan. Kalau Shinji menemukan emas di Pegunungan Colorado, keluarganya akan menyusul.
Berbulan-bulan Shinji mengolah tanahnya tanpa kenal lelah. Urat emas yang tidak besar memberinya penghasilan yang pas-pasan namun teratur.
Setiap hari ketika pulang ke pondoknya yang terdiri atas dua kamar, Shinji merindu kan dan sangat ingin disambut oleh wanita yang dicintainya.
Satu-satunya yang disesalinya ketika menerima tawaran untuk mengadu nasib ke Amerika adalah terpaksa meninggalkan Asaka Matsutoya sebelum secara resmi punya kesempatan mendekati gadis itu. Sepanjang ingatannya, keluarga mereka sudah lama berteman dan selama itu pula diam-diam dia berharap bisa memperistri Asaka.
Rambut Asaka yang ikal panjang dan senyumnya yang menawan membuatnya menjadi putri Keluarga Yoshinori Matsutoya yang paling cantik.
Shinji baru sempat duduk di sampingnya dalam acara perayaan pesta bunga dan mengarang alasan-alasan konyol untuk singgah di rumah gadis itu agar bisa bertemu dengannya. Setiap malam sebelum tidur di kabinnya , Shinji ingin sekali membelai rambut Asaka yang pirang kemerahan dan memeluk gadis itu. Akhirnya, dia menyurati ayahnya , meminta bantuannya untuk mewujudkan impiannya.
Kira-kira setahun kemudian, sebuah telegram datang mengabarkan rencana untuk membuat hidup Shinji menjadi lengkap. Pak Yoshinori Matsutoya akan mengirimkan putrinya kepada Shinji di Amerika. Putrinya itu suka bekerja keras dan punya intuisi bisnis. Dia akan bekerja sama dengan Shinji selama setahun dan membantunya mengembangkan bisnis penambangan emas.
Diharapkan, setelah setahun itu keluarganya akan mampu datang ke Amerika untuk menghadiri pernikahan mereka.
Hati Shinji sangat bahagia. Dia menghabiskan satu bulan berikutnya untuk mengubah pondoknya menjadi tempat tinggal yang nyaman. Dia membeli ranjang sederhana untuk tempat tidurnya di ruang duduk dan menata bekas tempat tidurnya agar pantas untuk seorang wanita. Gorden dari bekas karung goni yang menutupi kotornya jendela diganti dengan kain bermotif bunga dari bekas karung terigu. Di meja samping tempat tidur dia meletakkan wadah kaleng berisi bunga-bunga kering yang dipetiknya di padang rumput.
Akhirnya , tibalah hari yang sudah dinanti-nantikannya sepanjang hidup.
Dengan tangan membawa seikat bunga daisy segar yang baru dipetik , dia pergi ke stasiun kereta api. Asap mengepul dan roda-roda berderit ketika kereta api mendekat lalu berhenti. Shinji melihat setiap jendela , mencari senyum dan rambut ikal Asaka. Jantungnya berdebar kencang penuh harap, kemudian tersentak karena kecewa.
Bukan Asaka , tetapi Yumi Matsutoya kakaknya, yang turun dari kereta api. Gadis itu berdiri malu-malu di depannya, matanya menunduk. Shinji hanya bisa memandang terpana. Kemudian, dengan tangan gemetar diulurkannya buket bunga itu kepada Yumi. “Selamat datang,” katanya lirih, matanya menatap nanar. Senyum tipis meng hias wajah Yumi yang tidak cantik.
“Aku senang ketika Ayah mengatakan kau ingin aku datang ke sini,” kata Yumi, sambil sekilas memandang mata Shinji sebelum cepat-cepat menunduk lagi.
“Aku akan mengurus bawaanmu ,” kata Shinji dengan senyum terpaksa.
Bersama-sama mereka berjalan ke kereta kuda. Pak Matsutoya dan ayahnya benar. Yumi memang punya intuisi bisnis yang hebat. Sementara Shinji bekerja di tambang, dia bekerja di kantor. Di meja sederhana di sudut ruang duduk, dengan cermat Yumi mencatat semua kegiatan di tambang. Dalam waktu 6 bulan, asset mereka telah berlipat dua. Masakannya yang lezat dan senyumnya yang tenang menghiasi pondok itu dengan sentuhan ajaib seorang wanita.
Tetapi bukan wanita ini yang kuinginkan , keluh Shinji dalam hati, setiap malam sebelum tidur kecapekan di ruang duduk. Mengapa mereka mengirim Yumi ? Akankah dia bisa bertemu lagi dengan Asaka ? Apakah impian lamanya untuk memperistri Asaka harus dilupakannya ?
Setahun lamanya Yumi dan Shinji bekerja, bermain, dan tertawa bersama, tetapi tak pernah ada ungkapan cinta. Pernah sekali, Yumi mencium pipi Shinji sebelum masuk kekamarnya. Pria itu hanya tersenyum canggung. Sejak itu, kelihatannya Yumi cukup puas dengan jalan-jalan berdua menjelajahi pegunungan atau dengan mengobrol di beranda setelah makan malam.
Pada suatu sore di musim semi, hujan deras mengguyur punggung bukit, membuat jalan masuk ke tambang mereka longsor. Dengan kesal Shinji mengisi karung-karung pasir dan meletakkannya sedemikan rupa untuk membelokkan arus air. Badannya lelah dan basah kuyup, tetapi tampaknya usahanya sia-sia. Tiba-tiba Yumi muncul di sampingnya, memegangi karung goni yang terbuka. Shinji menyekop dan memasuk kan pasir kedalamnya, kemudian dengan tenaga sekuat lelaki, Yumi melemparkan karung itu ke tumpukan lalu membuka karung lainnya. Berjam-jam mereka bekerja dengan kaki terbenam lumpur setinggi lutut, sampai hujan reda. Dengan berpegangan tangan mereka berjalan pulang ke pondok.
Sambil menikmati sup panas, Shinji mendesah , “Aku takkan dapat menyelamatkan tambang itu tanpa dirimu. Terima kasih, Yumi.”
“Sama-sama,” gadis itu menjawab sambil tersenyum tenang seperti biasa, lalu tanpa berkata-kata dia masuk ke kamarnya.
Beberapa hari kemudian , sebuah telegram datang mengabarkan bahwa Keluarga Matsutoya dan Keluarga Kubota akan tiba minggu berikutnya. Meskipun berusaha keras menutup-nutupinya , jantung Shinji kembali berdebar-debar seperti dulu karena harapan akan bertemu lagi dengan Asaka. Dia dan Yumi pergi ke stasiun kereta api. Mereka melihat keluarga mereka turun dari kereta api di ujung peron.
Ketika Asaka muncul , Yumi menoleh kepada Shinji. “Sambutlah dia,” katanya.
Dengan kaget, Shinji berkata tergagap, “Apa maksudmu?”
“Shinji , sudah lama aku tahu bahwa aku bukan putri Matsutoya yang kau inginkan. Aku memperhatikan bagaimana kau bercanda dengan Asaka dalam acara Perayaan pesta bunga lalu.” Dia mengangguk ke arah adiknya yang sedang menuruni tangga kereta. “Aku tahu bahwa dia, bukan aku , yang kauinginkan menjadi istrimu.”
“Tapi…”
Yumi meletakkan jarinya pada bibir Shinji. “Ssstt,” bisiknya. “Aku mencintaimu, Shinji. Aku selalu mencintaimu. Karena itu , yang kuinginkan hanya melihatmu bahagia. Sambutlah adikku.”
Shinji mengambil tangan Yumi dari wajahnya dan menggenggamnya. Ketika Yumi menengadah, untuk pertama kalinya Shinji melihat betapa cantiknya gadis itu. Dia ingat ketika mereka berjalan-jalan di padang rumput, ingat malam-malam tenang yang mereka nikmati di depan perapian, ingat ketika Yumi membantunya mengisi karung-karung pasir. Ketika itulah dia menyadari apa yang sebenarnya selama berbulan-bulan telah tidak diketahuinya.
“Tidak, Yumi. Engkaulah yang kuinginkan.” Shinji merengkuh gadis itu ke dalam pelukannya dan mengecupnya dengan cinta yang tiba-tiba membuncah didalam dadanya.
Keluarga mereka berkerumun mengelilingi mereka dan berseru-seru, “Kami datang untuk menghadiri pernikahan kalian!”
“..True love doesn’t have a happy ending , because true love never ends….”
“Di sini keadaan sulit ,” katanya sambil memeluk putranya dan mengucapkan selamat tinggal. “Kau adalah harapan kami.”
Shinji naik ke kapal lintas Atlantik yang menawarkan transport gratis bagi pemuda-pemuda yang mau bekerja sebagai penyekop batubara sebagai imbalan ongkos pelayaran selama sebulan. Kalau Shinji menemukan emas di Pegunungan Colorado, keluarganya akan menyusul.
Berbulan-bulan Shinji mengolah tanahnya tanpa kenal lelah. Urat emas yang tidak besar memberinya penghasilan yang pas-pasan namun teratur.
Setiap hari ketika pulang ke pondoknya yang terdiri atas dua kamar, Shinji merindu kan dan sangat ingin disambut oleh wanita yang dicintainya.
Satu-satunya yang disesalinya ketika menerima tawaran untuk mengadu nasib ke Amerika adalah terpaksa meninggalkan Asaka Matsutoya sebelum secara resmi punya kesempatan mendekati gadis itu. Sepanjang ingatannya, keluarga mereka sudah lama berteman dan selama itu pula diam-diam dia berharap bisa memperistri Asaka.
Rambut Asaka yang ikal panjang dan senyumnya yang menawan membuatnya menjadi putri Keluarga Yoshinori Matsutoya yang paling cantik.
Shinji baru sempat duduk di sampingnya dalam acara perayaan pesta bunga dan mengarang alasan-alasan konyol untuk singgah di rumah gadis itu agar bisa bertemu dengannya. Setiap malam sebelum tidur di kabinnya , Shinji ingin sekali membelai rambut Asaka yang pirang kemerahan dan memeluk gadis itu. Akhirnya, dia menyurati ayahnya , meminta bantuannya untuk mewujudkan impiannya.
Kira-kira setahun kemudian, sebuah telegram datang mengabarkan rencana untuk membuat hidup Shinji menjadi lengkap. Pak Yoshinori Matsutoya akan mengirimkan putrinya kepada Shinji di Amerika. Putrinya itu suka bekerja keras dan punya intuisi bisnis. Dia akan bekerja sama dengan Shinji selama setahun dan membantunya mengembangkan bisnis penambangan emas.
Diharapkan, setelah setahun itu keluarganya akan mampu datang ke Amerika untuk menghadiri pernikahan mereka.
Hati Shinji sangat bahagia. Dia menghabiskan satu bulan berikutnya untuk mengubah pondoknya menjadi tempat tinggal yang nyaman. Dia membeli ranjang sederhana untuk tempat tidurnya di ruang duduk dan menata bekas tempat tidurnya agar pantas untuk seorang wanita. Gorden dari bekas karung goni yang menutupi kotornya jendela diganti dengan kain bermotif bunga dari bekas karung terigu. Di meja samping tempat tidur dia meletakkan wadah kaleng berisi bunga-bunga kering yang dipetiknya di padang rumput.
Akhirnya , tibalah hari yang sudah dinanti-nantikannya sepanjang hidup.
Dengan tangan membawa seikat bunga daisy segar yang baru dipetik , dia pergi ke stasiun kereta api. Asap mengepul dan roda-roda berderit ketika kereta api mendekat lalu berhenti. Shinji melihat setiap jendela , mencari senyum dan rambut ikal Asaka. Jantungnya berdebar kencang penuh harap, kemudian tersentak karena kecewa.
Bukan Asaka , tetapi Yumi Matsutoya kakaknya, yang turun dari kereta api. Gadis itu berdiri malu-malu di depannya, matanya menunduk. Shinji hanya bisa memandang terpana. Kemudian, dengan tangan gemetar diulurkannya buket bunga itu kepada Yumi. “Selamat datang,” katanya lirih, matanya menatap nanar. Senyum tipis meng hias wajah Yumi yang tidak cantik.
“Aku senang ketika Ayah mengatakan kau ingin aku datang ke sini,” kata Yumi, sambil sekilas memandang mata Shinji sebelum cepat-cepat menunduk lagi.
“Aku akan mengurus bawaanmu ,” kata Shinji dengan senyum terpaksa.
Bersama-sama mereka berjalan ke kereta kuda. Pak Matsutoya dan ayahnya benar. Yumi memang punya intuisi bisnis yang hebat. Sementara Shinji bekerja di tambang, dia bekerja di kantor. Di meja sederhana di sudut ruang duduk, dengan cermat Yumi mencatat semua kegiatan di tambang. Dalam waktu 6 bulan, asset mereka telah berlipat dua. Masakannya yang lezat dan senyumnya yang tenang menghiasi pondok itu dengan sentuhan ajaib seorang wanita.
Tetapi bukan wanita ini yang kuinginkan , keluh Shinji dalam hati, setiap malam sebelum tidur kecapekan di ruang duduk. Mengapa mereka mengirim Yumi ? Akankah dia bisa bertemu lagi dengan Asaka ? Apakah impian lamanya untuk memperistri Asaka harus dilupakannya ?
Setahun lamanya Yumi dan Shinji bekerja, bermain, dan tertawa bersama, tetapi tak pernah ada ungkapan cinta. Pernah sekali, Yumi mencium pipi Shinji sebelum masuk kekamarnya. Pria itu hanya tersenyum canggung. Sejak itu, kelihatannya Yumi cukup puas dengan jalan-jalan berdua menjelajahi pegunungan atau dengan mengobrol di beranda setelah makan malam.
Pada suatu sore di musim semi, hujan deras mengguyur punggung bukit, membuat jalan masuk ke tambang mereka longsor. Dengan kesal Shinji mengisi karung-karung pasir dan meletakkannya sedemikan rupa untuk membelokkan arus air. Badannya lelah dan basah kuyup, tetapi tampaknya usahanya sia-sia. Tiba-tiba Yumi muncul di sampingnya, memegangi karung goni yang terbuka. Shinji menyekop dan memasuk kan pasir kedalamnya, kemudian dengan tenaga sekuat lelaki, Yumi melemparkan karung itu ke tumpukan lalu membuka karung lainnya. Berjam-jam mereka bekerja dengan kaki terbenam lumpur setinggi lutut, sampai hujan reda. Dengan berpegangan tangan mereka berjalan pulang ke pondok.
Sambil menikmati sup panas, Shinji mendesah , “Aku takkan dapat menyelamatkan tambang itu tanpa dirimu. Terima kasih, Yumi.”
“Sama-sama,” gadis itu menjawab sambil tersenyum tenang seperti biasa, lalu tanpa berkata-kata dia masuk ke kamarnya.
Beberapa hari kemudian , sebuah telegram datang mengabarkan bahwa Keluarga Matsutoya dan Keluarga Kubota akan tiba minggu berikutnya. Meskipun berusaha keras menutup-nutupinya , jantung Shinji kembali berdebar-debar seperti dulu karena harapan akan bertemu lagi dengan Asaka. Dia dan Yumi pergi ke stasiun kereta api. Mereka melihat keluarga mereka turun dari kereta api di ujung peron.
Ketika Asaka muncul , Yumi menoleh kepada Shinji. “Sambutlah dia,” katanya.
Dengan kaget, Shinji berkata tergagap, “Apa maksudmu?”
“Shinji , sudah lama aku tahu bahwa aku bukan putri Matsutoya yang kau inginkan. Aku memperhatikan bagaimana kau bercanda dengan Asaka dalam acara Perayaan pesta bunga lalu.” Dia mengangguk ke arah adiknya yang sedang menuruni tangga kereta. “Aku tahu bahwa dia, bukan aku , yang kauinginkan menjadi istrimu.”
“Tapi…”
Yumi meletakkan jarinya pada bibir Shinji. “Ssstt,” bisiknya. “Aku mencintaimu, Shinji. Aku selalu mencintaimu. Karena itu , yang kuinginkan hanya melihatmu bahagia. Sambutlah adikku.”
Shinji mengambil tangan Yumi dari wajahnya dan menggenggamnya. Ketika Yumi menengadah, untuk pertama kalinya Shinji melihat betapa cantiknya gadis itu. Dia ingat ketika mereka berjalan-jalan di padang rumput, ingat malam-malam tenang yang mereka nikmati di depan perapian, ingat ketika Yumi membantunya mengisi karung-karung pasir. Ketika itulah dia menyadari apa yang sebenarnya selama berbulan-bulan telah tidak diketahuinya.
“Tidak, Yumi. Engkaulah yang kuinginkan.” Shinji merengkuh gadis itu ke dalam pelukannya dan mengecupnya dengan cinta yang tiba-tiba membuncah didalam dadanya.
Keluarga mereka berkerumun mengelilingi mereka dan berseru-seru, “Kami datang untuk menghadiri pernikahan kalian!”
“..True love doesn’t have a happy ending , because true love never ends….”
Senin, 27 Desember 2010
Katak.
Ada kegundahan tersendiri yang dirasakan seekor anak katak ketika langit tiba-tiba gelap. “Bu, apa kita akan binasa. Kenapa langit tiba-tiba gelap?” ucap anak katak sambil merangkul erat lengan induknya. Sang ibu menyambut rangkulan itu dengan belaian lembut. “Anakku,” ucap sang induk kemudian. “Itu bukan pertanda kebinasaan kita. Justru, itu tanda baik.” jelas induk katak sambil terus membelai. Dan anak katak itu pun mulai tenang.
Namun, ketenangan itu tak berlangsung lama. Tiba-tiba angin bertiup kencang. Daun dan tangkai kering yang berserakan mulai berterbangan. Pepohonan meliuk-liuk dipermainkan angin. Lagi-lagi, suatu pemandangan menakutkan buat si katak kecil. “Ibu, itu apa lagi? Apa itu yang kita tunggu-tunggu?” tanya si anak katak sambil bersembunyi di balik tubuh induknya.
“Anakku. Itu cuma angin,” ucap sang induk tak terpengaruh keadaan. “Itu juga pertanda kalau yang kita tunggu pasti datang!” tambahnya begitu menenangkan. Dan anak katak itu pun mulai tenang. Ia mulai menikmati tiupan angin kencang yang tampak menakutkan.
“Blarrr!!!” suara petir menyambar-nyambar. Kilatan cahaya putih pun kian menjadikan suasana begitu menakutkan. Kali ini, si anak katak tak lagi bisa bilang apa-apa. Ia bukan saja merangkul dan sembunyi di balik tubuh induknya. Tapi juga gemetar. “Buuu, aku sangat takut. Takut sekali!” ucapnya sambil terus memejamkan mata.
“Sabar, anakku!” ucapnya sambil terus membelai. “Itu cuma petir. Itu tanda ketiga kalau yang kita tunggu tak lama lagi datang! Keluarlah. Pandangi tanda-tanda yang tampak menakutkan itu. Bersyukurlah, karena hujan tak lama lagi datang,” ungkap sang induk katak begitu tenang.Namun, ketenangan itu tak berlangsung lama. Tiba-tiba angin bertiup kencang. Daun dan tangkai kering yang berserakan mulai berterbangan. Pepohonan meliuk-liuk dipermainkan angin. Lagi-lagi, suatu pemandangan menakutkan buat si katak kecil. “Ibu, itu apa lagi? Apa itu yang kita tunggu-tunggu?” tanya si anak katak sambil bersembunyi di balik tubuh induknya.
“Anakku. Itu cuma angin,” ucap sang induk tak terpengaruh keadaan. “Itu juga pertanda kalau yang kita tunggu pasti datang!” tambahnya begitu menenangkan. Dan anak katak itu pun mulai tenang. Ia mulai menikmati tiupan angin kencang yang tampak menakutkan.
“Blarrr!!!” suara petir menyambar-nyambar. Kilatan cahaya putih pun kian menjadikan suasana begitu menakutkan. Kali ini, si anak katak tak lagi bisa bilang apa-apa. Ia bukan saja merangkul dan sembunyi di balik tubuh induknya. Tapi juga gemetar. “Buuu, aku sangat takut. Takut sekali!” ucapnya sambil terus memejamkan mata.
Anak katak itu mulai keluar dari balik tubuh induknya. Ia mencoba mendongak, memandangi langit yang hitam, angin yang meliuk-liukkan dahan, dan sambaran petir yang begitu menyilaukan. Tiba-tiba, ia berteriak kencang, “Ibu, hujan datang. Hujan datang! Horeeee!”
**
Anugerah hidup kadang tampil melalui rute yang tidak diinginkan. Ia tidak datang diiringi dengan tiupan seruling merdu. Tidak diantar oleh dayang-dayang nan rupawan. Tidak disegarkan dengan wewangian harum.
Saat itulah, tidak sedikit manusia yang akhirnya dipermainkan keadaan. Persis seperti anak katak yang takut cuma karena langit hitam, angin yang bertiup kencang, dan kilatan petir yang menyilaukan. Padahal, itulah sebenarnya tanda-tanda hujan.
Benar apa yang diucapkan induk katak: jangan takut melangkah, jangan sembunyi dari kenyataan, sabar dan hadapi. Karena hujan yang ditunggu, SEMOGA, akan datang. Bersama kesukaran ada kemudahan. Sekali lagi, bersama kesukaran ada kemudahan.
Berapakah Harga Sebuah Keperawanan?
Wanita itu berjalan agak ragu memasuki hotel berbintang lima . Sang petugas satpam yang berdiri di samping pintu hotel menangkap kecurigaan pada wanita
itu. Tapi dia hanya memandang saja dengan awas ke arah langkah wanita itu yang kemudian mengambil tempat duduk di lounge yang agak di pojok.
Petugas satpam itu memperhatikan sekian lama, ada sesuatu yang harus dicurigainya terhadap wanita itu. Karena dua kali waiter mendatanginya tapi,
wanita itu hanya menggelengkan kepala. Mejanya masih kosong. Tak ada yang dipesan. Lantas untuk apa wanita itu duduk seorang diri. Adakah seseorang
yang sedang ditunggunya.
Petugas satpam itu mulai berpikir bahwa wanita itu bukanlah tipe wanita nakal yang biasa mencari mangsa di hotel ini. Usianya nampak belum terlalu
dewasa. Tapi tak bisa dibilang anak-anak. Sekitar usia remaja yang tengah beranjak dewasa.
Setelah sekian lama, akhirnya memaksa petugas satpam itu untuk mendekati meja wanita itu dan bertanya:
” Maaf, nona … Apakah anda sedang menunggu seseorang? ”
” Tidak! ” Jawab wanita itu sambil mengalihkan wajahnya ke tempat lain.
” Lantas untuk apa anda duduk di sini?”
” Apakah tidak boleh? ” Wanita itu mulai memandang ke arah sang petugas satpam..
” Maaf, Nona. Ini tempat berkelas dan hanya diperuntukan bagi orang yang ingin menikmati layanan kami.”
” Maksud, bapak? ”
” Anda harus memesan sesuatu untuk bisa duduk disini ”
” Nanti saya akan pesan setelah saya ada uang. Tapi sekarang, izinkanlah saya duduk di sini untuk sesuatu yang akan saya jual ”
Kata wanita itu dengan suara lambat.
” Jual? Apakah anda menjual sesuatu di sini? ”
Petugas satpam itu memperhatikan wanita itu. Tak nampak ada barang yang akan dijual. Mungkin wanita ini adalah pramuniaga yang hanya membawa brosur.
” Ok, lah. Apapun yang akan anda jual, ini bukanlah tempat untuk berjualan. Mohon mengerti. ”
” Saya ingin menjual diri saya, ” Kata wanita itu dengan tegas sambil menatap dalam-dalam kearah petugas satpam itu.
Petugas satpam itu terkesima sambil melihat ke kiri dan ke kanan.
” Mari ikut saya, ” Kata petugas satpam itu memberikan isyarat dengan tangannya.
Wanita itu menangkap sesuatu tindakan kooperativ karena ada secuil senyum di wajah petugas satpam itu. Tanpa ragu wanita itu melangkah mengikuti
petugas satpam itu.
Di koridor hotel itu terdapat kursi yang hanya untuk satu orang. Di sebelahnya ada telepon antar ruangan yang tersedia khusus bagi pengunjung
yang ingin menghubungi penghuni kamar di hotel ini. Di tempat inilah deal berlangsung.
” Apakah anda serius? ”
” Saya serius ” Jawab wanita itu tegas.
” Berapa tarif yang anda minta? ”
” Setinggi-tingginya. .’ ‘
” Mengapa?” Petugas satpam itu terkejut sambil menatap wanita itu.
” Saya masih perawan ”
” Perawan? ” Sekarang petugas satpam itu benar-benar terperanjat. Tapi wajahnya berseri. Peluang emas untuk mendapatkan rezeki berlebih hari ini..
Pikirnya
” Bagaimana saya tahu anda masih perawan?”
” Gampang sekali. Semua pria dewasa tahu membedakan mana perawan dan mana bukan.. Ya kan …”
” Kalau tidak terbukti? ”
” Tidak usah bayar …”
” Baiklah …” Petugas satpam itu menghela napas. Kemudian melirik ke kiri dan ke kanan.
” Saya akan membantu mendapatkan pria kaya yang ingin membeli keperawanan anda. ”
” Cobalah. ”
” Berapa tarif yang diminta? ”
” Setinggi-tingginya. ”
” Berapa? ”
” Setinggi-tingginya. Saya tidak tahu berapa? ”
” Baiklah. Saya akan tawarkan kepada tamu hotel ini. Tunggu sebentar ya. ”
Petugas satpam itu berlalu dari hadapan wanita itu.
Tak berapa lama kemudian, petugas satpam itu datang lagi dengan wajah cerah.
” Saya sudah dapatkan seorang penawar. Dia minta Rp. 5 juta. Bagaimana? ”
” Tidak adakah yang lebih tinggi? ”
” Ini termasuk yang tertinggi, ” Petugas satpam itu mencoba meyakinkan.
” Saya ingin yang lebih tinggi…”
” Baiklah. Tunggu disini …” Petugas satpam itu berlalu.
Tak berapa lama petugas satpam itu datang lagi dengan wajah lebih berseri.
” Saya dapatkan harga yang lebih tinggi. Rp. 6 juta rupiah. Bagaimana? ”
” Tidak adakah yang lebih tinggi? ”
” Nona, ini harga sangat pantas untuk anda. Cobalah bayangkan, bila anda diperkosa oleh pria, anda tidak akan mendapatkan apa apa. Atau andai perawan
anda diambil oleh pacar anda, andapun tidak akan mendapatkan apa apa, kecuali janji. Dengan uang Rp. 6 juta anda akan menikmati layanan hotel
berbintang untuk semalam dan keesokan paginya anda bisa melupakan semuanya dengan membawa uang banyak. Dan lagi, anda juga telah berbuat baik terhadap
saya. Karena saya akan mendapatkan komisi dari transaksi ini dari tamu hotel. Adilkan. Kita sama-sama butuh … ”
” Saya ingin tawaran tertinggi … ” Jawab wanita itu, tanpa peduli dengan celoteh petugas satpam itu.
Petugas satpam itu terdiam. Namun tidak kehilangan semangat.
” Baiklah, saya akan carikan tamu lainnya. Tapi sebaiknya anda ikut saya. Tolong kancing baju anda disingkapkan sedikit.
Agar ada sesuatu yang memancing mata orang untuk membeli. ” Kata petugas satpam itu dengan agak kesal.
Wanita itu tak peduli dengan saran petugas satpam itu tapi tetap mengikuti langkah petugas satpam itu memasuki lift.
Pintu kamar hotel itu terbuka. Dari dalam nampak pria bermata sipit agak berumur tersenyum menatap mereka berdua.
” Ini yang saya maksud, tuan. Apakah tuan berminat? ” Kata petugas satpam itu dengan sopan.
Pria bermata sipit itu menatap dengan seksama ke sekujur tubuh wanita itu …
” Berapa? ” Tanya pria itu kepada Wanita itu.
” Setinggi-tingginya ” Jawab wanita itu dengan tegas.
” Berapa harga tertinggi yang sudah ditawar orang? ” Kata pria itu kepada sang petugas satpam.
” Rp.. 6 juta, tuan ”
” Kalau begitu saya berani dengan harga Rp. 7 juta untuk semalam. ”
Wanita itu terdiam.
Petugas satpam itu memandang ke arah wanita itu dan berharap ada jawaban bagus dari wanita itu.
” Bagaimana? ” tanya pria itu.
”Saya ingin lebih tinggi lagi …” Kata wanita itu.
Petugas satpam itu tersenyum kecut.
” Bawa pergi wanita ini. ” Kata pria itu kepada petugas satpam sambil menutup pintu kamar dengan keras.
” Nona, anda telah membuat saya kesal. Apakah anda benar benar ingin menjual? ”
” Tentu! ”
” Kalau begitu mengapa anda menolak harga tertinggi itu … ”
” Saya minta yang lebih tinggi lagi …”
Petugas satpam itu menghela napas panjang. Seakan menahan emosi. Dia pun tak ingin kesempatan ini hilang.
Dicobanya untuk tetap membuat wanita itu merasa nyaman bersamanya.
” Kalau begitu, kamu tunggu di tempat tadi saja, ya. Saya akan mencoba mencari penawar yang lainnya. ”
Di lobi hotel, petugas satpam itu berusaha memandang satu per satu pria yang ada. Berusaha mencari langganan yang biasa memesan wanita melaluinya. Sudah
sekian lama, tak ada yang nampak dikenalnya. Namun, tak begitu jauh dari hadapannya ada seorang pria yang sedang berbicara lewat telepon genggamnya.
” Bukankah kemarin saya sudah kasih kamu uang 25 juta Rupiah.
Apakah itu tidak cukup? ” Terdengar suara pria itu berbicara.
Wajah pria itu nampak masam seketika
” Datanglah kemari. Saya tunggu. Saya kangen kamu.
Kan sudah seminggu lebih kita engga ketemu, ya sayang?! ”
Kini petugas satpam itu tahu, bahwa pria itu sedang berbicara dengan wanita.
Kemudian, dilihatnya, pria itu menutup teleponnya. Ada kekesalan di wajah pria itu.
Dengan tenang, petugas satpam itu berkata kepada Pria itu: ” Pak, apakah anda butuh wanita … ??? ”
Pria itu menatap sekilas kearah petugas satpam dan kemudian memalingkan wajahnya.
” Ada wanita yang duduk disana, ” Petugas satpam itu menujuk kearah wanita tadi.
Petugas satpam itu tak kehilangan akal untuk memanfaatkan peluang ini.
“Dia masih perawan..”
Pria itu mendekati petugas satpam itu.
Wajah mereka hanya berjarak setengah meter. ” Benarkah itu? ”
” Benar, pak. ”
” Kalau begitu kenalkan saya dengan wanita itu … ”
” Dengan senang hati. Tapi, pak …Wanita itu minta harga setinggi tingginya.”
” Saya tidak peduli … ” Pria itu menjawab dengan tegas.
Pria itu menyalami hangat wanita itu.
” Bapak ini siap membayar berapapun yang kamu minta. Nah, sekarang seriuslah ….” Kata petugas satpam itu dengan nada kesal.
” Mari kita bicara di kamar saja.” Kata pria itu sambil menyisipkan uang kepada petugas satpam itu.
Wanita itu mengikuti pria itu menuju kamarnya.
Di dalam kamar …
” Beritahu berapa harga yang kamu minta? ”
” Seharga untuk kesembuhan ibu saya dari penyakit ”
” Maksud kamu? ”
” Saya ingin menjual satu satunya harta dan kehormatan saya untuk kesembuhan ibu saya. Itulah cara saya berterima kasih …. ”
” Hanya itu …”
” Ya …! ”
Pria itu memperhatikan wajah wanita itu. Nampak terlalu muda untuk menjual kehormatannya. Wanita ini tidak menjual cintanya. Tidak pula menjual
penderitaannya. Tidak! Dia hanya ingin tampil sebagai petarung gagah berani di tengah kehidupan sosial yang tak lagi gratis. Pria ini sadar, bahwa
di hadapannya ada sesuatu kehormatan yang tak ternilai. Melebihi dari kehormatan sebuah perawan bagi wanita. Yaitu keteguhan untuk sebuah
pengorbanan tanpa ada rasa sesal. Wanta ini tidak melawan gelombang laut melainkan ikut kemana gelombang membawa dia pergi. Ada kepasrahan diatas
keyakinan tak tertandingi. Bahwa kehormatan akan selalu bernilai dan dibeli oleh orang terhormat pula dengan cara-cara terhormat.
” Siapa nama kamu? ”
” Itu tidak penting. Sebutkanlah harga yang bisa bapak bayar … ” Kata wanita itu
” Saya tak bisa menyebutkan harganya. Karena kamu bukanlah sesuatu yang pantas ditawar. ”
”Kalau begitu, tidak ada kesepakatan! ”
” Ada ! ” Kata pria itu seketika.
” Sebutkan! ”
” Saya membayar keberanianmu. Itulah yang dapat saya beli dari kamu. Terimalah uang ini.
Jumlahnya lebih dari cukup untuk membawa ibumu ke rumah sakit.
Dan sekarang pulanglah … ” Kata pria itu sambil menyerahkan uang dari dalam tas kerjanya.
” Saya tidak mengerti …”
” Selama ini saya selalu memanjakan istri simpanan saya.
Dia menikmati semua pemberian saya tapi dia tak pernah berterima kasih. Selalu memeras. Sekali saya memberi maka selamanya dia selalu meminta.
Tapi hari ini, saya bisa membeli rasa terima kasih dari seorang wanita yang gagah berani untuk berkorban bagi orang tuanya.
Ini suatu kehormatan yang tak ada nilainya bila saya bisa membayar …”
” Dan, apakah bapak ikhlas…? ”
” Apakah uang itu kurang? ”
” Lebih dari cukup, pak … ”
” Sebelum kamu pergi, boleh saya bertanya satu hal? ”
” Silahkan …”
” Mengapa kamu begitu beraninya … ”
” Siapa bilang saya berani. Saya takut pak …
Tapi lebih dari seminggu saya berupaya mendapatkan cara untuk membawa ibu saya ke rumah sakit dan semuanya gagal.
Ketika saya mengambil keputusan untuk menjual kehormatan saya maka itu bukanlah karena dorongan nafsu.
Bukan pula pertimbangan akal saya yang `bodoh` … Saya hanya bersikap dan berbuat untuk sebuah keyakinan … ”
” Keyakinan apa? ”
” Jika kita ikhlas berkorban untuk ibu atau siapa saja, maka Tuhan lah yang akan menjaga kehormatan kita … ” Wanita itu kemudian melangkah keluar
kamar.
Sebelum sampai di pintu wanita itu berkata:
” Lantas apa yang bapak dapat dari membeli ini … ”
” Kesadaran… ”
.. . .
Di sebuah rumah di pemukiman kumuh. Seorang ibu yang sedang terbaring sakit dikejutkan oleh dekapan hangat anaknya.
” Kamu sudah pulang, nak ”
” Ya, bu … ”
” Kemana saja kamu, nak … ???”
” Menjual sesuatu, bu … ”
” Apa yang kamu jual?” Ibu itu menampakkan wajah keheranan. Tapi wanita muda itu hanya tersenyum …
Hidup sebagai yatim lagi miskin terlalu sia-sia untuk diratapi di tengah kehidupan yang serba pongah ini. Di tengah situasi yang tak ada lagi yang
gratis. Semua orang berdagang. Membeli dan menjual adalah keseharian yang tak bisa dielakan. Tapi Tuhan selalu memberi tanpa pamrih, tanpa perhitungan
….
” Kini saatnya ibu untuk berobat … ”
Digendongnya ibunya dari pembaringan, sambil berkata: ” Tuhan telah membeli yang saya jual… ”.
Taksi yang tadi ditumpanginya dari hotel masih setia menunggu di depan rumahnya. Dimasukannya ibunya ke dalam taksi dengan hati-hati dan berkata
kepada supir taksi: ” Antar kami kerumah sakit …”
itu. Tapi dia hanya memandang saja dengan awas ke arah langkah wanita itu yang kemudian mengambil tempat duduk di lounge yang agak di pojok.
Petugas satpam itu memperhatikan sekian lama, ada sesuatu yang harus dicurigainya terhadap wanita itu. Karena dua kali waiter mendatanginya tapi,
wanita itu hanya menggelengkan kepala. Mejanya masih kosong. Tak ada yang dipesan. Lantas untuk apa wanita itu duduk seorang diri. Adakah seseorang
yang sedang ditunggunya.
Petugas satpam itu mulai berpikir bahwa wanita itu bukanlah tipe wanita nakal yang biasa mencari mangsa di hotel ini. Usianya nampak belum terlalu
dewasa. Tapi tak bisa dibilang anak-anak. Sekitar usia remaja yang tengah beranjak dewasa.
Setelah sekian lama, akhirnya memaksa petugas satpam itu untuk mendekati meja wanita itu dan bertanya:
” Maaf, nona … Apakah anda sedang menunggu seseorang? ”
” Tidak! ” Jawab wanita itu sambil mengalihkan wajahnya ke tempat lain.
” Lantas untuk apa anda duduk di sini?”
” Apakah tidak boleh? ” Wanita itu mulai memandang ke arah sang petugas satpam..
” Maaf, Nona. Ini tempat berkelas dan hanya diperuntukan bagi orang yang ingin menikmati layanan kami.”
” Maksud, bapak? ”
” Anda harus memesan sesuatu untuk bisa duduk disini ”
” Nanti saya akan pesan setelah saya ada uang. Tapi sekarang, izinkanlah saya duduk di sini untuk sesuatu yang akan saya jual ”
Kata wanita itu dengan suara lambat.
” Jual? Apakah anda menjual sesuatu di sini? ”
Petugas satpam itu memperhatikan wanita itu. Tak nampak ada barang yang akan dijual. Mungkin wanita ini adalah pramuniaga yang hanya membawa brosur.
” Ok, lah. Apapun yang akan anda jual, ini bukanlah tempat untuk berjualan. Mohon mengerti. ”
” Saya ingin menjual diri saya, ” Kata wanita itu dengan tegas sambil menatap dalam-dalam kearah petugas satpam itu.
Petugas satpam itu terkesima sambil melihat ke kiri dan ke kanan.
” Mari ikut saya, ” Kata petugas satpam itu memberikan isyarat dengan tangannya.
Wanita itu menangkap sesuatu tindakan kooperativ karena ada secuil senyum di wajah petugas satpam itu. Tanpa ragu wanita itu melangkah mengikuti
petugas satpam itu.
Di koridor hotel itu terdapat kursi yang hanya untuk satu orang. Di sebelahnya ada telepon antar ruangan yang tersedia khusus bagi pengunjung
yang ingin menghubungi penghuni kamar di hotel ini. Di tempat inilah deal berlangsung.
” Apakah anda serius? ”
” Saya serius ” Jawab wanita itu tegas.
” Berapa tarif yang anda minta? ”
” Setinggi-tingginya. .’ ‘
” Mengapa?” Petugas satpam itu terkejut sambil menatap wanita itu.
” Saya masih perawan ”
” Perawan? ” Sekarang petugas satpam itu benar-benar terperanjat. Tapi wajahnya berseri. Peluang emas untuk mendapatkan rezeki berlebih hari ini..
Pikirnya
” Bagaimana saya tahu anda masih perawan?”
” Gampang sekali. Semua pria dewasa tahu membedakan mana perawan dan mana bukan.. Ya kan …”
” Kalau tidak terbukti? ”
” Tidak usah bayar …”
” Baiklah …” Petugas satpam itu menghela napas. Kemudian melirik ke kiri dan ke kanan.
” Saya akan membantu mendapatkan pria kaya yang ingin membeli keperawanan anda. ”
” Cobalah. ”
” Berapa tarif yang diminta? ”
” Setinggi-tingginya. ”
” Berapa? ”
” Setinggi-tingginya. Saya tidak tahu berapa? ”
” Baiklah. Saya akan tawarkan kepada tamu hotel ini. Tunggu sebentar ya. ”
Petugas satpam itu berlalu dari hadapan wanita itu.
Tak berapa lama kemudian, petugas satpam itu datang lagi dengan wajah cerah.
” Saya sudah dapatkan seorang penawar. Dia minta Rp. 5 juta. Bagaimana? ”
” Tidak adakah yang lebih tinggi? ”
” Ini termasuk yang tertinggi, ” Petugas satpam itu mencoba meyakinkan.
” Saya ingin yang lebih tinggi…”
” Baiklah. Tunggu disini …” Petugas satpam itu berlalu.
Tak berapa lama petugas satpam itu datang lagi dengan wajah lebih berseri.
” Saya dapatkan harga yang lebih tinggi. Rp. 6 juta rupiah. Bagaimana? ”
” Tidak adakah yang lebih tinggi? ”
” Nona, ini harga sangat pantas untuk anda. Cobalah bayangkan, bila anda diperkosa oleh pria, anda tidak akan mendapatkan apa apa. Atau andai perawan
anda diambil oleh pacar anda, andapun tidak akan mendapatkan apa apa, kecuali janji. Dengan uang Rp. 6 juta anda akan menikmati layanan hotel
berbintang untuk semalam dan keesokan paginya anda bisa melupakan semuanya dengan membawa uang banyak. Dan lagi, anda juga telah berbuat baik terhadap
saya. Karena saya akan mendapatkan komisi dari transaksi ini dari tamu hotel. Adilkan. Kita sama-sama butuh … ”
” Saya ingin tawaran tertinggi … ” Jawab wanita itu, tanpa peduli dengan celoteh petugas satpam itu.
Petugas satpam itu terdiam. Namun tidak kehilangan semangat.
” Baiklah, saya akan carikan tamu lainnya. Tapi sebaiknya anda ikut saya. Tolong kancing baju anda disingkapkan sedikit.
Agar ada sesuatu yang memancing mata orang untuk membeli. ” Kata petugas satpam itu dengan agak kesal.
Wanita itu tak peduli dengan saran petugas satpam itu tapi tetap mengikuti langkah petugas satpam itu memasuki lift.
Pintu kamar hotel itu terbuka. Dari dalam nampak pria bermata sipit agak berumur tersenyum menatap mereka berdua.
” Ini yang saya maksud, tuan. Apakah tuan berminat? ” Kata petugas satpam itu dengan sopan.
Pria bermata sipit itu menatap dengan seksama ke sekujur tubuh wanita itu …
” Berapa? ” Tanya pria itu kepada Wanita itu.
” Setinggi-tingginya ” Jawab wanita itu dengan tegas.
” Berapa harga tertinggi yang sudah ditawar orang? ” Kata pria itu kepada sang petugas satpam.
” Rp.. 6 juta, tuan ”
” Kalau begitu saya berani dengan harga Rp. 7 juta untuk semalam. ”
Wanita itu terdiam.
Petugas satpam itu memandang ke arah wanita itu dan berharap ada jawaban bagus dari wanita itu.
” Bagaimana? ” tanya pria itu.
”Saya ingin lebih tinggi lagi …” Kata wanita itu.
Petugas satpam itu tersenyum kecut.
” Bawa pergi wanita ini. ” Kata pria itu kepada petugas satpam sambil menutup pintu kamar dengan keras.
” Nona, anda telah membuat saya kesal. Apakah anda benar benar ingin menjual? ”
” Tentu! ”
” Kalau begitu mengapa anda menolak harga tertinggi itu … ”
” Saya minta yang lebih tinggi lagi …”
Petugas satpam itu menghela napas panjang. Seakan menahan emosi. Dia pun tak ingin kesempatan ini hilang.
Dicobanya untuk tetap membuat wanita itu merasa nyaman bersamanya.
” Kalau begitu, kamu tunggu di tempat tadi saja, ya. Saya akan mencoba mencari penawar yang lainnya. ”
Di lobi hotel, petugas satpam itu berusaha memandang satu per satu pria yang ada. Berusaha mencari langganan yang biasa memesan wanita melaluinya. Sudah
sekian lama, tak ada yang nampak dikenalnya. Namun, tak begitu jauh dari hadapannya ada seorang pria yang sedang berbicara lewat telepon genggamnya.
” Bukankah kemarin saya sudah kasih kamu uang 25 juta Rupiah.
Apakah itu tidak cukup? ” Terdengar suara pria itu berbicara.
Wajah pria itu nampak masam seketika
” Datanglah kemari. Saya tunggu. Saya kangen kamu.
Kan sudah seminggu lebih kita engga ketemu, ya sayang?! ”
Kini petugas satpam itu tahu, bahwa pria itu sedang berbicara dengan wanita.
Kemudian, dilihatnya, pria itu menutup teleponnya. Ada kekesalan di wajah pria itu.
Dengan tenang, petugas satpam itu berkata kepada Pria itu: ” Pak, apakah anda butuh wanita … ??? ”
Pria itu menatap sekilas kearah petugas satpam dan kemudian memalingkan wajahnya.
” Ada wanita yang duduk disana, ” Petugas satpam itu menujuk kearah wanita tadi.
Petugas satpam itu tak kehilangan akal untuk memanfaatkan peluang ini.
“Dia masih perawan..”
Pria itu mendekati petugas satpam itu.
Wajah mereka hanya berjarak setengah meter. ” Benarkah itu? ”
” Benar, pak. ”
” Kalau begitu kenalkan saya dengan wanita itu … ”
” Dengan senang hati. Tapi, pak …Wanita itu minta harga setinggi tingginya.”
” Saya tidak peduli … ” Pria itu menjawab dengan tegas.
Pria itu menyalami hangat wanita itu.
” Bapak ini siap membayar berapapun yang kamu minta. Nah, sekarang seriuslah ….” Kata petugas satpam itu dengan nada kesal.
” Mari kita bicara di kamar saja.” Kata pria itu sambil menyisipkan uang kepada petugas satpam itu.
Wanita itu mengikuti pria itu menuju kamarnya.
Di dalam kamar …
” Beritahu berapa harga yang kamu minta? ”
” Seharga untuk kesembuhan ibu saya dari penyakit ”
” Maksud kamu? ”
” Saya ingin menjual satu satunya harta dan kehormatan saya untuk kesembuhan ibu saya. Itulah cara saya berterima kasih …. ”
” Hanya itu …”
” Ya …! ”
Pria itu memperhatikan wajah wanita itu. Nampak terlalu muda untuk menjual kehormatannya. Wanita ini tidak menjual cintanya. Tidak pula menjual
penderitaannya. Tidak! Dia hanya ingin tampil sebagai petarung gagah berani di tengah kehidupan sosial yang tak lagi gratis. Pria ini sadar, bahwa
di hadapannya ada sesuatu kehormatan yang tak ternilai. Melebihi dari kehormatan sebuah perawan bagi wanita. Yaitu keteguhan untuk sebuah
pengorbanan tanpa ada rasa sesal. Wanta ini tidak melawan gelombang laut melainkan ikut kemana gelombang membawa dia pergi. Ada kepasrahan diatas
keyakinan tak tertandingi. Bahwa kehormatan akan selalu bernilai dan dibeli oleh orang terhormat pula dengan cara-cara terhormat.
” Siapa nama kamu? ”
” Itu tidak penting. Sebutkanlah harga yang bisa bapak bayar … ” Kata wanita itu
” Saya tak bisa menyebutkan harganya. Karena kamu bukanlah sesuatu yang pantas ditawar. ”
”Kalau begitu, tidak ada kesepakatan! ”
” Ada ! ” Kata pria itu seketika.
” Sebutkan! ”
” Saya membayar keberanianmu. Itulah yang dapat saya beli dari kamu. Terimalah uang ini.
Jumlahnya lebih dari cukup untuk membawa ibumu ke rumah sakit.
Dan sekarang pulanglah … ” Kata pria itu sambil menyerahkan uang dari dalam tas kerjanya.
” Saya tidak mengerti …”
” Selama ini saya selalu memanjakan istri simpanan saya.
Dia menikmati semua pemberian saya tapi dia tak pernah berterima kasih. Selalu memeras. Sekali saya memberi maka selamanya dia selalu meminta.
Tapi hari ini, saya bisa membeli rasa terima kasih dari seorang wanita yang gagah berani untuk berkorban bagi orang tuanya.
Ini suatu kehormatan yang tak ada nilainya bila saya bisa membayar …”
” Dan, apakah bapak ikhlas…? ”
” Apakah uang itu kurang? ”
” Lebih dari cukup, pak … ”
” Sebelum kamu pergi, boleh saya bertanya satu hal? ”
” Silahkan …”
” Mengapa kamu begitu beraninya … ”
” Siapa bilang saya berani. Saya takut pak …
Tapi lebih dari seminggu saya berupaya mendapatkan cara untuk membawa ibu saya ke rumah sakit dan semuanya gagal.
Ketika saya mengambil keputusan untuk menjual kehormatan saya maka itu bukanlah karena dorongan nafsu.
Bukan pula pertimbangan akal saya yang `bodoh` … Saya hanya bersikap dan berbuat untuk sebuah keyakinan … ”
” Keyakinan apa? ”
” Jika kita ikhlas berkorban untuk ibu atau siapa saja, maka Tuhan lah yang akan menjaga kehormatan kita … ” Wanita itu kemudian melangkah keluar
kamar.
Sebelum sampai di pintu wanita itu berkata:
” Lantas apa yang bapak dapat dari membeli ini … ”
” Kesadaran… ”
.. . .
Di sebuah rumah di pemukiman kumuh. Seorang ibu yang sedang terbaring sakit dikejutkan oleh dekapan hangat anaknya.
” Kamu sudah pulang, nak ”
” Ya, bu … ”
” Kemana saja kamu, nak … ???”
” Menjual sesuatu, bu … ”
” Apa yang kamu jual?” Ibu itu menampakkan wajah keheranan. Tapi wanita muda itu hanya tersenyum …
Hidup sebagai yatim lagi miskin terlalu sia-sia untuk diratapi di tengah kehidupan yang serba pongah ini. Di tengah situasi yang tak ada lagi yang
gratis. Semua orang berdagang. Membeli dan menjual adalah keseharian yang tak bisa dielakan. Tapi Tuhan selalu memberi tanpa pamrih, tanpa perhitungan
….
” Kini saatnya ibu untuk berobat … ”
Digendongnya ibunya dari pembaringan, sambil berkata: ” Tuhan telah membeli yang saya jual… ”.
Taksi yang tadi ditumpanginya dari hotel masih setia menunggu di depan rumahnya. Dimasukannya ibunya ke dalam taksi dengan hati-hati dan berkata
kepada supir taksi: ” Antar kami kerumah sakit …”
Dream...
Namanya Hani. Hani Irmawati. Ia adalah gadis pemalu, berusia 17 tahun. Tinggal di rumah berkamar dua bersama dua saudara dan orangtuanya. Ayahnya adalah penjaga gedung dan ibunya pembantu rumah tangga. Pendapatan tahunan mereka, tidak setara dengan biaya kuliah sebulan di Amerika.
Pada suatu hari, dengan baju lusuh, ia berdiri sendirian di tempat parkir sebuah sekolah internasional. Sekolah itu mahal, dan tidak menerima murid Indonesia. Ia menghampiri seorang guru yang mengajar bahasa Inggris di sana. Sebuah tindakan yang membutuhkan keberanian besar untuk ukuran gadis Indonesia.
“Aku ingin kuliah di Amerika,” tuturnya, terdengar hampir tak masuk akal. Membuat sang guru tercengang, ingin menangis mendengar impian gadis belia yang bagai pungguk merindukan bulan.
Untuk beberapa bulan berikutnya, Hani bangun setiap pagi pada pukul lima dan naik bis kota ke SMU-nya. Selama satu jam perjalanan itu, ia belajar untuk pelajaran biasa dan menyiapkan tambahan pelajaran bahasa Inggris yang didapatnya dari sang guru sekolah internasional itu sehari sebelumnya. Lalu pada jam empat sore, ia tiba di kelas sang guru. Lelah, tapi siap belajar.
“Ia belajar lebih giat daripada kebanyakan siswa ekspatriatku yang kaya-kaya,” tutur sang guru. “Semangat Hani meningkat seiring dengan meningkatnya kemampuan bahasanya, tetapi aku makin patah semangat.”
Hani tak mungkin memenuhi syarat untuk mendapatkan beasiswa dari universitas besar di Amerika. Ia belum pernah memimpin klub atau organisasi, karena di sekolahnya tak ada hal-hal seperti itu. Ia tak memiliki pembimbing dan nilai tes standar yang mengesankan, karena tes semacam itu tak ada.
Namun, Hani memiliki tekad lebih kuat daripada murid mana pun.
“Maukah Anda mengirimkan namaku?” pintanya untuk didaftarkan sebagai
penerima beasiswa.
“Aku tak tega menolak. Aku mengisi pendaftaran, mengisi setiap titik-titik
dengan kebenaran yang menyakitkan tentang kehidupan akademisnya, tetapi juga
dengan pujianku tentang keberanian dan kegigihannya,” ujar sang guru.
“Kurekatkan amplop itu dan mengatakan kepada Hani bahwa peluangnya untuk
diterima itu tipis, mungkin nihil.”
Pada minggu-minggu berikutnya, Hani meningkatkan pelajarannya dalam bahasa
Inggris. Seluruh tes komputerisasi menjadi tantangan besar bagi seseorang
yang belum pernah menyentuh komputer. Selama dua minggu ia belajar
bagian-bagian komputer dan cara kerjanya.
Lalu, tepat sebelum Hani ke Jakarta untuk mengambil TOEFL, ia menerima surat
dari asosiasi beasiswa itu.
“Inilah saat yang kejam. Penolakan,” pikir sang guru.
Sebagai upaya mencoba mempersiapkannya untuk menghadapi kekecewaan, sang
guru lalu membuka surat dan mulai membacakannya: Ia diterima! Hani diterima
….
“Akhirnya aku menyadari bahwa akulah yang baru memahami sesuatu yang sudah
diketahui Hani sejak awal: bukan kecerdasan saja yang membawa sukses, tapi
juga hasrat untuk sukses, komitmen untuk bekerja keras, dan keberanian untuk
percaya akan dirimu sendiri,” tutur sang guru menutup kisahnya.
Kisah Hani ini diungkap oleh sang guru bahasa Inggris itu, Jamie Winship,
dan dimuat di buku “Chicken Soup for the College Soul”, yang edisi
Indonesianya telah diterbitkan.
Tentu kisah ini tidak dipandang sebagai kisah biasa oleh Jack Canfield, Mark
Victor Hansen, Kimberly Kirberger, dan Dan Clark. Ia terpilih diantara lebih
dari delapan ribu kisah lainnya. Namun, bukan ini yang membuatnya istimewa.
Yang istimewa, Hani menampilkan sosoknya yang berbeda. Ia punya tekad. Tekad
untuk maju. Maka, sebagaimana diucapkan Tommy Lasorda, “Perbedaan antara
yang mustahil dan yang tidak mustahil terletak pada tekad seseorang.”
Anda memilikinya?
Kisah ini diambil dari buku Chicken Soups for The Souls
Pada suatu hari, dengan baju lusuh, ia berdiri sendirian di tempat parkir sebuah sekolah internasional. Sekolah itu mahal, dan tidak menerima murid Indonesia. Ia menghampiri seorang guru yang mengajar bahasa Inggris di sana. Sebuah tindakan yang membutuhkan keberanian besar untuk ukuran gadis Indonesia.
“Aku ingin kuliah di Amerika,” tuturnya, terdengar hampir tak masuk akal. Membuat sang guru tercengang, ingin menangis mendengar impian gadis belia yang bagai pungguk merindukan bulan.
Untuk beberapa bulan berikutnya, Hani bangun setiap pagi pada pukul lima dan naik bis kota ke SMU-nya. Selama satu jam perjalanan itu, ia belajar untuk pelajaran biasa dan menyiapkan tambahan pelajaran bahasa Inggris yang didapatnya dari sang guru sekolah internasional itu sehari sebelumnya. Lalu pada jam empat sore, ia tiba di kelas sang guru. Lelah, tapi siap belajar.
“Ia belajar lebih giat daripada kebanyakan siswa ekspatriatku yang kaya-kaya,” tutur sang guru. “Semangat Hani meningkat seiring dengan meningkatnya kemampuan bahasanya, tetapi aku makin patah semangat.”
Hani tak mungkin memenuhi syarat untuk mendapatkan beasiswa dari universitas besar di Amerika. Ia belum pernah memimpin klub atau organisasi, karena di sekolahnya tak ada hal-hal seperti itu. Ia tak memiliki pembimbing dan nilai tes standar yang mengesankan, karena tes semacam itu tak ada.
Namun, Hani memiliki tekad lebih kuat daripada murid mana pun.
“Maukah Anda mengirimkan namaku?” pintanya untuk didaftarkan sebagai
penerima beasiswa.
“Aku tak tega menolak. Aku mengisi pendaftaran, mengisi setiap titik-titik
dengan kebenaran yang menyakitkan tentang kehidupan akademisnya, tetapi juga
dengan pujianku tentang keberanian dan kegigihannya,” ujar sang guru.
“Kurekatkan amplop itu dan mengatakan kepada Hani bahwa peluangnya untuk
diterima itu tipis, mungkin nihil.”
Pada minggu-minggu berikutnya, Hani meningkatkan pelajarannya dalam bahasa
Inggris. Seluruh tes komputerisasi menjadi tantangan besar bagi seseorang
yang belum pernah menyentuh komputer. Selama dua minggu ia belajar
bagian-bagian komputer dan cara kerjanya.
Lalu, tepat sebelum Hani ke Jakarta untuk mengambil TOEFL, ia menerima surat
dari asosiasi beasiswa itu.
“Inilah saat yang kejam. Penolakan,” pikir sang guru.
Sebagai upaya mencoba mempersiapkannya untuk menghadapi kekecewaan, sang
guru lalu membuka surat dan mulai membacakannya: Ia diterima! Hani diterima
….
“Akhirnya aku menyadari bahwa akulah yang baru memahami sesuatu yang sudah
diketahui Hani sejak awal: bukan kecerdasan saja yang membawa sukses, tapi
juga hasrat untuk sukses, komitmen untuk bekerja keras, dan keberanian untuk
percaya akan dirimu sendiri,” tutur sang guru menutup kisahnya.
Kisah Hani ini diungkap oleh sang guru bahasa Inggris itu, Jamie Winship,
dan dimuat di buku “Chicken Soup for the College Soul”, yang edisi
Indonesianya telah diterbitkan.
Tentu kisah ini tidak dipandang sebagai kisah biasa oleh Jack Canfield, Mark
Victor Hansen, Kimberly Kirberger, dan Dan Clark. Ia terpilih diantara lebih
dari delapan ribu kisah lainnya. Namun, bukan ini yang membuatnya istimewa.
Yang istimewa, Hani menampilkan sosoknya yang berbeda. Ia punya tekad. Tekad
untuk maju. Maka, sebagaimana diucapkan Tommy Lasorda, “Perbedaan antara
yang mustahil dan yang tidak mustahil terletak pada tekad seseorang.”
Anda memilikinya?
Kisah ini diambil dari buku Chicken Soups for The Souls
Pembeli istimewa
Pada suatu hari, ketika Jepang belum semakmur sekarang, datanglah seorang peminta-minta kesebuah toko kue yang mewah dan bergengsi untuk membeli manju (kue Jepang yang terbuat dari kacang hijau dan berisi selai). Bukan main terkejutnya si pelayan melihat pelanggan yang begitu sederhana di tokonya yang mewah dan bergengsi itu. Karena itu dengan terburu-buru ia membungkus manju itu. Tapi belum lagi ia sempat menyerahkan manju itu kepada si pengemis, muncullah si pemilik toko berseru, “Tunggu, biarkan saya yang menyerahkannya” . Seraya berkata begitu, diserahkannya bungkusan itu kepada si pengemis.
Si pengemis memberikan pembayarannya. Sembari menerima pembayaran dari tangan si pengemis, ia membungkuk hormat dan berkata, “Terima kasih atas kunjungan Anda”.
Setelah si pengemis berlalu, si pelayan bertanya pada si pemilik toko,
“Mengapa harus Anda sendiri yang menyerahkan kue itu? Anda sendiri belum pernah melakukan hal itu pada pelanggan mana pun. Selama ini saya dan kasirlah yang melayani pembeli”.
Si pemilik toko itu berkata, “ Saya mengerti mengapa kau heran. Semestinya kita bergembira dan bersyukur atas kedatangan pelanggan istimewa tadi. Aku ingin langsung menyatakan terima kasih. Bukankah yang selalu datang
adalah pelanggan biasa, namun kali ini lain.”
“Mengapa lain?’ Tanya pelayan.
“Hampir semua dari pelanggan kita adalah orang kaya. Bagi mereka, membeli kue di tempat kita sudah merupakan hal biasa. Tapi orang tadi pasti sudah begitu merindukan manju kita sehingga mungkin ia sudah berkorban demi mendapatkan manju itu. Saya tahu, manju itu sangat penting baginya. Karena
itu saya memutuskan ia layak dilayani oleh pemilik toko sendiri. Itulah mengapa aku melayaninya”. Demikian penjelasan sang pemilik toko.
Konosuke Matsushita, pemilik perusahaan Matsushita Electric yang terkemuka itu, menutup cerita tadi dengan renungan bahwa setiap pelanggan berhak mendapatkan penghargaan yang sama. Nilai seorang pelanggan bukanlah ditentukan oleh prestise pribadinya atau besarnya pesanan yang dilakukan. Seorang usahawan sejati mendapatkan sukacita dan di sinilah ia harus meletakkan nilainya.
Dikutip dari artikel, Konosuke Matsushita, Food for Through
Si pengemis memberikan pembayarannya. Sembari menerima pembayaran dari tangan si pengemis, ia membungkuk hormat dan berkata, “Terima kasih atas kunjungan Anda”.
Setelah si pengemis berlalu, si pelayan bertanya pada si pemilik toko,
“Mengapa harus Anda sendiri yang menyerahkan kue itu? Anda sendiri belum pernah melakukan hal itu pada pelanggan mana pun. Selama ini saya dan kasirlah yang melayani pembeli”.
Si pemilik toko itu berkata, “ Saya mengerti mengapa kau heran. Semestinya kita bergembira dan bersyukur atas kedatangan pelanggan istimewa tadi. Aku ingin langsung menyatakan terima kasih. Bukankah yang selalu datang
adalah pelanggan biasa, namun kali ini lain.”
“Mengapa lain?’ Tanya pelayan.
“Hampir semua dari pelanggan kita adalah orang kaya. Bagi mereka, membeli kue di tempat kita sudah merupakan hal biasa. Tapi orang tadi pasti sudah begitu merindukan manju kita sehingga mungkin ia sudah berkorban demi mendapatkan manju itu. Saya tahu, manju itu sangat penting baginya. Karena
itu saya memutuskan ia layak dilayani oleh pemilik toko sendiri. Itulah mengapa aku melayaninya”. Demikian penjelasan sang pemilik toko.
Konosuke Matsushita, pemilik perusahaan Matsushita Electric yang terkemuka itu, menutup cerita tadi dengan renungan bahwa setiap pelanggan berhak mendapatkan penghargaan yang sama. Nilai seorang pelanggan bukanlah ditentukan oleh prestise pribadinya atau besarnya pesanan yang dilakukan. Seorang usahawan sejati mendapatkan sukacita dan di sinilah ia harus meletakkan nilainya.
Dikutip dari artikel, Konosuke Matsushita, Food for Through
Tumbuh
Saya dibesarkan didaerah pertanian. Setiap hari, saya pergi ke kebun untuk membantu Ayah menanam beragam macam sayuran.
Dan setiap hari pula saya menyaksikan tanaman itu tumbuh mulai dari sebutir biji kecil, kemudian menggeliat dari dalamnya tunas berupa daun mungil yang lucu.
Keesokan harinya daun lembut itu semakin membesar, lalu keluarlah batang.
Setelah itu, dia kembali berkembang sehingga lengkaplah dia menjadi sebatang pohon yang kokoh, lagi rindang.
Pernahkah anda merenungkan, mengapa tanaman disebut sebagai ‘tumbuhan’?
Ternyata, tanaman itu mempunyai karakter unik yang kemungkinan tidak dimiliki oleh mahluk lain.
Anda tentu tahu bahwa tanaman memiliki kemauan untuk terus tumbuh.
Cobalah perhatikan, bahkan pada batang pohon yang sudah tua pun, selalu saja muncul paling tidak satu tunas kecil.
Malah tak jarang tunas-tunas itu bermunculan pada sisa-sisa pohon yang sudah ditebang, bukan?
Itu merupakan salah satu bukti bahwa tanaman memiliki karakter kuat untuk terus bertumbuh.
Dan itulah pula sebabnya, mengapa dia disebut sebagai ‘tumbuhan’.
Pertanda apakah gerangan ini bagi kita?
Ini adalah pertanda bahwa kita pun mesti memiliki karakter seperti itu.
Kita mesti memiliki keinginan untuk terus bertumbuh.
Tentu tidak dengan cara menumbuhkan organ-organ tubuh kita terus menerus, melainkan untuk memperkuat dan memperindah karakter hidup kita.
Menambah ilmu pengetahuan kita. Dan meningkatkan kemampuan-kemampuan teknis kita.
Itulah sebabnya, mengapa orang-orang bijak tidak pernah berhenti untuk meningkatkan diri.
Karena, mereka memahami bahwa; belajar itu dimulai dari rahim Ibunda, hingga kita singgah dipemakaman kelak. Banyak orang yang berhenti belajar, terutama ketika mereka merasa sudah berhasil meraih posisi yang diinginkannya.
Contohnya, ketika seseorang dipromosi untuk menduduki jabatan tinggi, dia mengira bahwa semuanya sudah diraih.
Jadi, tak penting lagi untuk belajar tentang itu dan ini.
Padahal, hari gini, bahkan banyak Direktur yang diberhentikan.
Jika anda mengikuti perkembangan krisis global yang tengah terjadi saat ini, anda akan percaya kepada apa yang saya katakan ini.
Berapa banyak sudah CEO yang dipecat? Berapa ribu Direktur yang sudah diretur? Ditambah dengan puluhan ribu Manager.
Dan ratusan ribu karyawan ditingkat lainnya.
Bahkan, dalam World Economic Forum bulan lalu terungkap bahwa tahun di 2009 ini diperkirakan akan terjadi PHK terhadap sekitar 50,000,000 (lima puluh juta) pekerja.
Sedangkan Indonesia diperkirakan akan kebagian ‘jatah’ sekitar 650,000 orang yang bakal kehilangan pekerjaan.
Artinya apa? Artinya, ini bukan saat yang tepat bagi kita untuk berhenti bertumbuh.
‘Sekalipun saat ini saya telah menduduki jabatan yang tinggi?’ Ya.
Sekalipun saat ini Anda telah menduduki jabatan yang tinggi.
Karena, kalau Anda berhenti bertumbuh; tidak ada jaminan bahwa anda akan dipertahankan.
Jadi, tidak ada pilihan lain; apakah kita sudah berhasil menapaki jenjang karir yang tinggi atau baru saja memulai, kita mesti terus tumbuh dan meningkatkan diri.
Bagaimana seandainya sekalipun saya sudah belajar terus tapi ternyata kena PHK juga? Mengapa mesti pusing dengan itu?
Justru Anda beruntung, karena sebelum PHK terjadi, anda sudah belajar tentang banyak hal.
Sehingga, anda memiliki begitu banyak kemampuan yang dapat diandalkan.
Oleh karena itu, sekalipun hal yang tidak diharapkan itu terjadi juga pada anda; anda masih bisa mengandalkan kemampuan diri.
Ketika orang lain pusing gara-gara kena PHK. Tidak tahu apa yang akan dilakukan setelah itu.
Bingung, frustrasi, dan sedih; Anda sebaliknya. Tenang saja, karena ada banyak hal yang bisa anda lakukan dari hasil mengembangkan diri selama ini.
Sebab, proses belajar yang tiada henti akan membantu anda menjalani hidup ini.
Meskipun roda kehidupan kita tengah berada dibagian paling bawah proses perputarannya. Toh nanti juga akan kembali beranjak naik….
Catatan Kaki:
Tantangan hidup tidak mungkin semakin berkurang.
Satu-satunya cara untuk menghadapinya adalah; selalu meningkatkan diri.
Tumbuh dan Berkembanglah selalu…
Dan setiap hari pula saya menyaksikan tanaman itu tumbuh mulai dari sebutir biji kecil, kemudian menggeliat dari dalamnya tunas berupa daun mungil yang lucu.
Keesokan harinya daun lembut itu semakin membesar, lalu keluarlah batang.
Setelah itu, dia kembali berkembang sehingga lengkaplah dia menjadi sebatang pohon yang kokoh, lagi rindang.
Pernahkah anda merenungkan, mengapa tanaman disebut sebagai ‘tumbuhan’?
Ternyata, tanaman itu mempunyai karakter unik yang kemungkinan tidak dimiliki oleh mahluk lain.
Anda tentu tahu bahwa tanaman memiliki kemauan untuk terus tumbuh.
Cobalah perhatikan, bahkan pada batang pohon yang sudah tua pun, selalu saja muncul paling tidak satu tunas kecil.
Malah tak jarang tunas-tunas itu bermunculan pada sisa-sisa pohon yang sudah ditebang, bukan?
Itu merupakan salah satu bukti bahwa tanaman memiliki karakter kuat untuk terus bertumbuh.
Dan itulah pula sebabnya, mengapa dia disebut sebagai ‘tumbuhan’.
Pertanda apakah gerangan ini bagi kita?
Ini adalah pertanda bahwa kita pun mesti memiliki karakter seperti itu.
Kita mesti memiliki keinginan untuk terus bertumbuh.
Tentu tidak dengan cara menumbuhkan organ-organ tubuh kita terus menerus, melainkan untuk memperkuat dan memperindah karakter hidup kita.
Menambah ilmu pengetahuan kita. Dan meningkatkan kemampuan-kemampuan teknis kita.
Itulah sebabnya, mengapa orang-orang bijak tidak pernah berhenti untuk meningkatkan diri.
Karena, mereka memahami bahwa; belajar itu dimulai dari rahim Ibunda, hingga kita singgah dipemakaman kelak. Banyak orang yang berhenti belajar, terutama ketika mereka merasa sudah berhasil meraih posisi yang diinginkannya.
Contohnya, ketika seseorang dipromosi untuk menduduki jabatan tinggi, dia mengira bahwa semuanya sudah diraih.
Jadi, tak penting lagi untuk belajar tentang itu dan ini.
Padahal, hari gini, bahkan banyak Direktur yang diberhentikan.
Jika anda mengikuti perkembangan krisis global yang tengah terjadi saat ini, anda akan percaya kepada apa yang saya katakan ini.
Berapa banyak sudah CEO yang dipecat? Berapa ribu Direktur yang sudah diretur? Ditambah dengan puluhan ribu Manager.
Dan ratusan ribu karyawan ditingkat lainnya.
Bahkan, dalam World Economic Forum bulan lalu terungkap bahwa tahun di 2009 ini diperkirakan akan terjadi PHK terhadap sekitar 50,000,000 (lima puluh juta) pekerja.
Sedangkan Indonesia diperkirakan akan kebagian ‘jatah’ sekitar 650,000 orang yang bakal kehilangan pekerjaan.
Artinya apa? Artinya, ini bukan saat yang tepat bagi kita untuk berhenti bertumbuh.
‘Sekalipun saat ini saya telah menduduki jabatan yang tinggi?’ Ya.
Sekalipun saat ini Anda telah menduduki jabatan yang tinggi.
Karena, kalau Anda berhenti bertumbuh; tidak ada jaminan bahwa anda akan dipertahankan.
Jadi, tidak ada pilihan lain; apakah kita sudah berhasil menapaki jenjang karir yang tinggi atau baru saja memulai, kita mesti terus tumbuh dan meningkatkan diri.
Bagaimana seandainya sekalipun saya sudah belajar terus tapi ternyata kena PHK juga? Mengapa mesti pusing dengan itu?
Justru Anda beruntung, karena sebelum PHK terjadi, anda sudah belajar tentang banyak hal.
Sehingga, anda memiliki begitu banyak kemampuan yang dapat diandalkan.
Oleh karena itu, sekalipun hal yang tidak diharapkan itu terjadi juga pada anda; anda masih bisa mengandalkan kemampuan diri.
Ketika orang lain pusing gara-gara kena PHK. Tidak tahu apa yang akan dilakukan setelah itu.
Bingung, frustrasi, dan sedih; Anda sebaliknya. Tenang saja, karena ada banyak hal yang bisa anda lakukan dari hasil mengembangkan diri selama ini.
Sebab, proses belajar yang tiada henti akan membantu anda menjalani hidup ini.
Meskipun roda kehidupan kita tengah berada dibagian paling bawah proses perputarannya. Toh nanti juga akan kembali beranjak naik….
Catatan Kaki:
Tantangan hidup tidak mungkin semakin berkurang.
Satu-satunya cara untuk menghadapinya adalah; selalu meningkatkan diri.
Tumbuh dan Berkembanglah selalu…
Ingat bebek?
Ada seorang bocah laki-laki sedang berkunjung ke kakek dan neneknya dipertanian mereka.
Dia mendapat sebuah katapel untuk bermain-main di hutan. Dia berlatih dan berlatih tetapi tidak pernah berhasil mengenai sasaran. Dengan kesal dia kembali pulang untuk makan malam. Pada waktu pulang, dilihatnya bebek peliharaan neneknya. Masih dalam keadaan kesal, dibidiknya bebek itu dikepala, matilah si bebek. Dia terperanjat dan sedih. Dengan panik, disembunyikannya bangkai bebek didalam timbunan kayu, dilihatnya ada kakak perempuannya mengawasi. Sally melihat semuanya, tetapi tidak berkata apapun.
Setelah makan, nenek berkata, “Sally, cuci piring.” Tetapi Sally berkata, “Nenek, Johnny berkata bahwa dia ingin membantu didapur, bukankah demikian Johnny?” Dan Sally berbisik, “Ingat bebek?” Jadi Johnny mencuci piring.
Kemudian kakek menawarkan bila anak-anak mau pergi memancing, dan nenek berkata, “Maafkan, tetapi aku perlu Sally untuk membantu menyiapkan makanan.” Tetapi Sally tersenyum dan berkata, “Tidak apa-apa, karena Johnny memberitahu kalau ingin membantu.” Kembali dia berbisik, “Ingat bebek?” Jadi Sally pergi memancing dan Johnny tinggal dirumah.
Setelah beberapa hari Johnny mengerjakan tugas-tugasnya dan juga tugas-tugas Sally, akhirnya dia tidak dapat bertahan lagi. Ditemuinya nenek dan mengaku telah membunuh bebek neneknya dan meminta ampun. Nenek berlutut dan merangkulnya, katanya, “Sayangku, aku tahu. Tidakkah kau lihat, aku berdiri dijendela dan melihat semuanya. Karena aku mencintaimu, aku memaafkan. Hanya aku heran berapa lama engkau akan membiarkan Sally memanfaatkanmu.”
Aku tidak tahu masa lalumu. Aku tidak tahu dosa apakah yang dilemparkan musuh kemukamu. Tetapi apapun itu, aku ingin memberitahu sesuatu. Tuhan juga selalu berdiri di’jendela’. Dan Dia melihat segalanya. Dan karena Dia mencintaimu, Dia akan mengampunimu bila engkau memintanya. Hanya Dia heran melihat berapa lama engkau membiarkan musuh memperbudakmu. Hal yang luar biasa adalah Dia tidak hanya mengampuni, tetapi Dia juga tidak mengingat-ingat lagi dosamu.”
Dia mendapat sebuah katapel untuk bermain-main di hutan. Dia berlatih dan berlatih tetapi tidak pernah berhasil mengenai sasaran. Dengan kesal dia kembali pulang untuk makan malam. Pada waktu pulang, dilihatnya bebek peliharaan neneknya. Masih dalam keadaan kesal, dibidiknya bebek itu dikepala, matilah si bebek. Dia terperanjat dan sedih. Dengan panik, disembunyikannya bangkai bebek didalam timbunan kayu, dilihatnya ada kakak perempuannya mengawasi. Sally melihat semuanya, tetapi tidak berkata apapun.
Setelah makan, nenek berkata, “Sally, cuci piring.” Tetapi Sally berkata, “Nenek, Johnny berkata bahwa dia ingin membantu didapur, bukankah demikian Johnny?” Dan Sally berbisik, “Ingat bebek?” Jadi Johnny mencuci piring.
Kemudian kakek menawarkan bila anak-anak mau pergi memancing, dan nenek berkata, “Maafkan, tetapi aku perlu Sally untuk membantu menyiapkan makanan.” Tetapi Sally tersenyum dan berkata, “Tidak apa-apa, karena Johnny memberitahu kalau ingin membantu.” Kembali dia berbisik, “Ingat bebek?” Jadi Sally pergi memancing dan Johnny tinggal dirumah.
Setelah beberapa hari Johnny mengerjakan tugas-tugasnya dan juga tugas-tugas Sally, akhirnya dia tidak dapat bertahan lagi. Ditemuinya nenek dan mengaku telah membunuh bebek neneknya dan meminta ampun. Nenek berlutut dan merangkulnya, katanya, “Sayangku, aku tahu. Tidakkah kau lihat, aku berdiri dijendela dan melihat semuanya. Karena aku mencintaimu, aku memaafkan. Hanya aku heran berapa lama engkau akan membiarkan Sally memanfaatkanmu.”
Aku tidak tahu masa lalumu. Aku tidak tahu dosa apakah yang dilemparkan musuh kemukamu. Tetapi apapun itu, aku ingin memberitahu sesuatu. Tuhan juga selalu berdiri di’jendela’. Dan Dia melihat segalanya. Dan karena Dia mencintaimu, Dia akan mengampunimu bila engkau memintanya. Hanya Dia heran melihat berapa lama engkau membiarkan musuh memperbudakmu. Hal yang luar biasa adalah Dia tidak hanya mengampuni, tetapi Dia juga tidak mengingat-ingat lagi dosamu.”
Obrolan Dengan Malaikat…
Aku bermimpi suatu hari aku pergi ke surga dan seorang malaikat menemaniku dan menunjukkan keadaan di surga. Kami berjalan memasuki suatu ruang kerja penuh dengan para malaikat. Malaikat yang mengantarku berhenti di depanruang kerja pertama dan berkata, ” Ini adalah Seksi Penerimaan. Di sini, semua permintaan yang ditujukan pada Tuhan diterima”.
Aku melihat-lihat sekeliling tempat ini dan aku dapati tempat ini begitu sibuk dengan begitu banyak malaikat yang memilah-milah seluruh permohonan yang tertulis pada kertas dari manusia di seluruh dunia.
Kemudian aku dan malaikat-ku berjalan lagi melalui koridor yang panjang lalu sampailah kami pada ruang kerja kedua. Malaikat-ku berkata, “Ini adalah Seksi Pengepakan dan Pengiriman. Di sini kemuliaan dan berkat yang diminta manusia diproses dan dikirim ke manusia-manusia yang masih hidup yang memintanya”. Aku perhatikan lagi betapa sibuknya ruang kerja itu. Ada banyak malaikat yang bekerja begitu keras karena ada begitu banyaknya permohonan yang dimintakan dan sedang dipaketkan untuk dikirim ke bumi.
Kami melanjutkan perjalanan lagi hingga sampai pada ujung terjauh koridor panjang tersebut dan berhenti pada sebuah pintu ruang kerja yang sangatkecil. Yang sangat mengejutkan aku, hanya ada satu malaikat yang duduk di sana, hampir tidak melakukan apapun. “Ini adalah Seksi Pernyataan Terima Kasih”, kata Malaikat-ku pelan. Dia tampak malu. “Bagaimana ini? Mengapa hampir tidak ada pekerjaan disini?”, tanyaku. “Menyedihkan”, Malaikat-ku menghela napas. ” Setelah manusia menerima berkat yang mereka minta, sangat sedikit manusia yang mengirimkan pernyataan terima kasih”. “Bagaimana manusia menyatakan terima kasih atas berkat Tuhan?”, tanyaku. “Sederhana sekali”, jawab Malaikat. “Cukup berkata, “Terima kasih, Tuhan”.
“Lalu, berkat apa saja yang perlu kita syukuri”, tanyaku. Malaikat-ku menjawab, “Jika engkau mempunyai makanan di lemari es, pakaian yang menutup tubuhmu, atap di atas kepalamu dan tempat untuk tidur, maka engkau lebih kaya dari 75% penduduk dunia ini.”
“Jika engkau memiliki uang di bank, di dompetmu, dan uang-uang receh, maka engkau berada diantara 8% kesejahteraan dunia.”
“Dan jika engkau mendapatkan pesan ini di komputer mu, engkau adalah bagian dari 1% di dunia yang memiliki kesempatan itu.”
Juga…. “Jika engkau bangun pagi ini dengan lebih banyak kesehatan daripada kesakitan … engkau lebih diberkati daripada begitu banyak orang di dunia ini yang tidak dapat bertahan hidup hingga hari ini.”
“Jika engkau tidak pernah mengalami ketakutan dalam perang, kesepian dalam penjara, kesengsaraan penyiksaan, atau kelaparan yang amat sangat, maka engkau lebih beruntung dari 700 juta orang di dunia”.
“Jika orangtuamu masih hidup dan masih berada dalam ikatan pernikahan … maka engkau termasuk orang yang sangat jarang.”
“Jika engkau masih bisa mencintai … maka engkau termasuk orang yang besar, karena cinta adalah berkat Tuhan yang tidak didapat dari manapun.”
“Jika engkau dapat menegakkan kepala dan tersenyum, maka engkau bukanlah seperti orang kebanyakan, engkau unik dibandingkan semua mereka yang berada dalam keraguan dan keputusasaan.”
“Jika engkau dapat membaca pesan ini, maka engkau menerima berkat ganda, yaitu bahwa seseorang yang mengirimkan ini padamu berpikir bahwa engkau orang yang sangat istimewa baginya, dan bahwa engkau lebih diberkati dari pada lebih dari 2 juta orang di dunia yang bahkan tidak dapat membaca sama sekali”.
Nikmatilah hari-harimu, hitunglah berkat yang telah Tuhan anugerahkan kepadamu. Dan jika engkau berkenan, kirimkan pesan ini ke semua teman-temanmu untuk mengingatkan mereka betapa diberkatinya kita semua.
“Dan ingatlah tatkala Tuhanmu menyatakan bahwa, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambahkan lebih banyak nikmat kepadamu .”
Ditujukan pada : Departemen Pernyataan Terima Kasih.
“Terima kasih, Tuhan! Terima kasih, Tuhan, atas anug’rah-Mu berupa kemampuan untuk menerjemahkan dan membagi pesan ini dan memberikan aku begitu banyak teman-teman yang istimewa untuk saling berbagi.”
Aku melihat-lihat sekeliling tempat ini dan aku dapati tempat ini begitu sibuk dengan begitu banyak malaikat yang memilah-milah seluruh permohonan yang tertulis pada kertas dari manusia di seluruh dunia.
Kemudian aku dan malaikat-ku berjalan lagi melalui koridor yang panjang lalu sampailah kami pada ruang kerja kedua. Malaikat-ku berkata, “Ini adalah Seksi Pengepakan dan Pengiriman. Di sini kemuliaan dan berkat yang diminta manusia diproses dan dikirim ke manusia-manusia yang masih hidup yang memintanya”. Aku perhatikan lagi betapa sibuknya ruang kerja itu. Ada banyak malaikat yang bekerja begitu keras karena ada begitu banyaknya permohonan yang dimintakan dan sedang dipaketkan untuk dikirim ke bumi.
Kami melanjutkan perjalanan lagi hingga sampai pada ujung terjauh koridor panjang tersebut dan berhenti pada sebuah pintu ruang kerja yang sangatkecil. Yang sangat mengejutkan aku, hanya ada satu malaikat yang duduk di sana, hampir tidak melakukan apapun. “Ini adalah Seksi Pernyataan Terima Kasih”, kata Malaikat-ku pelan. Dia tampak malu. “Bagaimana ini? Mengapa hampir tidak ada pekerjaan disini?”, tanyaku. “Menyedihkan”, Malaikat-ku menghela napas. ” Setelah manusia menerima berkat yang mereka minta, sangat sedikit manusia yang mengirimkan pernyataan terima kasih”. “Bagaimana manusia menyatakan terima kasih atas berkat Tuhan?”, tanyaku. “Sederhana sekali”, jawab Malaikat. “Cukup berkata, “Terima kasih, Tuhan”.
“Lalu, berkat apa saja yang perlu kita syukuri”, tanyaku. Malaikat-ku menjawab, “Jika engkau mempunyai makanan di lemari es, pakaian yang menutup tubuhmu, atap di atas kepalamu dan tempat untuk tidur, maka engkau lebih kaya dari 75% penduduk dunia ini.”
“Jika engkau memiliki uang di bank, di dompetmu, dan uang-uang receh, maka engkau berada diantara 8% kesejahteraan dunia.”
“Dan jika engkau mendapatkan pesan ini di komputer mu, engkau adalah bagian dari 1% di dunia yang memiliki kesempatan itu.”
Juga…. “Jika engkau bangun pagi ini dengan lebih banyak kesehatan daripada kesakitan … engkau lebih diberkati daripada begitu banyak orang di dunia ini yang tidak dapat bertahan hidup hingga hari ini.”
“Jika engkau tidak pernah mengalami ketakutan dalam perang, kesepian dalam penjara, kesengsaraan penyiksaan, atau kelaparan yang amat sangat, maka engkau lebih beruntung dari 700 juta orang di dunia”.
“Jika orangtuamu masih hidup dan masih berada dalam ikatan pernikahan … maka engkau termasuk orang yang sangat jarang.”
“Jika engkau masih bisa mencintai … maka engkau termasuk orang yang besar, karena cinta adalah berkat Tuhan yang tidak didapat dari manapun.”
“Jika engkau dapat menegakkan kepala dan tersenyum, maka engkau bukanlah seperti orang kebanyakan, engkau unik dibandingkan semua mereka yang berada dalam keraguan dan keputusasaan.”
“Jika engkau dapat membaca pesan ini, maka engkau menerima berkat ganda, yaitu bahwa seseorang yang mengirimkan ini padamu berpikir bahwa engkau orang yang sangat istimewa baginya, dan bahwa engkau lebih diberkati dari pada lebih dari 2 juta orang di dunia yang bahkan tidak dapat membaca sama sekali”.
Nikmatilah hari-harimu, hitunglah berkat yang telah Tuhan anugerahkan kepadamu. Dan jika engkau berkenan, kirimkan pesan ini ke semua teman-temanmu untuk mengingatkan mereka betapa diberkatinya kita semua.
“Dan ingatlah tatkala Tuhanmu menyatakan bahwa, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambahkan lebih banyak nikmat kepadamu .”
Ditujukan pada : Departemen Pernyataan Terima Kasih.
“Terima kasih, Tuhan! Terima kasih, Tuhan, atas anug’rah-Mu berupa kemampuan untuk menerjemahkan dan membagi pesan ini dan memberikan aku begitu banyak teman-teman yang istimewa untuk saling berbagi.”
Belajar Dari Keledai
Suatu hari, ada seorang ayah, seorang anak dan keledai peliharaannya yang sedang dalam perjalanan. Mereka ingin menghadiri pesta yang akan diadakan di desa tetangga. Terik matahari yang menyengat ditambah perjalanan yang jauh membuat mereka kelelahan. Keringat bercucuran dari tubuhnya.
Sang ayah tidak tega melihat anaknya yang kelelahan. Lalu ia menyuruh anaknya untuk naik ke punggung keledai, dan si ayah berjalan kaki. Di tengah perjalanan bertemulah mereka dengan si A. Melihat mereka, si A berkata kepada ayah tersebut: “Sobat, kamu tidak boleh begitu. Dimana-mana yang muda harus mengalah kepada yang tua. Harusnya kamulah yang menunggangi keledai dan anakmu yang berjalan kaki.”
Mendengar hal itu si ayah menyuruh anaknya turun dari punggung keledai dan ayahnya yang menunggangi keledai. Dalam perjalanannya mereka berjumpa dengan si B. Melihat mereka, si B pun berkata: “Hei, ayah macam apa kamu. Masak kamu enak-enak duduk di atas keledai sedangkan anakmu yang masih kecil kamu suruh jalan kaki. Mana cuacanya panas begini.”
Si ayah pun tak enak hati mendengarnya. Lalu ia turun dari punggung keledai dan berjalan kaki bersama-sama dengan anaknya. Biar adil pikirnya. Dari kejauhan tampak si C yang sedang berjalan mendekati mereka. Setelah berbasa-basi sejenak, si C pun mengutarakan hal yang dari tadi ingin ia tanyakan.
“Kata kamu, kalian telah menempuh perjalanan selama 3 hari. Tentu melelahkan. Tapi aku lihat, kenapa kamu tidak menaiki keledai itu, malah berjalan kaki. Mubazir donk keledaimu. Sementara orang lain menempuh perjalanan jauh dengan berjalan kaki sampai kelelahan, ingin naik keledai tapi tidak punya uang untuk membeli keledai, sedangkan kamu yang punya keledai malah tidak dimanfaatkan”
Iya juga ya, pikir si ayah. Mungkin ini solusi terbaik, katanya dalam hati. Akhirnya ia naik ke atas keledai dan menyuruh anaknya untuk naik juga ke atas keledai. Datanglah si D. Melihat kejadian di depan matanya, D pun langsung protes. “Hei, kalian tidak berperikemanusiaan. Tega-teganya kalian menyiksa keledai kurus ini. Mengangkat satu orang saja dia sudah kelelahan. Apalagi mengangkat kalian berdua di tengah cuaca sepanas ini. Bisa-bisa dia mati.”
Si ayah pun jadi kebingungan. Begini salah, begitu salah. Akhirnya, saking bingungnya, si ayah pun mengambil keputusan yang ekstrem. Ya sudah, biar aku yang menggendong keledai ini. Si keledai pun senyum-senyum melihat ulah majikannya ini.
Akhirnya sampailah mereka di tempat tujuan. Namun membawa keledai di punggung memperlambat perjalanan mereka. Sesampainya mereka, ternyata pesta nya telah berakhir. Bahkan pestanya telah berakhir 2 hari yang lalu .
Dalam hidup ini sering kali kita terlalu peduli pada pendapat orang lain. Banyak hal yang kita lakukan, sebenarnya bukan untuk mendapat manfaat bagi kita, tapi hanya untuk mendapat pengakuan dari orang lain. Sering kali pula ketika kita membuat keputusan – yang sebenarnya sudah tepat – tapi kita mengubah keputusan tersebut hanya karena komentar-komentar negatif orang lain, yang akhirnya malah menjerumuskan kita.
Sadarilah, tidak ada hal apapun di dunia ini yang akan memuaskan semua orang. Orang baik akan di kritik, orang jahat akan di kritik, orang yang tidak jahat dan tidak baik pun tak akan luput dari kritikan.
Anda yang menentukan nasib anda, bukan orang lain. Kalau anda jatuh, toh para pengkritik juga tidak peduli. Anda yang jatuh, anda sendirilah yang merasakan sakitnya. Mereka hanya akan tertawa saat anda jatuh.
Jangan sampai anda terlambat menyabet peluang yang sudah di depan mata hanya karena omongan-omongan orang lain. Peduli lah hanya kepada saran-saran yang membangun. Lakukan lah apa yang terbaik menurut anda untuk mewujudkan mimpi anda, selama tidak merugikan orang lain
Sang ayah tidak tega melihat anaknya yang kelelahan. Lalu ia menyuruh anaknya untuk naik ke punggung keledai, dan si ayah berjalan kaki. Di tengah perjalanan bertemulah mereka dengan si A. Melihat mereka, si A berkata kepada ayah tersebut: “Sobat, kamu tidak boleh begitu. Dimana-mana yang muda harus mengalah kepada yang tua. Harusnya kamulah yang menunggangi keledai dan anakmu yang berjalan kaki.”
Mendengar hal itu si ayah menyuruh anaknya turun dari punggung keledai dan ayahnya yang menunggangi keledai. Dalam perjalanannya mereka berjumpa dengan si B. Melihat mereka, si B pun berkata: “Hei, ayah macam apa kamu. Masak kamu enak-enak duduk di atas keledai sedangkan anakmu yang masih kecil kamu suruh jalan kaki. Mana cuacanya panas begini.”
Si ayah pun tak enak hati mendengarnya. Lalu ia turun dari punggung keledai dan berjalan kaki bersama-sama dengan anaknya. Biar adil pikirnya. Dari kejauhan tampak si C yang sedang berjalan mendekati mereka. Setelah berbasa-basi sejenak, si C pun mengutarakan hal yang dari tadi ingin ia tanyakan.
“Kata kamu, kalian telah menempuh perjalanan selama 3 hari. Tentu melelahkan. Tapi aku lihat, kenapa kamu tidak menaiki keledai itu, malah berjalan kaki. Mubazir donk keledaimu. Sementara orang lain menempuh perjalanan jauh dengan berjalan kaki sampai kelelahan, ingin naik keledai tapi tidak punya uang untuk membeli keledai, sedangkan kamu yang punya keledai malah tidak dimanfaatkan”
Iya juga ya, pikir si ayah. Mungkin ini solusi terbaik, katanya dalam hati. Akhirnya ia naik ke atas keledai dan menyuruh anaknya untuk naik juga ke atas keledai. Datanglah si D. Melihat kejadian di depan matanya, D pun langsung protes. “Hei, kalian tidak berperikemanusiaan. Tega-teganya kalian menyiksa keledai kurus ini. Mengangkat satu orang saja dia sudah kelelahan. Apalagi mengangkat kalian berdua di tengah cuaca sepanas ini. Bisa-bisa dia mati.”
Si ayah pun jadi kebingungan. Begini salah, begitu salah. Akhirnya, saking bingungnya, si ayah pun mengambil keputusan yang ekstrem. Ya sudah, biar aku yang menggendong keledai ini. Si keledai pun senyum-senyum melihat ulah majikannya ini.
Akhirnya sampailah mereka di tempat tujuan. Namun membawa keledai di punggung memperlambat perjalanan mereka. Sesampainya mereka, ternyata pesta nya telah berakhir. Bahkan pestanya telah berakhir 2 hari yang lalu .
Dalam hidup ini sering kali kita terlalu peduli pada pendapat orang lain. Banyak hal yang kita lakukan, sebenarnya bukan untuk mendapat manfaat bagi kita, tapi hanya untuk mendapat pengakuan dari orang lain. Sering kali pula ketika kita membuat keputusan – yang sebenarnya sudah tepat – tapi kita mengubah keputusan tersebut hanya karena komentar-komentar negatif orang lain, yang akhirnya malah menjerumuskan kita.
Sadarilah, tidak ada hal apapun di dunia ini yang akan memuaskan semua orang. Orang baik akan di kritik, orang jahat akan di kritik, orang yang tidak jahat dan tidak baik pun tak akan luput dari kritikan.
Anda yang menentukan nasib anda, bukan orang lain. Kalau anda jatuh, toh para pengkritik juga tidak peduli. Anda yang jatuh, anda sendirilah yang merasakan sakitnya. Mereka hanya akan tertawa saat anda jatuh.
Jangan sampai anda terlambat menyabet peluang yang sudah di depan mata hanya karena omongan-omongan orang lain. Peduli lah hanya kepada saran-saran yang membangun. Lakukan lah apa yang terbaik menurut anda untuk mewujudkan mimpi anda, selama tidak merugikan orang lain
Pemenang vs Pecundang
Visi …
Pemenang yakin dirinya pasti sukses,
Pecundang bahkan tidak berani bermimpi dirinya bisa sukses.
Ketika menghadapi tantangan…
Pemenang menghadapinya dengan antusias,
Pecundang mundur sebelum bertanding.
Saat menghadapi kesulitan…
Pemenang: “Ini adalah proses menuju sukses..Maju terus!”
Pecundang:“It’s not work. Sia-sia saja usahaku. Capek ah. Nyerah aja “
Bila jatuh…
Pemenang berdiri lagi
Pecundang:”Ngapain bangun lagi, ntar jatuh lagi. Enak duduk aja.”
Menyerah itu..
Pemenang: “Tidak ada dalam kamus hidupku. Never Give Up!”
Pecundang: “Biasa aja.. Aku sering koQ”
Di kala kegagalan menghampiri..
Pemenang bangkit lagi, mencari penyebab kegagalannya dan memperbaiki.
Pecundang tenggelam dalam kegagalannya, stress dan akhirnya masuk RSJ
Ketika melihat orang lain sukses…
Pemenang: “Hebat! Aku mau belajar solusi sukses dari dia”
Pecundang:”Ah, baru segitu! Paling-paling juga korupsi. Eh? Pasti babi ngepet”
Cara memandang diri sendiri…
Pemenang:”Aku manusia biasa yang punya kelemahan dan kelebihan. Aku akan berusaha memperbaiki kelemahanku dan meningkatkan kelebihanku”
Pecundang:”Aku kurang ganteng, kurang kaya, kurang pintar, kurang….”
Dunia itu…
Pemenang:”Bisa menjadi surga atau neraka, tergantung apa yang kita lakukan”
Pecundang:”Tidak adil, gelap,…bla bla bla”
Dalam memandang persoalan…
Pemenang lebih fokus ke sisi positif nya tanpa mengabaikan sisi negatif.
Pecundang memandang segalanya serba negatif.
Sukses itu milik…
Pemenang:”Semua orang. Hanya tergantung orangnya berani menggapai sukses atau
tidak”
Pecundang:”Milik anak konglomerat, keturunan bangsawan, koruptor,…Kalo saya
mana bisa. Kan saya kurang cerdas, bapak saya bukan
konglomerat,bla..bla..bla..”
Saat di kritik…
Pemenang menutup telinga terhadap kritik yang melecehkan dan menerima kritik yang membangun untuk mengevaluasi diri
Pecundang memelototi orang yang mengkritiknya sambil mengacungkan tinju.
Untuk mencapai sukses…
Pemenang mengandalkan usaha nya.
Pecundang menunggu keberuntungan.
Belajar itu…
Pemenang:”Wajib dilakukan sepanjang hidup. Tidak boleh berhenti belajar.”
Pecundang:”Gak penting banget. Emangnya anak sekolahan. Enakan juga tidur”
Ketika waktu terus berlalu…
Pemenang menemukan solusi sukses nya dan terus mengalami kemajuan dari waktu ke waktu
Pecundang tidak bertambah pengetahuan dan pencapaiannya, malah merasa senior dan sibuk membanggakan kalau dia sudah banyak makan asam garam.
Dan pada akhirnya…
Pemenang berdiri dengan bangganya di puncak kesuksesan.
Pecundang menonton dari bawah, dengan penuh iri hati lalu mengumpat, menjelek-jelekan si pemenang, berprasangka buruk, mengeluh, dan sibuk membuat pembenaran untuk diri sendiri.
Pemenang yakin dirinya pasti sukses,
Pecundang bahkan tidak berani bermimpi dirinya bisa sukses.
Ketika menghadapi tantangan…
Pemenang menghadapinya dengan antusias,
Pecundang mundur sebelum bertanding.
Saat menghadapi kesulitan…
Pemenang: “Ini adalah proses menuju sukses..Maju terus!”
Pecundang:“It’s not work. Sia-sia saja usahaku. Capek ah. Nyerah aja “
Bila jatuh…
Pemenang berdiri lagi
Pecundang:”Ngapain bangun lagi, ntar jatuh lagi. Enak duduk aja.”
Menyerah itu..
Pemenang: “Tidak ada dalam kamus hidupku. Never Give Up!”
Pecundang: “Biasa aja.. Aku sering koQ”
Di kala kegagalan menghampiri..
Pemenang bangkit lagi, mencari penyebab kegagalannya dan memperbaiki.
Pecundang tenggelam dalam kegagalannya, stress dan akhirnya masuk RSJ
Ketika melihat orang lain sukses…
Pemenang: “Hebat! Aku mau belajar solusi sukses dari dia”
Pecundang:”Ah, baru segitu! Paling-paling juga korupsi. Eh? Pasti babi ngepet”
Cara memandang diri sendiri…
Pemenang:”Aku manusia biasa yang punya kelemahan dan kelebihan. Aku akan berusaha memperbaiki kelemahanku dan meningkatkan kelebihanku”
Pecundang:”Aku kurang ganteng, kurang kaya, kurang pintar, kurang….”
Dunia itu…
Pemenang:”Bisa menjadi surga atau neraka, tergantung apa yang kita lakukan”
Pecundang:”Tidak adil, gelap,…bla bla bla”
Dalam memandang persoalan…
Pemenang lebih fokus ke sisi positif nya tanpa mengabaikan sisi negatif.
Pecundang memandang segalanya serba negatif.
Sukses itu milik…
Pemenang:”Semua orang. Hanya tergantung orangnya berani menggapai sukses atau
tidak”
Pecundang:”Milik anak konglomerat, keturunan bangsawan, koruptor,…Kalo saya
mana bisa. Kan saya kurang cerdas, bapak saya bukan
konglomerat,bla..bla..bla..”
Saat di kritik…
Pemenang menutup telinga terhadap kritik yang melecehkan dan menerima kritik yang membangun untuk mengevaluasi diri
Pecundang memelototi orang yang mengkritiknya sambil mengacungkan tinju.
Untuk mencapai sukses…
Pemenang mengandalkan usaha nya.
Pecundang menunggu keberuntungan.
Belajar itu…
Pemenang:”Wajib dilakukan sepanjang hidup. Tidak boleh berhenti belajar.”
Pecundang:”Gak penting banget. Emangnya anak sekolahan. Enakan juga tidur”
Ketika waktu terus berlalu…
Pemenang menemukan solusi sukses nya dan terus mengalami kemajuan dari waktu ke waktu
Pecundang tidak bertambah pengetahuan dan pencapaiannya, malah merasa senior dan sibuk membanggakan kalau dia sudah banyak makan asam garam.
Dan pada akhirnya…
Pemenang berdiri dengan bangganya di puncak kesuksesan.
Pecundang menonton dari bawah, dengan penuh iri hati lalu mengumpat, menjelek-jelekan si pemenang, berprasangka buruk, mengeluh, dan sibuk membuat pembenaran untuk diri sendiri.
Ganti Kacamata Anda Sekarang!
Seperti yang kita ketahui, kacamata adalah alat bantu melihat yang dipasang tepat di depan mata kita. Apa yang kita lihat, tergantung dari lensa kacamata tersebut. Lensa yang tepat untuk penderita gangguan mata akan membantunya melihat lebih jelas.
Bagaimana bila kacamata tersebut saya ganti dengan kacamata hitam? Tiba-tiba segala pemandangan menjadi berwarna gelap. Padahal pemandangannya tetap sama.
Juga bukan salah mata anda. Tidak ada yang berubah, yang ada hanya “tampak” berubah. Semuanya karena kacamata anda. Ketika anda mengganti kacamata dengan yang berwarna biru atau merah, pemandangan di depan anda akan berubah pula.
Mungkin anda sudah bisa meraba apa maksud yang ingin saya sampaikan? Ya… Kacamata yang saya maksud hanya analogi dari pandangan hidup. Bagaimana cara anda memandang dunia ini. Suatu pemandangan yang sama bisa terlihat beda oleh dua orang tergantung kacamata apa yang mereka gunakan.
Bayangkan pemandangan sebuah taman. Cuacanya sejuk. Terdengar suara kicau burung. Di beberapa sudut terlihat satu dua sampah tergeletak. Di sudut lain, rumputnya sudah mulai panjang dan tampak beberapa ilalang. Hari ini taman tersebut cukup ramai. Beberapa orang berlalu lalang. Diantaranya, ada sepasang kekasih yang lewat. Dan ada seorang pria lewat sambil menatap ke arah anda.
Diantara pengunjung, ada tiga orang yang sedang duduk di bangku taman. Si A yang mengenakan kacamata hitam (berpandangan negatif) , si B yang mengenakan kacamata merah (sedang marah), dan si C yang mengenakan kacamata bening (berpikiran positif). Pemandangan itu terlihat berbeda-beda oleh mereka bertiga.
Si A melihat: Taman ini kotor sekali. Sampah berserakan dimana-mana. Rumputnya juga tidak terurus. Apa sih kerja pengelola taman ini. Sungguh tidak profesional. Suara burung ini berisik sekali. Sepasang kekasih itu sedang pamer kemesraan ya? Jangan-jangan pasangan selingkuh. Dan orang itu, ngapain liatin saya. Jangan-jangan bermaksud jahat.
Si B melihat: Taman ini kotor sekali. Sungguh membuatku tambah emosi. Burung ini lagi…berisik banget…seandainya ada senapan. Dan pasangan ini, mesra-mesaraan. Mau ngejek aku ya. Belum tau kalo aku baru putus. Heh..ini lagi..Ngapain liat-liat!! Mau nyari ribut ?! (sambil mengepalkan tinju)
Si C melihat: Wah, taman ini indah juga ya. Sejuk lagi. Suara burung itu membuat suasana nya jadi lebih enak. Ternyata hal kecil seperti ini juga bisa membuatku bahagia. Sepasang kekasih itu mesra banget. Aku jadi teringat pacarku. Orang itu, apa dia kenal aku? Mungkin hanya kebetulan menatap ke sini.
Ternyata pemandangan yang sama bisa terlihat berbeda oleh masing-masing orang. Bagi si A, semua terlihat gelap. Bagi si B, semua pemandangan itu terlihat merah, begitu panas, sepanas hatinya. Dan bagi si C ternyata pemandangan kecil itu bisa membuatnya lebih rileks dan bahagia. Bila anda sedang duduk di sana apa yang anda lihat?
Sering kali kita menatap dunia ini lewat kacamata hitam. Semuanya tampak begitu gelap, begitu buruk. Kita pun lebih mudah melontarkan komentar negatif daripada komentar positif. Pertanyaan nya apakah anda bahagia saat mengenakan kacamata hitam itu?
Kendali ada di tangan anda. Anda bisa mengganti kacamata anda, kapanpun anda mau. Cobalah memandang dunia dengan kacamata positif. Nikmati hidup anda, pekerjaan anda, keluarga anda, bahkan secangkir teh yang anda minum. Nikmati hal-hal kecil di sekitar anda, dan anda akan merasa lebih bahagia. Orang yang bahagia akan hidup lebih sehat. Dan anda akan menemukan solusi sukses anda.
Bagaimana bila kacamata tersebut saya ganti dengan kacamata hitam? Tiba-tiba segala pemandangan menjadi berwarna gelap. Padahal pemandangannya tetap sama.
Juga bukan salah mata anda. Tidak ada yang berubah, yang ada hanya “tampak” berubah. Semuanya karena kacamata anda. Ketika anda mengganti kacamata dengan yang berwarna biru atau merah, pemandangan di depan anda akan berubah pula.
Mungkin anda sudah bisa meraba apa maksud yang ingin saya sampaikan? Ya… Kacamata yang saya maksud hanya analogi dari pandangan hidup. Bagaimana cara anda memandang dunia ini. Suatu pemandangan yang sama bisa terlihat beda oleh dua orang tergantung kacamata apa yang mereka gunakan.
Bayangkan pemandangan sebuah taman. Cuacanya sejuk. Terdengar suara kicau burung. Di beberapa sudut terlihat satu dua sampah tergeletak. Di sudut lain, rumputnya sudah mulai panjang dan tampak beberapa ilalang. Hari ini taman tersebut cukup ramai. Beberapa orang berlalu lalang. Diantaranya, ada sepasang kekasih yang lewat. Dan ada seorang pria lewat sambil menatap ke arah anda.
Diantara pengunjung, ada tiga orang yang sedang duduk di bangku taman. Si A yang mengenakan kacamata hitam (berpandangan negatif) , si B yang mengenakan kacamata merah (sedang marah), dan si C yang mengenakan kacamata bening (berpikiran positif). Pemandangan itu terlihat berbeda-beda oleh mereka bertiga.
Si A melihat: Taman ini kotor sekali. Sampah berserakan dimana-mana. Rumputnya juga tidak terurus. Apa sih kerja pengelola taman ini. Sungguh tidak profesional. Suara burung ini berisik sekali. Sepasang kekasih itu sedang pamer kemesraan ya? Jangan-jangan pasangan selingkuh. Dan orang itu, ngapain liatin saya. Jangan-jangan bermaksud jahat.
Si B melihat: Taman ini kotor sekali. Sungguh membuatku tambah emosi. Burung ini lagi…berisik banget…seandainya ada senapan. Dan pasangan ini, mesra-mesaraan. Mau ngejek aku ya. Belum tau kalo aku baru putus. Heh..ini lagi..Ngapain liat-liat!! Mau nyari ribut ?! (sambil mengepalkan tinju)
Si C melihat: Wah, taman ini indah juga ya. Sejuk lagi. Suara burung itu membuat suasana nya jadi lebih enak. Ternyata hal kecil seperti ini juga bisa membuatku bahagia. Sepasang kekasih itu mesra banget. Aku jadi teringat pacarku. Orang itu, apa dia kenal aku? Mungkin hanya kebetulan menatap ke sini.
Ternyata pemandangan yang sama bisa terlihat berbeda oleh masing-masing orang. Bagi si A, semua terlihat gelap. Bagi si B, semua pemandangan itu terlihat merah, begitu panas, sepanas hatinya. Dan bagi si C ternyata pemandangan kecil itu bisa membuatnya lebih rileks dan bahagia. Bila anda sedang duduk di sana apa yang anda lihat?
Sering kali kita menatap dunia ini lewat kacamata hitam. Semuanya tampak begitu gelap, begitu buruk. Kita pun lebih mudah melontarkan komentar negatif daripada komentar positif. Pertanyaan nya apakah anda bahagia saat mengenakan kacamata hitam itu?
Kendali ada di tangan anda. Anda bisa mengganti kacamata anda, kapanpun anda mau. Cobalah memandang dunia dengan kacamata positif. Nikmati hidup anda, pekerjaan anda, keluarga anda, bahkan secangkir teh yang anda minum. Nikmati hal-hal kecil di sekitar anda, dan anda akan merasa lebih bahagia. Orang yang bahagia akan hidup lebih sehat. Dan anda akan menemukan solusi sukses anda.
Minggu, 26 Desember 2010
Tentang Tuhan.
Coba bayangkan, sahabatku tercinta.....ada sebuah hati yg meliputi seluruh hati kalian, sebuah cinta yg merangkum seluruh cinta kalian, sebuah jiwa yg melingkupi segenap jiwa kalia, sebuah suara yg mendukung semua suara kalian dan sebuah keheningan yg lbh dalam dari semua keheningan.......ia abadi.
Maka carilah kini dan rasakan dlm liputan diri, mk engkau akan dpt memahami keindahan yg lbh cantik dari sgl keindahan yg ada. Sebuah kidung yg lbh agung drnyanyian samodra dan rimba belantara, keagungan yg bertahta diatas singgasana .....galaksi Oreon hanya bagaikan penyangga kakinya, dan galaksi Pleiades pun tak melebihi dr kerdipan permatanya.
Engkau yg selama ini hanya mencari makan dan tempat perlindungan, pakaian dan tongkat perjalanan.........kini carilah Ia yg esa. Yang bukan benda sasaran bidikan panahmu, bukan pula gua batu tempat perlindunganmu.
Dan jika kata2ku ini hanyalah karang yg menghalangi jalanmu pencarianmu, maka carilah sendiri yg terbuka dari hatimu. Agar pernyataan ini mengangkat diri pd kasih dan hikmah Maha Tinggi, yang disebut Tuhan.
Dalam khayalan kalian merasa terbang dibalik awan dan menganggapnya telah amat tinggi. Kalian menyeberangi lautan luas, mengira menempuh jarak yg tanpa batas. Tetapi aku katakan pd kalian.........bahwa hanya dg 'menanam benih kedalam tanah', mk kalian akan mencapai ketinggian yg lbh melangit. Dan apabila kalian menyambut pagiyg indah dg tutur sapa dg tetanggamu, berarti kalian telah mengarungi samudra yg lbh luas.
Terlalu sering kalian menyanyikan nama Tuhan.....Yang Maha Agung...., sementara kalian tdk pernah mendengar lagu yg sebenarnya. Lebih baik jika kau mendengat kicau burung menyambut cahaya pagi, dan gemerisik daun gugur yg tertiup angin yg sdg menari. Dan ingatlah.....!! simponi hanya akan terjadi ketika daun2 jatuh kepelukan bumi.
Sekali lag aku minta, jangan kalian sembarangan berbicara ttg Tuhan. Lebih baik jika kalian membangun rasa saling pengertian diantara sesama......tetangga dg tetangga, kekasih dg kekasih, sahabat dg sahabat.
Sebab....siapa yg akan menyuapi anak burung dlm sarang, bila sang induk senantiasa terbang?, dan bunga Anemon mana yg akan terbuahi? apabila tdk diisap lebah dari bunga Anemon yg lain. Baru ktk terperangkangkap dlm kesulitan.....kalian menengadah mencari Tuhan. Singkapkanlah dulu tabir pribadimu dan jangan tinggal diam terpaku......mulailah menyiangi belukar perasaan pikiranmu.
Para sahabatku.............. kalian akan lebih bijak jika kita tdk berbicara mengenai Tuhan, yg tdk kita mengerti dan akan lebih baik kita persoalkan hal2 yg dpt kita pahami. Namun kalian jg hrs tahu.......bahwa kitalah nafas dan aroma wangi Tuhan. Dan Dia jg bersemayam dlm dedaunan, bunga2an dan buah2an.
Kahlih Gibran
"Sang Nabi"
Maka carilah kini dan rasakan dlm liputan diri, mk engkau akan dpt memahami keindahan yg lbh cantik dari sgl keindahan yg ada. Sebuah kidung yg lbh agung drnyanyian samodra dan rimba belantara, keagungan yg bertahta diatas singgasana .....galaksi Oreon hanya bagaikan penyangga kakinya, dan galaksi Pleiades pun tak melebihi dr kerdipan permatanya.
Engkau yg selama ini hanya mencari makan dan tempat perlindungan, pakaian dan tongkat perjalanan.........kini carilah Ia yg esa. Yang bukan benda sasaran bidikan panahmu, bukan pula gua batu tempat perlindunganmu.
Dan jika kata2ku ini hanyalah karang yg menghalangi jalanmu pencarianmu, maka carilah sendiri yg terbuka dari hatimu. Agar pernyataan ini mengangkat diri pd kasih dan hikmah Maha Tinggi, yang disebut Tuhan.
Dalam khayalan kalian merasa terbang dibalik awan dan menganggapnya telah amat tinggi. Kalian menyeberangi lautan luas, mengira menempuh jarak yg tanpa batas. Tetapi aku katakan pd kalian.........bahwa hanya dg 'menanam benih kedalam tanah', mk kalian akan mencapai ketinggian yg lbh melangit. Dan apabila kalian menyambut pagiyg indah dg tutur sapa dg tetanggamu, berarti kalian telah mengarungi samudra yg lbh luas.
Terlalu sering kalian menyanyikan nama Tuhan.....Yang Maha Agung...., sementara kalian tdk pernah mendengar lagu yg sebenarnya. Lebih baik jika kau mendengat kicau burung menyambut cahaya pagi, dan gemerisik daun gugur yg tertiup angin yg sdg menari. Dan ingatlah.....!! simponi hanya akan terjadi ketika daun2 jatuh kepelukan bumi.
Sekali lag aku minta, jangan kalian sembarangan berbicara ttg Tuhan. Lebih baik jika kalian membangun rasa saling pengertian diantara sesama......tetangga dg tetangga, kekasih dg kekasih, sahabat dg sahabat.
Sebab....siapa yg akan menyuapi anak burung dlm sarang, bila sang induk senantiasa terbang?, dan bunga Anemon mana yg akan terbuahi? apabila tdk diisap lebah dari bunga Anemon yg lain. Baru ktk terperangkangkap dlm kesulitan.....kalian menengadah mencari Tuhan. Singkapkanlah dulu tabir pribadimu dan jangan tinggal diam terpaku......mulailah menyiangi belukar perasaan pikiranmu.
Para sahabatku.............. kalian akan lebih bijak jika kita tdk berbicara mengenai Tuhan, yg tdk kita mengerti dan akan lebih baik kita persoalkan hal2 yg dpt kita pahami. Namun kalian jg hrs tahu.......bahwa kitalah nafas dan aroma wangi Tuhan. Dan Dia jg bersemayam dlm dedaunan, bunga2an dan buah2an.
Kahlih Gibran
"Sang Nabi"
Columbus bergerak tegak lurus
Sebelum Columbus, semua petualang berlayar dekat dg pantai, dalam jarak pandang dari daratan. Itu adalah cara berlayar yg diterima untuk berlayar. Columbus berani mjd berbeda, ia menolak melakukan spt yg dilakukan oleh org lain. Ia mengambil resiko, ia berlayar tegak lurus terhadap pantai, langsung menuju kesamodra luas.
Dan krn ia melepaskan yg telah diketahui dan memiliki keberanian untuk berlayar ketempat yg tdk diketahui, ia mjd salah satu pahlawan kita yg terbesar.
Lihatlah kawan, pahlawan selalu bertindak revolusioner. Seluruh kemajuan umat manusia dibuat oleh org yg menolak untuk berfikir, merasa dan berperilaku sama spt org lain.
Pernyataan Jhon F Kennedy bahwa ia akan bekerja keras utk membuat org mencapai bulan adalah pernyataan yg revolusioner, yaitu seseorang yg menolak utk ikut arus dan berperan kecil2an.
Impian Mahatma Gandhi untuk mebebaskan suatu bangsa adalah fantasi dr seorang yg revolusioner yg menolak membiarkan rasa takut memerintahnya.
Tujuan bunda Terresa utk mengeluarkan Calcuta dr garis kemiskinan adalah pandangan revolusioner yg menolak utk mendengarkan para pembantah yg memberitahunya bahwa hal itu tdk dpt dan tdk seharusnya dilakukan.
George Bernard Shaw mengungkapkannya dg sangat baik; "Orang yg berakal sehat akan menyesuaikan diri dg dunia, orang yg tdk berakal sehat berusaha menyesuaikan dunia dg dirinya. Oleh krn itu, semua kemajuan tergantung pd orang yg tidak berakal sehat."
Diambil dr buku DISCOVER YOUR DESTINY (Robin Sharma)
Dan krn ia melepaskan yg telah diketahui dan memiliki keberanian untuk berlayar ketempat yg tdk diketahui, ia mjd salah satu pahlawan kita yg terbesar.
Lihatlah kawan, pahlawan selalu bertindak revolusioner. Seluruh kemajuan umat manusia dibuat oleh org yg menolak untuk berfikir, merasa dan berperilaku sama spt org lain.
Pernyataan Jhon F Kennedy bahwa ia akan bekerja keras utk membuat org mencapai bulan adalah pernyataan yg revolusioner, yaitu seseorang yg menolak utk ikut arus dan berperan kecil2an.
Impian Mahatma Gandhi untuk mebebaskan suatu bangsa adalah fantasi dr seorang yg revolusioner yg menolak membiarkan rasa takut memerintahnya.
Tujuan bunda Terresa utk mengeluarkan Calcuta dr garis kemiskinan adalah pandangan revolusioner yg menolak utk mendengarkan para pembantah yg memberitahunya bahwa hal itu tdk dpt dan tdk seharusnya dilakukan.
George Bernard Shaw mengungkapkannya dg sangat baik; "Orang yg berakal sehat akan menyesuaikan diri dg dunia, orang yg tdk berakal sehat berusaha menyesuaikan dunia dg dirinya. Oleh krn itu, semua kemajuan tergantung pd orang yg tidak berakal sehat."
Diambil dr buku DISCOVER YOUR DESTINY (Robin Sharma)
Orang yg berbahagia.
Disebuah pantai tampak seseorang dg baju yg kumal sdg terlelap tidur dg topi menutupi wajahnya, disisinya tergeletak dua batang kail.
Datanglah seorang pelancong dari kota,
"Mengapa engkau tidur?", orang pelancong itu bertanya.. "Bukankah kau lebih baik memancing ikan?"
"Untuk apa?" kata orang tadi.
"Untuk apa?!, ikan itu bisa kau jual, engkau mendapat sejumlah uang. Bila uang itu ditabung, lama2 engkau bisa membeli jaring, menangkap ikan lebih banyak, kemudian membeli perahu motor.Dengan perahu motor itu, lebih banyak ikan bisa ditangkap. Dan akhirnya engkau mendirikan sebuah pabrik pengalengan ikan, engkau bisa menjadi orang kaya. setelah itu engkau bisa bersantai2 ditepi pantai, dan tidur lelap."
"Bukankah sekarang aku sdh bersantai dan tidur lelap??"
Datanglah seorang pelancong dari kota,
"Mengapa engkau tidur?", orang pelancong itu bertanya.. "Bukankah kau lebih baik memancing ikan?"
"Untuk apa?" kata orang tadi.
"Untuk apa?!, ikan itu bisa kau jual, engkau mendapat sejumlah uang. Bila uang itu ditabung, lama2 engkau bisa membeli jaring, menangkap ikan lebih banyak, kemudian membeli perahu motor.Dengan perahu motor itu, lebih banyak ikan bisa ditangkap. Dan akhirnya engkau mendirikan sebuah pabrik pengalengan ikan, engkau bisa menjadi orang kaya. setelah itu engkau bisa bersantai2 ditepi pantai, dan tidur lelap."
"Bukankah sekarang aku sdh bersantai dan tidur lelap??"
Mengumpulkan batu
Seorang pemuda desa ingin mengembara tuk mencari kehidupan yg lbh baik di kota yg jauh dr desanya. Sebelum berangkat, ia berpamitan dan minta petunjuk pada tetua didesanya. Tetua itu menasehatinya untuk mengambil dan membawa setiap batu yg dijumpainya.
Maka berangkatlah ia menuju kota harapannya, dalam perjalanannya yg jauh itu ia selalu ingat nasehat tetua kampungnya itu, dan kalau ia menemui sebuah batu maka batu itu akan diambilnya. Walupun batu yg dibawanya berat, ia selalu membawanya dan mengambil batu2 yg ia temui dlm perjalanannya. Hingga suatu ketika saat ia sdh dekat dg kota tujuannya, karena batu yg dibawanya begitu berat, ia hampir menyerah dan ingin membuang batu2 itu. Tetapi saat teringat nasehat tetua desanya,walau dg hati bertanya2 ia tetap membawa batu2nya itudan melanjutkan perjalanannya.
Ketika pemuda itu tiba ditempat tujuannya, diambillah batu2 tersebut...... dan betapa kagetnya ia melihat batu itu berubah menjadi permata.
Maka berangkatlah ia menuju kota harapannya, dalam perjalanannya yg jauh itu ia selalu ingat nasehat tetua kampungnya itu, dan kalau ia menemui sebuah batu maka batu itu akan diambilnya. Walupun batu yg dibawanya berat, ia selalu membawanya dan mengambil batu2 yg ia temui dlm perjalanannya. Hingga suatu ketika saat ia sdh dekat dg kota tujuannya, karena batu yg dibawanya begitu berat, ia hampir menyerah dan ingin membuang batu2 itu. Tetapi saat teringat nasehat tetua desanya,walau dg hati bertanya2 ia tetap membawa batu2nya itudan melanjutkan perjalanannya.
Ketika pemuda itu tiba ditempat tujuannya, diambillah batu2 tersebut...... dan betapa kagetnya ia melihat batu itu berubah menjadi permata.
#Bacalah semua buku baik yg kau sukai ataupun tidak... karena suatu saat itu akan berguna bagi hidupmu.
Nasib baik nasib buruk siapa yg tahu?
Pada saat pemuda sianak petani itu menggiring masuk kerbau2nya kedalam kandang, ia melihat masih ada salah satu kerbaunya yg belum kembali, maka pergilah ia mencari ke dalam hutan. Sampai beberapa hari pemuda itu tidak kembali kerumah. Maka datanglah tetangga desa untuk menyapaikan perhatian mereka, petani itu hanya bilang, “Nasib baik nasib buruk siapa yg tau?”
Setelah seminggu kemudian, pemuda itu pulang dari hutan dg membawa lembunya yg hilang dan puluhan ekor lembu bersamanya. Mendengar berita itu, para tetangga kembali datang tuk mengucapkan kegembiraan mereka atas pulangnya sianak yg membawa puluha ekor lembu. Si petani itu hanya berbicara, “Nasib baik nasib buruk siapa yg tau?”
Suatu saat ketika pemuda itu menggembalakan kerbaunya, ada seekor kerbau yg mengamuk dan membuat kakinya patah dan harus diamputasi, kembali berita itu menyebar keseluruh desa dan tetangganya kembali berdatangan untuk menyatakan kesedihannya, dan petani itu hanya berkata,”Nasib baik nasib buruk siapa yg tahu?”
Beberapa bulan kemudian tentara pemerintah dating kedesa itu untuk mencari pemuda2 desa untuk dipaksa menjadi tentara . Semua pemuda berbaris disebuah lapangan di desa itu, satu persatu para pemuda itu diperiksa supaya layak atau tidak menjadi tentara. Ketika tiba giliran pemuda buntung itu diperiksa, tentara itu melihat bahwa pemuda itu cacat dan bunting satu kakinya, maka dikembalikanlah pemuda itu pada keluarganya.
YOUR SON
They are the sons and daughters of life who missed her own.
They were born through you, but not from you.
And though they are with, but they were not yours.
You can give your love but not your thoughts.
Because they have a mind of its own.
You may be laying off his body, but not with his soul,
Because of their souls live at home future
Which will not be able to visit you even though in a dream.
You may be like them,
But do not make them like you.
Because life is not receding backs
Or remain silent on the Day yesterday.
You are the bow where your children are like arrows of life glide.
.................................................. .............................
.................................................. ............................
.................................................. ............................
Anakmu bukanlah anakmu
Mereka adalah putra-putri kehidupan yg rindu dirinya sendiri.
Mereka lahir melalui engkau, tapi bukan dari engkau.
Dan meskipun mereka bersamamu, namun mereka bukan milikmu.
Engkau boleh memberikan cinta kasihmu, tapi bukan pikiranmu.
Sebab mereka memiliki pikirannya sendiri.
Engkau boleh merumahkan tubuhnya, tapi tidak dengan jiwanya,
Karena jiwa mereka bermukim dirumah masa depan,
Yang tak akan dapat engkau kunjungi meski dalam mimpi sekalipun.
Engkau boleh menjadi seperti mereka,
Tetapi jangan menjadikan mereka sepertimu.
Karena Kehidupan Tidaklah Surut Kebelakang
Atau berdiam diri dihari kemarin.
Engkau adalah Busur tempat anak-anakmu yang seperti anak panah kehidupan meluncur.
...............................................................................
..............................................................................
..............................................................................
Anak-anak adalah cermin.
Seorang anak kecil berlari dijalan tiba2 berbelok disuatu sudut dan bertabrakan dg seseorang. "Astaga!" kata orang itu. "Mau pergi kemana engkau, begitu tergesa2?"
"Ke rumah," kata anak itu. "Saya tergesa2 karena ibu saya akan menampar saya."
"Apakahengkau begitu senang ditampar, sampai engkau lari ke rumah dengan tergesa2?" tanya orang asing itu keheranan.
"Tidak, tetapi kalau ayah sampai dirumah lebih dulu daripada saya, ia yang akan menampar saya."
Anak-anak adalah cermin.
Kalau mereka berada dalam suasana kasih,
kasih itulah yang mereka pantulkan.
Kalau kasih tidak ada,
mereka tidak mempunyai apapun untuk dibagikan.
"Ke rumah," kata anak itu. "Saya tergesa2 karena ibu saya akan menampar saya."
"Apakahengkau begitu senang ditampar, sampai engkau lari ke rumah dengan tergesa2?" tanya orang asing itu keheranan.
"Tidak, tetapi kalau ayah sampai dirumah lebih dulu daripada saya, ia yang akan menampar saya."
Anak-anak adalah cermin.
Kalau mereka berada dalam suasana kasih,
kasih itulah yang mereka pantulkan.
Kalau kasih tidak ada,
mereka tidak mempunyai apapun untuk dibagikan.
Kebesaran jiwa
Ia menghentikan mobil yg ditumpangi oleh seorang jendral yg mengatakan pada sopirnya untuk tidak mempedulikan penjaga dan terus melarikan mobilnya.
Karena itu, tentara itu maju dg senjata siap ditembakkan dan dengan tenang ia berkata, "Maaf bapak, ini baru bagi saya. Siapa yang saya tembak?, Bapak atau sopir??"
*****************************************************************
Engkau Mencapai Kebesaran,
kalau enGkau tiDak dIrisaukan olEh kedUdukan orang2 yg adA diataSmu
dan kalaU engkau membUat orang2 yg berada dibawahmu tidak merIsaukan kedudukanmU.
Kalau engkaU tidak sombong tehadap orang2 yg rendah
dan tidak rendah dengan orang2 yg sombong.
Langganan:
Postingan (Atom)















